
Aktivisme digital memungkinkan Gen Z dan Gen Alpha membentuk opini lebih cepat dan menunjukkan kepedulian terhadap berbagai isu vital yang menarik perhatian mereka, seperti isu lingkungan, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia.
Bagi mereka, media sosial bukan hanya tempat berbicara, tapi juga ruang untuk bertindak, meski bentuk aksinya sering berbeda dari metode tradisional.
Kepedulian atau Tren Sesaat
Namun, di balik semangat itu, ada tantangan besar, fenomena slacktivism, aktivisme dangkal yang hanya sebatas membagikan tagar, mengganti foto profil, atau menyukai konten tanpa benar-benar memahami isu yang diangkat.
Misalnya, saat konflik Palestina mencuat, banyak warganet mengganti foto profil mereka dengan simbol semangka atau bendera Palestina, dan ramai-ramai menyerukan boikot produk tertentu.
Sayangnya, tak lama kemudian, banyak yang kembali menggunakan produk yang sebelumnya mereka tolak, menunjukkan minimnya pemahaman terhadap substansi perjuangan.
Contoh lain, kampanye #SaveKPK yang sempat viral, perlahan tenggelam karena isu baru datang silih berganti. Tren yang cepat berganti ini didorong oleh algoritma media sosial yang menonjolkan isu populer tanpa memberi ruang untuk pendalaman.
Maka, slacktivism menjadi tantangan serius bagi aktivisme digital. Dukungan yang hanya bersifat simbolik tanpa langkah konkret justru bisa mereduksi nilai perjuangan itu sendiri.
Dari Viral ke Perubahan Nyata
Meskipun sering dianggap dangkal, aktivisme digital tetap menyimpan potensi besar jika diiringi dengan edukasi dan aksi nyata. Gerakan sosial yang berhasil umumnya memiliki unsur edukatif dan mendorong partisipasi lebih dalam.
Pendidikan literasi digital menjadi kunci agar generasi muda tidak hanya ikut-ikutan, tetapi mampu memilah informasi dan memahami konteks isu yang mereka dukung. Sekolah, kampus, bahkan komunitas digital dapat menjadi ruang edukasi ini.
Selain itu, aktivisme digital perlu dihubungkan dengan dunia nyata. Jika seseorang peduli pada isu lingkungan, tindakan nyata seperti mengurangi sampah plastik, mendukung produk ramah lingkungan, atau ikut aksi penghijauan bisa menjadi lanjutan dari kampanye digital mereka dalam wujud tindakan nyata.
Begitu pula etika mereka menyatakan dukungan terhadap hak buruh, mereka bisa ikut diskusi publik, mengkritisi regulasi, atau memilih produk dari perusahaan yang berpihak pada pekerja.
Pada akhirnya, aktivisme digital adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuka akses dan mempercepat penyebaran informasi serta solidaritas. Di sisi lain, ia bisa melahirkan kepedulian instan tanpa makna mendalam.
Tantangan kita hari ini bukan menolak aktivisme digital, melainkan mengarahkan energinya agar tidak berhenti di layer, melainkan benar-benar berujung pada perubahan di dunia nyata.
Hasna Wijayati, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi Surakarta













