blank
Tangkapan layar Program Unlimited Talks yang digelar pada Rabu, 3 September 2025, menghadirkan diskusi hangat bertema “DNA dan Identitas Pribadi. Foto: tangkapan layar

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Program Unlimited Talks yang digelar pada Rabu, 3 September 2025, menghadirkan diskusi hangat bertema “DNA dan Identitas Pribadi,” dengan pemandu host Unik Oke.

Acara ini menampilkan tiga narasumber lintas profesi: Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, SpF., DFM, yang menjabat sebagai Karo Labdokkes Pusdokkes Polri sekaligus dokter forensik; dr. Irwin Lamtota, M.Ked(OG), SpOG, dokter spesialis kandungan dari RSIA Anugerah dan RSUD Wongsonegoro Semarang; serta Denny Darko, The Celebrity Tarot Reader sekaligus pemerhati perilaku manusia.

Tema ini terasa sangat relevan dengan kasus yang sedang menyedot perhatian publik, yaitu tuntutan selebgram Lisa Mariana yang meminta tes DNA terhadap mantan Gubernur Jawa Barat, Muhammad Ridwan Kamil, untuk membuktikan status anaknya berinisial CA.

Beberapa waktu sebelumnya, Pusdokkes Polri telah menyampaikan hasil pemeriksaan DNA terkait kasus tersebut. Kepala Laboratorium Kedokteran Kepolisian (Karo Labdokkes) Pusdokkes Polri, Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti, mengumumkan secara resmi bahwa Ridwan Kamil bukan ayah biologis dari balita CA.

“Dari pemeriksaan DNA yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut. Separuh profil DNA CA cocok dengan separuh profil DNA Lisa Mariana. Sementara separuh profil DNA CA lainnya tidak cocok dengan separuh profil DNA Muhammad Ridwan Kamil,” ungkap Hastry di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Ia menegaskan bahwa berdasarkan temuan tersebut, hubungan genetik bayi CA hanya terbukti dengan Lisa Mariana sebagai ibu kandungnya. “Dengan demikian, secara ilmiah telah dibuktikan bahwa CA adalah anak biologis Lisa Mariana, bukan anak biologis Muhammad Ridwan Kamil,” ujarnya.

Merespon hasil tersebut, Lisa Mariana menyampaikan sikapnya melalui akun Instagram pribadinya, @lismarianaaa. Ia menulis, “Saya tidak akan membiarkan kecurangan terjadi.”

Dalam diskusi Unlimited Talks, Brigjen Sumy Hastry menjelaskan lebih jauh mengenai pentingnya DNA sebagai identitas biologis yang tidak bisa dipalsukan.

Menurutnya, DNA merupakan singkatan dari Deoxyribonucleic Acid, dan setiap manusia memiliki susunan DNA yang berbeda, kecuali jika ada hubungan biologis seperti orang tua dan anak. Tes DNA, katanya, mampu memberikan kepastian hingga 99 persen dalam berbagai kasus identifikasi, baik untuk kebutuhan hukum, kriminal, maupun medis.

Ia juga menekankan perlunya Indonesia memiliki bank data DNA nasional di masa mendatang, khususnya untuk mengungkap kejahatan seksual. “Kalau ada kasus perkosaan, misalnya, kita bisa mengambil sampel DNA dari tubuh korban lalu mencocokkannya dengan DNA pelaku. Data DNA ini akan sangat membantu proses hukum,” jelasnya.

Dari perspektif medis, dr. Irwin Lamtota menggambarkan DNA sebagai cetak biru kehidupan. “Kalau bahasa awamnya, DNA itu seperti blueprint, susunan kode yang sangat personal pada tiap individu. DNA terbentuk sejak pembuahan, sebagian dari ayah, sebagian dari ibu, membentuk individu baru. Dari DNA itu kita bisa menilai identitas biologis bahkan memprediksi potensi penyakit,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa kesalahan kecil dalam proses pembelahan sel bisa memicu kelainan genetik. Kadang orang tua terlihat normal, namun anak bisa lahir dengan kelainan kromosom seperti sindrom Down karena adanya kesalahan saat replikasi DNA. Bahkan pada kembar identik sekalipun, kata Irwin, selalu ada perbedaan kecil.

Ia juga menyinggung perkembangan teknologi DNA repair yang suatu saat memungkinkan modifikasi DNA untuk mencegah penyakit bawaan, meski masih menyisakan perdebatan etis.

Berbeda dengan dua narasumber sebelumnya, Denny Darko memandang kasus Lisa Mariana tidak hanya sebatas persoalan ilmiah, melainkan juga berkaitan dengan perilaku sosial.

“Kalau melihat tindak-tanduk Lisa sebelum, saat, dan setelah tes DNA, terlihat ada unsur pencarian sensasi. Tes DNA itu mahal dan tidak mudah dilakukan mandiri, sehingga saya rasa ada kepentingan lain yang dimainkan,” ujarnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa perilaku seseorang tidak semata ditentukan oleh DNA. DNA memang membawa informasi dasar, tetapi kepribadian lebih banyak dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman.

“Jadi kalau bicara soal keputusan Lisa menggiring kasus ini ke ruang publik, itu jelas bukan faktor DNA, tapi pilihan pribadi,” katanya.

Diskusi ini ditutup dengan pesan dari masing-masing narasumber. Brigjen Sumy mengimbau masyarakat agar tidak gegabah memperlakukan barang bukti dalam kasus kekerasan seksual, melainkan segera melaporkan agar dapat dilakukan pemeriksaan DNA.

Dr. Irwin mengingatkan bahwa kesadaran masyarakat untuk memeriksa profil DNA akan semakin penting di masa depan demi kesehatan. Sementara Denny Darko mengajak publik untuk tidak menjadikan DNA sebagai alat sensasi. “Hormati hasil ilmiah dan jangan memelintir fakta untuk kepentingan tertentu,” tuturnya.

Perbincangan lintas profesi ini akhirnya membuka wawasan publik bahwa DNA bukan sekadar istilah ilmiah dari laboratorium, melainkan identitas paling hakiki setiap manusia. Dan dalam kasus Lisa Mariana, hasil tes DNA kembali menegaskan satu hal penting: sains bekerja berdasarkan fakta, bukan opini.

wied