(SUARABARU.ID) – Di era sekarang, tantangan sosial seperti bullying (perundungan) bukan hal yang asing terutama di kalangan anak-anak dan remaja.
Bentuknya beragam, bisa berupa perundungan verbal, fisik, hingga relasional, atau pun di dunia maya dan dampaknya tak jarang membekas cukup dalam.
Perundungan umumnya terjadi karena perbedaan dalam hal fisik, kemampuan, atau latar belakang.
Pengalaman itulah yang membuat Jeremy Melvin Hartono memilih jalan berbeda.
Melvin menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri lewat Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Melvin (9), siswa kelas 5 SD, mulai menekuni kareta sejak usia 5 tahun.
Saat ini dia memegang sabuk cokelat setrip.
Dia aktif berlatih di Dojo GBI Lamptera dan RRI Semarang di bawah arahan Sensei Gunawan Wijaya.
Dari 4 kejuaraan yang telah diikuti, Melvin selalu menunjukkan performa bagus, dan meraih juara kedua antar-dojo Se-Jateng pada usia 7 tahun.
Pada Kejurnas Kyokushinkai 2025 Juli lalu di Semarang, dia menjadi juara ketiga kelas pra-yunior untuk kategori kumite dan kata.
Kumite adalah simulasi tanding langsung antar-dua karate.
Di sini, anak belajar keberanian, kecepatan, kontrol, dan sportivitas saat menghadapi lawan.
Sementara Kata adalah seni jurus untuk melatih fokus, disiplin, dan ketepatan teknik.
’’Saya mulai mantap belajar karate karena dulu pernah mengalami perlakuan yang membuat saya takut, trauma, dan sedih. Sejak berlatih karate, saya merasa lebih percaya diri dan lebih berani,’’ ungkap Melvin.
Atas saran kedua orang tuanya, Mulyadi Hartono dan Wicke Arinta, dia bersama kakaknya, Ribka, sama-sama berlatih karate Kyokushinkai di Dojo GBI Lamptera dan RRI Semarang di bawah asuhan Sensei Gunawan Wijaya.
Sebagai orang tua, Mulyadi dan Wicke menyadari bahwa tantangan zaman sekarang tak cukup dihadapi dengan nilai akademik semata.
’’Awalnya kami ingin Melvin punya cara untuk melindungi diri, tapi makin ke sini kami melihat karate justru membentuk karakternya. Mereka belajar disiplin, rendah hati, dan menghargai lawan. Bahkan, mentalnya jauh lebih tangguh,’’ tutur Wicke.
’’Karate bukan soal kekerasan, melainkan tentang pengendalian diri, keberanian, dan kejujuran. Karate sangat cocok untuk pembentukan karakter sejak dini,’’ paparnya.
Melvin mengaku terinspirasi oleh filosofi Kyokushinkai, yakni Teguh, Tegak, Tegar.
Dia ingin menjadi juara sejati, bukan hanya di atas matras tapi juga dalam kehidupan.
’’Sensei Gunawan Wijaya adalah panutan saya,’’ kata Melvin.
Semasa muda, Sensei Gunawan dikenal sebagai petarung tangguh yang sulit ditaklukkan.
Sensei Gunawan juga sangat disiplin dan perhatian.
’’Saya percaya Sensei Gunawan bisa membimbing saya untuk terus berkembang,’’ tandasnya.
Anak bertampang kalem ini lalu bercerita sambil berkata, ’’Teman yang dulu mem-bully kini tak berani menyentuh saya lagi.’’
Melvin berlatih setiap Senin dan Jumat.
Baik Hartono maupun Wicke mendukung penuh karena melihat manfaat besar dalam perjalanan karate Melvin.
’’Kami ingin membimbing Melvin sukses dalam studi dan karate. Dia punya cita-cita besar, yakni ingin sekolah di Swiss. Dia mau menjadi pribadi yang kuat, tak mudah menyerah tapi rendah hati,’’ tegas Wicke.
mm













