JEPARA (SUARABARU.ID) – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan terus digalakkan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Unisnu Jepara. Pada Senin, 16 Juni 2025, PSGA UNISNU Jepara menggelar kegiatan pendampingan Sekolah Ramah Anak (SRA) di MTs Tsamrotul Huda desa Kecapi Kabupaten Jepara, dengan tema “Madrasah Ramah Anak: Menyongsong Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan.” Kegiatan ini dihadiri seluruh jajaran guru MTs Tsamrotul Huda.
Kepala PSGA Unisnu Jepara, Santi Andriyani, M.Pd., dalam sambutannya menyoroti urgensi pembentukan sekolah ramah anak di tengah maraknya kasus kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan. “Banyaknya kasus kekerasan dan bullying di sekolah menjadi latar belakang kegiatan ini. Sudah saatnya kita berdiskusi dan merumuskan strategi membentuk sekolah ramah anak demi perlindungan dan pengembangan potensi anak secara optimal,” tegas Santi Andriyani.
Senada dengan hal tersebut, Kepala MTs Tsamrotul Huda, Halimatus Sadiyah, S.Pd.I., menyampaikan bahwa madrasah yang dipimpinnya telah mendeklarasikan diri sebagai sekolah ramah anak. “Acara hari ini sangat relevan dengan komitmen kami. Ilmu dan wawasan yang didapat akan segera kami terapkan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Santi Andriyani, M.Pd., memaparkan berbagai bentuk kekerasan seksual di sekolah serta langkah-langkah penanganannya, Ia juga menekankan pentingnya penerapan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak, yaitu non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup dan berkembang, serta penghargaan terhadap pendapat anak.
Narasumber kedua, Hamidaturrohmah, M.Pd., menyampaikan materi terkait strategi implementasi SRA di madrasah, mulai dari sosialisasi, penguatan kebijakan, pelatihan guru, hingga pelibatan orang tua dan masyarakat. Ia juga membahas tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan SRA, seperti budaya kekerasan lama, kurangnya pemahaman hak anak, keterbatasan sarana prasarana, serta upaya solusi melalui edukasi, pelibatan masyarakat, dan kemitraan strategis dengan berbagai pihak.
Sesi diskusi berlangsung interaktif, di mana para guru berbagi pengalaman dan kendala dalam proses pembelajaran menuju sekolah ramah anak. Pertanyaan dan masukan yang muncul langsung ditanggapi oleh kedua narasumber, terutama terkait peran strategis guru sebagai pelindung dan pendamping siswa serta penggerak budaya sekolah ramah anak.
Acara ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Unisnu Jepara kepada MTs Tsamrotul Huda dan sesi foto bersama seluruh peserta. Melalui kegiatan ini, PSGA UNISNU Jepara berharap seluruh elemen madrasah semakin memahami pentingnya perlindungan anak dan mampu mengimplementasikan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak dalam setiap aspek pendidikan. Dengan demikian, madrasah dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak menuju generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak.
Hadepe – Santi













