blank
Wali Kota Damar Prasetyono menggedon balita pada program 'Wali Kota Merangkul'. (Bag Prokompim, Pemkot Magelang)

 

MAGELANG (SUARABARU.ID) – Pemkot Magelang menunjukkan komitmennya  melibatkan seluruh unsur dalam setiap program yang diusung. Salah satunya, program “Wali Kota Merangkul”.

 

Program ini menjadi ruang interaktif antara kepala daerah dan warga khususnya para orang tua untuk berdialog, belajar bersama dan mencari solusi atas berbagai tantangan pengasuhan dan sebagainya.

 

“Wali Kota Merangkul” digelar rutin sesuai tema atau isu strategis lainnya di wilayah ini. Kali ini, mengangkat “Kelas Orang Tua Hebat Bersama Wali Kota Bergerak Bersama Mencegah Stunting” di Pendapa eks BPLK Kemenkeu RI Alun-alun Magelang, baru-baru ini.

 

Kegiatan dihadiri Wali Kota Magelang Damar Prasetyono sebagai narasumber utama, Wakil Wali Kota Magelang dr. Sri Harso, Ketua TP PKK Kota Magelang Nanik Damar Prasetyono, Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang dr. Istikomah dan sejumlah kepala OPD terkait.

 

Sebagian peserta adalah para orangtua, pendamping, kader posyandu dan sebagainya.

 

Damar mengatakan, tema ini diangkat karena stunting masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, tak terkecuali di Kota Magelang. Secara nasional, prevalensi stunting mencapai 19,8 persen. Sementara di Kota Magelang mencapai 15,3 persen atau sekitar 512 anak.

 

Maka Pemkot Magelang melakukan berbagai intervensi dan mengerahkan semua sektor untuk menekan angka stunting.

 

“Kami mendorong intervensi model ‘keroyokan’. Setiap organisasi perangkat daerah (OPD), pelaku usaha dan warga harus ikut serta,” katanya.

 

Damar menjelaskan, anak-anak yang berpotensi mengalami stunting akan dikelompokkan berdasarkan wilayah atau kelurahan masing-masing. Ini akan mempermudah dalam penanganan cepat kasus stunting.

 

Pendataan yang lebih detail dilakukan terhadap balita, ibu menyusui (busui), dan ibu hamil (bumil) sebagai kelompok sasaran utama.

 

“Data ini penting untuk mempermudah intervensi status gizi secara spesifik di suatu wilayah oleh puskesmas dan posyandu maupun para pendamping,” imbuhnya.

 

Di sisi lain, Damar juga menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Masyarakat diharapkan saling memperhatikan kondisi anak-anak dan ibu hamil di sekitarnya, serta segera melaporkan jika ditemukan tanda-tanda stunting.

 

Tak hanya itu, lanjut Damar, peran seorang bapak juga diperlukan dalam merawat tumbuh kembang anak.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang, dr Istikomah menekankan, pencegahan tetap menjadi strategi utama. Namun, untuk kasus yang sudah terjadi, pihaknya melakukan intervensi konvergensi. Yaitu pendekatan lintas sektor yang mencakup gizi, kesehatan, lingkungan hingga edukasi.

 

Sebab, kata dia, tidak semua anak stunting sama penyebabnya. Ada yang karena gizi buruk, penyakit kronis, sanitasi buruk atau faktor lain.

 

“Karena itu kami lakukan asesmen terlebih dahulu untuk menentukan jenis intervensinya,” jelas Istikomah.

 

Intervensi yang dilakukan meliputi pemberian makanan tambahan, pemeriksaan kesehatan, perbaikan akses air bersih, edukasi pola asuh hingga rujukan medis jika dibutuhkan. Bahkan, CSR dari sektor swasta turut digalang untuk membantu memenuhi kebutuhan anak-anak terdampak. (prokompimkotamgl)