blank
Tim PKM USM baru-baru ini melakukan pengangkatan air dengan pompa hidram, di Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung. Foto: dok/usm

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Semarang (USM), belum lama ini melakukan pengangkatan air dengan pompa hidram, di Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung.

Kegiatan itu dilakukan, setelah melihat kebutuhan air di lokasi itu. Tenaga ahli sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) USM, Prof Dr Ir Mudjiastuti Handajani MT menjelaskan, kegiatan pengangkatan air itu dilakukan dengan melihat kebutuhan masyarakat setempat.

”Setiap kali musim kemarau, sejumlah masyarakat di daerah atas, terpaksa membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara daerah di bawahnya, air melimpah. Karena itu, USM berusaha membantu masyarakat dengan pengangkatan airnya,” jelasnya.

BACA JUGA: Tim MBKM KKN USM Beri Coaching Clinic Public Speaking pada Pemandu Wisata

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Teknis yang juga tenaga ahli bidang Teknik Elektro USM, Satria Pinandita MEng menambahkan, pengangkatan air itu dengan menggunakan teknologi hidram.

Hidram merupakan pompa air tanpa listrik, yang bekerja dengan menggunakan energi dari aliran air itu sendiri. Pompa memanfaatkan air dengan ketinggian enam meter untuk memompa sebagian air ke tempat lebih tinggi, dengan ketinggian 190 meter, sejauh 2.000 meter. ”Pompa ini bekerja secara otomatis, hanya mengandalkan energi gravitasi air,” kata Satria.

Tim pengangkatan air dari USM ini, terdiri dari Ketua, Satria Pinandita MEng, anggota Prof Dr Ir Mudjiastuti Handajani MT, Dr Sri Syamsiah LS MSi, Sinta Pramucitra MIKom dan Andi Nurcahyo MPd. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara USM dan PT Dipa Konsultan Utama serta PT JPEN.

BACA JUGA: Mahasiswa Prodi Pariwisata USM Praktikum di Tracking Mangrove Grand Maerakaca PRPP

Lebih lanjut Satria menyebutkan, sistim ini bekerja dengan menggunakan dua pompa hidram, yang dirancang untuk menghasilkan aliran air agar stabil dan efisien, dengan menggabungkan dua katup buang, satu ruang hampa, serta satu tabung stabilizer.

Masing-masing pompa hidram bekerja berdasarkan prinsip water hammer, yaitu tekanan balik akibat tertutupnya katup buang secara tiba-tiba, yang mendorong sebagian air masuk ke saluran output melalui ruang hampa atau ruang udara tekan.

Kedua pompa diatur secara paralel, sehingga output air dari masing-masing pompa diarahkan menuju satu tabung stabilizer.

BACA JUGA: Perenang USM Raih 2 Perak dan 1 Perunggu di Pomprov Jateng 2025

”Pada bagian inlet tabung stabilizer dipasang klep satu arah, yang berfungsi untuk mencegah tekanan air yang telah masuk ke dalam tabung stabilizer kembali ke pompa hidram. Ini penting untuk menjaga, agar tekanan dalam sistim tetap satu arah, serta mencegah gangguan jika salah satu pompa berhenti bekerja,” ujar dia.

Disampaikan juga, tabung stabilizer itu memiliki karakteristik khusus, yang memungkinkan beberapa input dari keluaran pompa hidram masuk secara bersamaan. Sehingga tekanan dari masing-masing pompa dapat dikonsolidasikan di dalam tabung itu.

Di dalam tabung sendiri terdapat ruang udara, yang membantu menyerap lonjakan tekanan dari pompa, dan mengubahnya menjadi aliran air yang lebih halus dan stabil.

BACA JUGA: Atlet USM Bawa Pulang Medali Perak dan Perunggu dari Cabor Atletik Pomprov 2025

”Setelah tekanan terkumpul, air didorong keluar melalui pipa output yang juga dilengkapi dengan klep satu arah, pada bagian outlet. Hal ini agar tekanan dari saluran distribusi tidak kembali ke dalam tabung. Konsep ini memungkinkan volume air yang didorong ke titik distribusi menjadi lebih besar dan stabil, bila dibandingkan dengan sistim pompa hidram konvensional yang bekerja secara individual,” ungkapnya.

Menurutnya, proses penggabungan tekanan dari beberapa pompa dalam satu tabung stabilizer, dan pemanfaatannya untuk meningkatkan volume output air, merupakan teknologi baru yang inovatif.

Sistim itu saat ini sedang didaftarkan sebagai paten sederhana oleh USM, sebagai solusi teknis untuk meningkatkan kinerja pompa hidram, khususnya pada wilayah dengan kebutuhan distribusi air bersih dan irigasi yang tinggi.

”Kesimpulan penting dari penggunaan tabung stabilizer ini adalah, kemampuannya menjaga konsistensi aliran, mengoptimalkan tekanan air, meningkatkan efisiensi sistim paralel, serta memperbesar volume air yang dapat didorong ke elevasi lebih tinggi, atau jarak yang lebih jauh. Ini menjadikannya sebagai salah satu pengembangan teknologi tepat guna yang sangat potensial, untuk daerah pedesaan dan terpencil,” tandasnya.

Riyan