blank
Masyarakat Kampung Bibis Kulon, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, menggelar Wayangan Suran sehari semalam, menampilkan empat dalang. Event ini, sekaligus untuk memeriahkan tradisi Merti Desa.(Dok.Ist)

SOLO (SUARABARU.ID) – Wayangan Suran, digelar sehari semalam untuk mapak warsa enggal (menyambut tahun baru) Bulan Sura Tahun Dal 1959 Jawa (2025 Masehi) Windu Sancaya di Kota Bengawan. Event wisata budaya ini, diselenggarakan oleh masyarakat Kampung Bibis Kulon Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Pentas wayang kulit menampilkan empat orang dalang ini, sekaligus untuk memeriahkan tradisi Merti Desa (Bersih Desa) yang dikemas dalam tajuk Tirta Suci Nyawiji (air suci yang menyatukan). Diawali tampilnya duet dalang Ki Wasito Jati SSn dan Ki Pujiono SSn, kedua seniman dalang ini akan memulai mendalang di pentas pakeliran wayang purwa Kamis malam nanti ( 26/6/25). Kedua dalang bergelar sarjana seni ini, akan menyajikan Lakon Wahyu Purbo Laras.

Kemudian dilanjut Jumat besok (27/6/25), oleh dalang remaja Uwais Al Rifqi Saputra dengan Lakon Dewa Ruci, dan dalang Ki Hendra Christa P, SSn dengan Lakon Sri Mulih. Pagelaran wayang kulit ini, sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya peninggalan nenek moyang, karena wayang purwa Indonesia oleh UNESCO diakui sebagai warisan budaya dunia.

Kepada awak media, Ketua Panitia Merti Desa Bibis Kulon-2025, Tulus Wibowo, mengatakan, tradisi Merti Desa ini diikuti warga dari RW 016 sampai RW 021. Kegiatannya diawali Kamis pagi (26/6/25) dengan kerja bakti gotong royong masyarakat nguras atau nawu (membersihkan air) Sendang Panguripan yang merupakan Situs Pedahyangan (tokoh leluhur pendiri kampung) Mbah Meyek.

Tradisi nawu air Sendang Mbah Meyek ini, diawali dengan saling melempar uang koin ke perairan sendang (sumber air). Sebelum kemudian dilakukan pengurasan. Warga berebut memperoleh gebyuran air dan mendapatkan uang koin, yang diyakini akan sarana mendapatkan berkah keselamatan, kesehatan dan kebaikan dalam kehidupannya. Beberapa warga, ada yang kemudian membawa air Sendang Mbah Meyek dibawa pulang, untuk dibagikan kepada anggota keluarga yang berada di rumah.

Leluhur

Ritual nawu sendang ini, diawali dengan caos dahar (memberikan sesaji) kepada para leluhur pendiri kampung di tujuh lokasi situs bersejarah. Itu dilakukan sejak sebelum matahari terbit. Yakni sebelum gotong royong kerja bakti nawu sendang dilakukan. Kmeudian, Kamis sore (26/6/25), masyarakat beramai-ramai menggelar kenduri selamatan secara massal. Ini sebagai bagian manifestasi wujud syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berkah. Dalam Tradisi Merti Desa ini, masyarakat Kampung Bibis Kulon juga menggelar pawai budaya.

Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Merti Desa atau Bersih Desa, merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. Yang keberadaannya, tertuliskan dalam Buku Ensiklopedi Kejawen berjudul ‘Bauwarna Adat Tata Cara Jawa,’ karya Drs R Hamanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta-2000).

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, menyatakan, Merti Desa dituliskan pada Buku Satu di halaman 123. Disebutkan, Merti Desa, merupakan kegiatan bersama yang dilakukan masyarakat desa, untuk menghormat dan mengenang serta memelihara desanya. Yakni sebagai wujud syukur yang diadakan setiap setahun sekali. Biasanya, dilaksanakan seusai musim panen bagi kaum agraris yang mata pencahariannya bercocok tanam.

Ketika masyarakat kampung perkotaan seperti di Bibis Kulon, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, juga menggelar tradisi Merti Desa, ini kiranya menjadi pemahaman tentang keyakinan yang multi dimensional.

Meski bukan warga pedesaan, tapi warga Bibis Kulon peduli untuk ikut memetri (melestarikan) tradisi dan budaya nenek moyang. Yang eksistensinya, ikut memberikan warna dalam mendukung serta melengkapi khasanah atau kekayaan potensi yang dimiliki Solo sebagai Kota Budaya dan Kota Wisata.(Bambang Pur)