blank
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat ketika membuka pintu rumah warga yang akan dibangun dari dana Bazdes Mergosari. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO  (SUARABARU.ID)-Inisiasi Pemerintah Desa Mergosari Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo dalam membentuk Badan Amil Zakat Desa (Bazdes) di daerahnya rupanya patut diapresiasi.

Betapa tidak? Desa yang sebagian warganya berprofesi sebagai petani ini, kini memiliki lembaga filantropi yang bisa membantu warga kurang mampu atau kaum dhuafa keluar dari jerat kemiskinan.

Baca Juga Investasi Masa Depan, Anak Harus Sehat Bahagia dan Merdeka

Bahkan, bisa jadi Basdes di Desa Mergosari ini merupakan satu-satunya di Indonesia. Di Wonosobo sendiri, dari 265 Desa/Kelurahan, belum ada lembaga Bazdes sejenis selain di desa penghasil salak pondoh dan durian itu.

Kepala Desa Mergosari Sukoharjo Slamet Supriyono, Senin (11/8/2025), mengatakan lembaga amil zakat di desanya didirikan pada 22 Desember 2022 lalu ketika dirinya baru terpilih sebagai Kepala Desa.

Baca Juga Piala Pak Wan 2025 Silaturahmi Lintas Generasi di Gantangan Lindu Aji BC

“Ide itu berawal dari pengalaman gerakan kotak amal pada mobil operasional agen Gas Elpiji. Dari 21 kotak amal yang diletakkan di mobil operasional tersebut, ternyata mampu menghimpun dana Rp 10 juta dalam satu bulan,” kisahnya.

Mas Supri-demikian Slamet Supriyono kerap disapa-sebelum menjadi Kepala Desa Mergosari memang merupakan seorang pengusaha Agen Gas Elpiji di Wonosobo. Dia pun saat itu menghimpun amal dari sesama pemilik Agen Gas Elpiji untuk membantu warga kurang mampu.

Baca Juga Cara Kreatif Mahasiswa KKN Unisnu Jepara dalam Membuat Sabun Cuci Piring

“Dari situ, saya lalu terpikir untuk melakukan gerakan amal yang sama melalui Pemerintah Desa Mergosari dengan membentuk Bazdes. Alhamdulillah, masih tetap berjalan hingga saat ini,” ujar Mas Supri.

Dia pun menggerakkan kader IPNU-IPPNU setempat dan Tim Penggerak PKK Desa untuk mengoperasionalkan program Bazdes. Setiap rumah diberi kaleng Bazdes Desa Mergosari untuk diisi warga saban harinya. Dana Bazdes ini dari warga untuk warga pula.

“Ngisi kalengnya bebas. Tidak diberi ketentuan rupiah. Mau Rp 500 monggo. Mau Rp 1.000 hingga Rp 10 ribu ya silahkan, yang penting tiap hari diisi untuk diambil petugas. Ada juga yang sampai mengisi Rp 50 ribu-Rp 100 ribu,” ujarnya.

Baca Juga Sambangi Jepara Teater Jaten Batang Membawa Naskah “Leng”: Kisah Hilangnya Tanah Kelahiran

Melalui penggalangan dana lewat Bazdes tersebut, di hari pertama petugas mendapatkan dana Rp 14 juta. Sebuah pencapaian yang luar biasa karena di Desa Mergosari rata-rata warganya kelas menengah ke bawah.

Baca Juga Wakil Rakyat Nilai Kinerja Pemkab Wonosobo tahun 2024 Tunjukan Capaian Positif

Bantu Pemerintah

blank
Kepala Desa Mergosari Sukoharjo Wonosobo Slamet Supriyono ketika menyerahkan dana Bazdes untuk program RTLH bagi warganya. Foto : SB/Muhano Zarka

“Uniknya, yang menitipkan sedekah melalui Bazdes, tidak hanya warga yang tinggal di rumah. Sebab, beberapa warga yang merantau di luar kota, luar Jawa hingga luar negeri, juga ikut transfer mengisi kaleng Bazdes,” terangnya, bangga.

Bahkan, khusus kontribusi pekerja migran, per-tahun bisa terkumpul Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Di Desa Mergosari tercatat ada sekitar 180 warganya yang bekerja sebagai TKI di berbagai negara di luar negeri.

Menurut Mas Supri, dalam satu kali pengambilan kaleng bisa terkumpul Rp 8 juta sampai Rp 10 juta. Dana tersebut dibagi 80 persen untuk Bazdes, 10 persen untuk operasional pengelola, 5 persen untuk ATK dan 5 persen untuk MWC NU Kecamatan Sukoharjo.

Baca Juga Angkat Ikon Lokal dan Warisan Budaya, Wonosobo Tampil Memukau di Jember Fashion Carnaval 2025

“Uang yang terkumpul lewat Baznes dimanfaatkan untuk membantu warga kurang mampu. Ada yang disalurkan untuk program pembangunan RTLH, beasiswa anak sekolah dan santri, santunan anak yatim piatu, janda dan kaum dhuafa lainnya,” papar Mas Supri.

Kini, karena keberhasilan mengelola dana Bazdes, Desa Mergosari termasuk desa mandiri. Warga kurang mampu yang membutuhkan bantuan sudah bisa dibantu oleh warga setempat yang berkontribusi mensedekahkan sebagaian hartanya lewat Bazdes untuk mereka yang membutuhkan.

Keberadaan Bazdes di Desa Mergosari mendapatkan perhatian khusus dari Bupati Afif Nurhidayat dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Wonosobo. Mereka beberapa waktu berkesempatan menyerahkan dana bantuan RTLH ke warga yang membutuhkan.

Afif Nurhidayat menyebut upaya Desa Mergosari membentuk Bazdes perlu ditiru oleh desa lainnya. Gerakan sosial tersebut ternyata mampu ikut mengentaskan kasus kemiskinan ekstrem yang ada di Wonosobo.

“Ini merupakan sebuah inisiasi yang baik. Masyarakat ikut bertanggungjawab terhadap kondisi warga kurang mampu di sekitarnya yang sangat membutuhkan bantuan. Pemerintah sangat diuntungkan dari gerakan zakat yang ada di masyarakat ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Baznas Kabupaten Wonosobo Priyo Purwanto juga ikut mengapresiasi kemandirian Desa Mergosari melakukan gerakan dan menyalurkan dana zakat secara mandiri.

“Siapapun bisa menjadi amil zakat. Baik pemerintah desa, organisasi keagamaan, lembaga sosial dan institusi pendidikan bisa menghimpun dana zakat dari masyarakat. Semakin banyak pihak yang bergerak di penggalangan dan penyaluran dana zakat, maka akan semakin baik,” tandasnya.

Muharno Zarka