blank
Alvin Putra Sisdwinugraha, Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR. Foto: Dok/IESR

IESR menyoroti melimpahnya bahan baku silika, ketersediaan tenaga kerja, kawasan industri, dan potensi energi terbarukan dapat menekan biaya produksi polisilikon yang saat ini dapat mencapai USD 8-9 per kilogram.

Di sisi hilir, Indonesia sudah memproduksi sel dan modul surya. Kapasitas produksi modul dalam negeri saat ini mencapai 10,6 GW, sementara sel surya 9,5 GW. Namun, utilisasi dari kapasitas produksi pabrik masih cukup rendah akibat rendahnya permintaan dalam negeri. Selain itu, masih dibutuhkan peningkatan efisiensi dan penguatan ekosistem industri.

“Pengalaman industri sel dan modul surya domestik memproduksi dalam skala gigawatt adalah peluang besar. Minat investasi di sektor sel juga cukup tinggi. Produksi modul memiliki modal awal yang lebih rendah dan dapat diperkuat dengan ketersediaan industri penunjang seperti aluminium dan kaca, serta tren ekspor yang terus meningkat,” ungkap Alvin.

Kajian ini merekomendasikan agar pemerintah memperkuat fondasi industri fotovoltaik nasional melalui penetapan peta jalan strategis dan pembentukan kelompok kerja lintas sektor, sebagai langkah konkret harmonisasi kebijakan investasi, industri, dan proyek strategis energi surya seperti green corridor ke Singapura.

Di tingkat regional dan industri, Indonesia perlu menginisiasi kerja sama dalam kerangka AFTA, mempercepat otomasi manufaktur untuk kesiapan ekspor, mendorong pembangunan pusat riset dan pengembangan (R&D) terpadu, hilirisasi bahan mentah, serta pembiayaan dari lembaga keuangan nasional guna mengejar status tier-1. Penanaman modal asing diarahkan untuk mendukung alih teknologi melalui lisensi dan kerja sama inovasi.

Seluruh inisiatif ini dapat diintegrasikan melalui pembentukan konsorsium nasional, sebagai wadah sinergi dari hulu ke hilir untuk membangun industri surya yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.

Ning S