blank
Ilustrasi. Reka: wied

Kurikulum harus bersifat inklusif, menghargai keberagaman, dan membangun semangat gotong royong. Guru harus didorong untuk menjadi fasilitator pembelajaran yang empatik dan sensitif terhadap konteks sosial-budaya siswa.

Kita tidak hanya butuh generasi cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter, beretika, dan siap hidup dalam masyarakat yang plural dan dinamis.

PHTC adalah langkah awal yang menjanjikan. Namun keberlanjutan dan efektivitasnya bergantung pada pengawasan, evaluasi, dan keterlibatan semua pihak. Alokasi anggaran yang besar lebih dari 20% APBN harus dikelola dengan akuntabel dan berorientasi pada dampak langsung ke ruang kelas.

Media memiliki peran strategis sebagai jembatan informasi dan pengawas publik. Masyarakat harus didorong untuk kritis, namun juga konstruktif. Tujuannya bukan mencari kesalahan, tetapi memastikan bahwa setiap anak Indonesia benar-benar merasakan kehadiran negara dalam pendidikannya.

Pendidikan sebagai Jalan Kebangsaan

Ki Hadjar Dewantara pernah berkata, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Pendidikan sejatinya bukan sekadar program, bukan hanya kurikulum, bukan melulu soal angka-angka capaian. Ia adalah proses pembebasan, pemanusiaan, dan pembentukan jati diri bangsa.

Jika kita ingin memanen masa depan yang cerah, kita harus serius menanam hari ini. Menanam harapan di ruang-ruang kelas, di desa dan kota, di gunung dan pulau-pulau kecil. Karena di sanalah masa depan Indonesia bertumbuh.

Hilma Fanniar Rohman, Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Peneliti Pundi