
ISTILAH pelet tidak selalu dikaitkan urusan percintaan. Di Jawa Tengah, pelet diartikan motif pada warangka keris. Di sekitar Gunung Muria, pelet digunakan untuk sebutan orang yang berprofesi sebagai penculik anak-anak. Di Banyuwangi, pelet diartikan memikat burung dengan getah pohon. Pada dekade 90-an, mulai marak istilah pelet, yang diidentikkan dengan “memikat hati”.
Ketika itu, kalangan paranormal mulai menunjukkan eksistensi profesiny melalui media. Mereka mengeksploitasi jasa seputar pelet iklan-iklannya yang terkadang disajikan dengan bahasa yang bombastis. Jika menilik istilah pelet, banyak kalangan meyakini, istilah itu terinspirasi nama tokoh Nini Pelet dalam legenda Gunung Ceremai, Kuningan, Jawa Barat.
Perempuan tersebut dikenal hebat, khususnya dibidang percintaan. Nini Pelet adalah tokoh yang merebut kitab “Mantra Asmara” ciptaan tokoh sakti Ki Buyut Mangun Tapa. Salah satu dari isi kitabnya ajian “jaran guyang” yang dikenal ampuh untuk mengikat hati lawan jenis. Ajian itu masih dipelajari sebagian orang, khususnya kalangan paranormal.
Sementara itu, Ki Buyut Manguntapa, pencipta ajian “Jaran Guyang” itu-dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Masyarakat sekitar makam itu meyakini disitu sering muncul harimau siluman yang dipercayai sebagai peliharaan Ki Buyut. Konon, harimau itu sering muncul tengah malam, khususnya malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi.
Kisah Baridin, Suratminah
Di tanah Pasundan-khususnya daerah sekitar Cirebon dikenal banyak menyimpan ilmu pelet. Selain Ki Buyut Mangun Tapa dan Nini Pelet yang kisahnya diangkat ke layar lebar, dikenal cerita asmara “sampai mati” dari Baridin yang dikisahkan terjadi pada masa kolonial Belanda.
Cerita yang dipopulerkan maestro tarling Cirebonan, pimpinan H. Abdul Adjib ini melengenda. Dikisahkan, Baridin itu anak janda miskin asal Desa Jagapura, Gegesik, Cirebon. Baridin jatuh cinta kepada gadis yang tercantik di wilayah Cirebon, bernama Suratminah. Gadis itu putri tunggal duda kaya bernama Bapak Dam, seorang bandar gabah (padi) yang terkenal kaya raya.
Selain kaya, Bapak Dam juga dikenal temperamental. Ketika Mbok Wangsih-Ibu Baridin-datang untuk melamar ke orangtua Suratminah, perempuan itu justru menerima penghinaan dengan kata-kata yang pedas. Lamaran janda miskin itu dianggap Bapak Dam sebagai penghinaan terhadap statusnya sebagai keluarga terpandang.
Mbok Wangsih pun dihina Bapak Dam. Barang-barang yang dibawa saat melamar, pisang muli (pisang emas), kendhi, dan tempayan, dirusak oleh tuan rumah. Mendengar berita itu, Baridin sakit hati. Dia lalu belajar ilmu pelet “jaran guyang” kepada sahabatnya bernama Gemblung.
Untuk menguasai ilmu pelet itu, dia harus puasa ngebleng (tanpa buka jsahur) selama 40 hari 40 malam. Dan karena dendamnya atas perlakuan Bapak Dam terhadap Ibunya, dan Baridin bersumpah tidak akan pernah ada makanan menyentuh tenggorokannya sebelum Suratminah gila karena pengaruh peletnya.
Dengan tirakat itu, Baridin agar Suratminah datang dan mengemis cintanya. Hingga hari yang ke-39, Baridin belum melihat tirakatnya berhasil. Semula, dia hampir putus asa. Ternyata, pada hari yang yang ke-40, Suratminah mendatanginya yang saat itu sedang di sawah. Anak petani miskin itu telanjur sakit hati akibat penghinaan yang dilakukan ayah Suratminah terhadap ibunya.
Cinta yang pernah diharapkan sudah berubah menjadi dendam membara. Ketika kedatangan Suratminah ditolak oleh Baridin, gadis itu berkata, jika tidak dinikahi Baridin, dia rela mati. Namun, Bapak Dam malu karenai anaknya mendatangi Baridin. Dia mengejar Suratminah dan menarik anaknya.
Suratminah terjatuh dan meninggal mendadak di depan Baridin. Melihat itu, Baridin menyesal, bahkan tak lama kemudian, dia menyusul mati karena cintanya kepada Suratminah. Ajian jaran guyang yang dipelajari disetiap wilayah, walau yang versinya berbeda-beda. Ada ajian jaran guyang versi Cirebon, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Banyuwangi), dan Bali. Bahkan, tanah Papua pun mengenal ajian pelet ini.
Baca juga Mengenali Pelet, Benarkah Ia Ada?
Setiap Ajian mantra dan laku batinnya berbeda walau tujuannya sama-sama untuk memikat hati. Ajian jaran guyang versi Cirebon (yang digunakan Baridin) aslinya disertai dengan melakukan puasa ngebleng atau tidak makan minum 40 hari 40 malam. Tentunya, kalau ukuran zaman sekarang, hal itu termasuk tirakay yang berlebihan.
Padahal, jika reaksinya sudah tampak, tirakatnya sudah boleh dihentikan meski belum genap 40 hari. Dalam kisah Baridin, yang melakukan tirakat 40 hari 40 malam, itu kalangan pinesepuh di Cirebon meyakini hal itu karena ada alasan tertentu. Termasuk yang diyakini jika pada hari ketujuh (seminggu setelah tirakat), Suratminah itu sudah terpengaruh pelet yang dikirim Baridin.
Saat Suratminah masih bertahan dengan rasa malu karena dia menolak Baridin dan juga mengingat statusnya sebagai anak orang terpandang. Sebagai perempuan tercantik di wilayah Cirebon, tentu saja logis jika berpikir 100 kali untuk mendatangi lelaki dari kalangan miskin yang sehari-hari di sawah. Nggak level, kata anak zaman sekarang.
Menolak Secara Halus
Namun, ketika Suratminah sudah tidak kuat menahan pelet yang sudah merasuk jiwa raganya, dia tidak mampu mengendalikan diri. Dia lalu mencari Baridin, namun tidak bertemu. Pada saat bersamaan, Baridin menganggap tirakatnya belum berhasil sehingga dia meneruskan tirakatnya hingga 40 hari 40 malam.
Tragisnya, pertemuan keduanya berujung dengan kematian di kedua pihak. Masyarakat Cirebon dan sekitarnya, dan kita semua, bisa mengambil hikmah kisah Baridin dan Suratminah. Yaitu, jika terpaksa harus menolak cinta lawan jenis, dicintai, sebaiknya wanita atau keluarga menolaknya halus.
Hindari perilaku yang menyebabkan ketersinggungan. Bentuk penolakan yang “kasar” itu menimbulkan sakit hati sehingga pihak yang ditolak cintanya dapat melampiaskan sakit hatinya dengan segala cara, termasuk dengan pelet atau cara mistis lainnya. Selesai













