SEMARANG (SUARABARU.ID) – Neraca perdagangan Jawa Tengah kembali menunjukkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat neraca perdagangan barang nonmigas Jawa Tengah mengalami surplus US$1.865,50 juta sepanjang periode Januari hingga Juli 2025, atau naik US$303,09 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, neraca perdagangan migas Jawa Tengah masih mengalami defisit sebesar US$2.919,32 juta. Tren defisit pada sektor ini semakin mengecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, nilai total ekspor sepanjang Januari-Juli 2025 tercatat US$7.027,53 juta, lebih rendah dibandingkan total impor yang mencapai US$8.081,34 juta. Nilai ekspor Januari-Juli 2025 naik 11,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan, peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar US$6.763,92 juta, atau naik 13,01 persen.
Kinerja positif sejumlah komoditas unggulan masih berlanjut sepanjang Januari-Juli 2025. Ekspor pakaian dan aksesorinya (rajutan) mencapai US$927,79 juta, naik 11,77 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor alas kaki naik 9,23 persen menjadi US$877,01 juta. Namun, tidak semua komoditas unggulan mencatat kinerja positif. Ekspor pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) mengalami penurunan sebesar 10,10 persen menjadi US$1.134,28 juta. ”Total ketiganya memberikan share sekitar 42,77% dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah pada Januari-Juli 2025,” jelas Endang, Senin (1/9/2025).
”Tiga besar negara tujuan ekspor Jawa Tengah adalah Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok. Share ketiga negara ini sekitar 59,85 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah pada Januari-Juli 2025”. Amerika Serikat tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Jawa Tengah dengan nilai mencapai US$3.270,18 juta (47,59 persen), disusul Jepang sebesar US$552,23 juta (8,04 persen) dan Tiongkok sebesar US$290,06 juta (4,22 persen). Ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan), pakaian dan aksesorinya (rajutan), serta alas kaki,” terangnya.
Dari sisi impor, nilai total impor Jawa Tengah pada Januari-Juli 2025 mencapai US$8.081,34 juta atau turun 8,33 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama nilai impor ini masih berasal dari sektor nonmigas yang mencapai US$5.005,77 juta, naik 10,41 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada sektor migas, impor mengalami penurunan sebesar 28,18 persen menjadi US$3.075,57 juta. Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor terjadi pada barang modal sedangkan barang konsumsi dan bahan baku/penolong mengalami penurunan.
”Nilai impor bahan baku/penolong, sebagai andil utama penurunan impor, mencapai US$6.815,18 juta atau turun 12,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu”, rinci Endang.
Sepanjang periode Januari-Juli 2025, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Jawa Tengah dengan nilai US$3.027,34 juta (60,48 persen), diikuti Amerika Serikat sebesar US$296,75 juta (5,93 persen), dan Vietnam sebesar US$213,99 juta (4,27 persen). Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.













