blank
Roni Lantang.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Bagi Roni Lantang profesi sebagai pengukir merupakan pilihan hidup. Pria yang telah mulai mengukir sejak sekolah dasar ini tidak peduli seni ukir di Jepara dianggap telah surut atau bahkan dikatakan mati pelan-pelan.

blank
Nasi Bungkus karya Roni Lantang yang berbahan kayu.

Roni sejak kecil sudah dikenalkan dengan alat ganden dan tatah (peralatan untuk mengukir) yang kemudian berguru kepada beberapa maestro ukir di Jepara. Dia pernah berguru di Sanggarnya Pak Tomo, kemudian di tempat Pak Suhud di Desa Sukodono.

Selain mengukir dan mematung Roni juga berkarya melalui kanvas berbentuk ukisan. Saat ini dia bekerja di gallery Sutrisno Senenan dan karya-karyanya bisa dinikmati melalui blogspot pribadinya ‘Jepara carver’.

Di tangan prila kelahiran Kecapi Grobogan, Kabupaten Jepara ini banyak karya ukir yang telah dihasilkan. Beberapa masterpiecenya berjudul ‘Nasi bungkus’, ‘Stagnan’, ‘Jiwa yang terbakar’, ‘Penjara jiwa, hingga ‘Tanpa Judul.

Ditemui suarabaru.id dalam acara lelang karya ukir Jepara di Gallery Waloeyo Hadi, Bapangan, belum lama ini pria bernama asli Syaroni ini juga mengungkapkan kegelisahannya serta harapannya terhadap seni ukir di Jepara.

blank
‘Kacang’ karya Roni Lantang.

“Bagi saya seni ukir di Jepara tidak akan pernah mati!”, ujarnya sambil memahat kayu yang akan dibentuk menjadi sebuah karya.

“Saya katakan demikian karena sampai dengan hari ini masih banyak muncul karya-karya seniman Jepara yang dicari banyak orang”, terang alumni jurusan patung Institiut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

“Maestro seni ukir Jepara masih sangat banyak, namun mereka tidak ingin diekspose media karena mereka memilih berkarya dan tidak ingin viral. ada Mas Sutriso, Pak Suhartono dengan karya “Perang Jawa” dan “Perang Bharatayudda” nya, ada Mas Agus Riyadi dll”, beber Roni.

Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, menurut pria lulusan SMIK Jepara tahun 1993 ini, seniman ukir Jepara memang harus dituntut untuk terus bekarya meskipun tidak ada pesanan.

“Berkarya personal, bukan pesanan. Tapi seniman ukir seperti itu ya memang sudah sangat jarang, ora kuat ngelih”, imbuhnya, sambil tertawa.

Namun bagi Roni Lantang, dia tidak bisa menyalahkan para pengukir yang beralih profesi karena kebutuhan.

“Profesi tukang batu saat ini lebih menjanjikan daripada tukang ukir. Namun saya tetap optimis dengan masa depan seni ukir Jepara”, lanjut ayah dari Lantang Acarya ini.

Menurutnya peran pemerintah memang harus lebih care dengan para seniman ukir.” Istilah seniman ukir lebih bisa mengangkat harkat martabat daripada istilah buruh ukir”, pungkasnya.

Roni juga menginformasikan terkait rencana bersama para seniman Jepara menggelar Art exibhition dengan tema ‘Tilik Segoro Lor’.
Sebuah gelaran event pameran seni rupa yg menihilkan proses pengkaryaan. Event Tilik Segoro Lor akan digelar di Pantai Tambakrejo, Mulyoharjo Jepara pada 24-26 Agustus 2025.

ua