
Surplus perdagangan nonmigas sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama yang merupakan komoditas unggulan ekspor Jawa Tengah. Komoditas tersebut adalah pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) (US$1.115,85 juta), pakaian dan aksesorinya (rajutan) (US$921,78 juta), alas kaki (US$830,80 juta), kayu dan barang dari kayu (US$575,16 juta), serta barang dari kulit samak (US$500,08 juta).
Dari sisi negara mitra, periode Januari-Juli 2025, Jawa Tengah mencatat surplus perdagangan nonmigas tertinggi dengan Amerika Serikat (US$2.973,43 juta), Jepang (US$478,19 juta), dan Belanda (US$219,25 juta). Komoditas penyumbang surplus terbesar dengan Amerika Serikat adalah pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan), pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki.
Sebaliknya, masih pada periode Januari-Juli 2025, defisit terdalam perdagangan nonmigas tercatat dengan Tiongkok (US$2.737,28 juta), Hongkong (US$127,08 juta), dan Thailand (US$112,06 juta). Defisit terbesar dengan Tiongkok disumbang oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, dan plastik dan barang dari plastik.
Jawa Tengah kembali mengalami deflasi pada bulan Agustus 2025
BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat terjadinya deflasi sebesar 0,10 persen pada bulan Agustus 2025 (m-to-m). ”Terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,67 pada Juli 2025 menjadi 108,56 pada Agustus 2025”, jelas Endang. Kondisi ini hampir serupa dengan Agustus 2024, dimana juga terjadi deflasi sebesar 0,07 persen. Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 2,48 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 1,39 persen.
Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,63 persen, dengan andil sebesar 0,19persen. Deflasi pada kelompok ini utamanya disebabkan oleh turunnya harga cabai rawit, tomat, telur ayam ras, dan bawang putih. Di sisi lain, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,87 persen dan memberikan andil inflasi 0,06 persen disebabkan oleh kenaikan biaya pendidikan pada tahun ajaran baru, utamanya biaya akademi/perguruan tinggi.
Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 9 kabupaten/kota IHK di Jawa Tengah seluruhnya mengalami deflasi. Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Rembang sebesar 0,20 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Kota Tegal sebesar 0,02 persen.
Nilai Tukar Petani (NTP) naik
BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2025 yang mencapai 116,35 atau naik 0,65 persen dibanding Juli 2025. Kenaikan NTP menunjukkan daya beli petani sedikit membaik. ”Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,55 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,10 persen”, ujar Endang.
Kenaikan NTP tidak terjadi pada semua subsektor pertanian. Hanya subsektor tanaman pangan dan perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya yang mengalami kenaikan. Subsektor lainnya, yaitu hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, dan peternakan justru mengalami penurunan NTP.
Kunjungan wisatawan mancanegara secara kumulatif meningkat
Angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Tengah pada Juli 2025 tercatat hanya 11 kunjungan. Meskipun lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya, secara kumulatif pada Januari-Juli 2025, terjadi peningkatan jumlah kunjungan hingga 1.127,48 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.













