blank
Almarhum Rameli yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Leo.

Oleh : Aris Puji Astuti

Kepergianmu menyisakan duka yang mendalam bagi kami. Jepara tidak hanya kehilangan pengukir hebat, tapi juga kehilangan ruh dari keindahan seni yang kau hidupkan lewat sentuhan jemarimu. Ukiran-ukiranmu bukan sekedar hiasan kayu, tapi merupakan sebuah kisah, jiwa dan warisan yang tak lekang oleh waktu.

Ceritamu, kayu pun punya suara bila kita mau mendengarkan. Dirimu menyatu dengan setiap pahatan, memberi kehidupan pada kayu yang beku menjadi barang penuh makna. Tak terhitung berapa banyak seniman muda kau bimbing, tanpa pamrih , dengan sabar dan penuh cinta.

blank
Bang Leo Ramli saat mengerjakan ukiran.

Dalam setiap lekuk ukiran, dalam tiap mata pahat, kami akan menemukan jejakmu. Pahatan di istana- istana megah mengalunkan puji – pujian seraya berdoa pada sang Pencipta mengiringi kepergianmu.

Bang Leo, engkau bukan hanya seorang seniman, engkau sahabat yang hangat, pribadi yang rendah hati, dan panutan sejati bagi komunitasmu. Tak hanya tentang kebangkitan perajin  ukir yang menjadi harapanmu dan doamu, tetapi juga dengan penuh semangat kau selalu  mengisahkan  kehebatan RA Kartini, RMP Sosrokartono dan bahkan  Ratu Kalinyamat. Tujuannya  agar kita bersedia meneladani gagasan dan semangatnya. Juga tentang Pancasila yang semakin jarang terdengar.

blank
Bang Leo Ramli ( kedua dari kiri) saat menerima penghargaan pelestari ukir dari Bupati Jepara.

Bang Leo sahabatku, rasanya baru kemarin  engkau bercerita tentang kepergian adikmu, tentang adik perempuanmu yang pergi ke tanah suci yang tak sempat mengantar saudaranya ketempat peristirahatan yang terakhir. Juga tentang kematian. Maafkan aku,  tak mampu membaca firasat itu.

Aku katakan padamu bahwa lahir, mati sudah dijadwalkan oleh sang pencipta, semoga Allah memanggil kita di saat  yang tepat. Ternyata panggilan  untukmu sudah demikian dekat.  Allah memanggilmu saat subuh, Sabtu 12 Juli 2025.

blank
Leo Ramli saat menjadi panitia lomba ukir tahun 2024

Sahabatku semoga damai menyertaimu di keabadian. Terima kasih kita pernah saling kenal. Terima kasih atas warisan keindahan yang kau tinggalkan. Namamu akan selalu terpahat di hati kami.

Selamat jalan- maestro sejati. Kami bersaksi kamu orang baik dan tentu  surga nan abadi  telah menantimu.

Penulis adalah guru SMPN 3 Kembang