
UKSW sendiri memiliki warisan panjang sebagai ruang akademik yang menjunjung tinggi inklusivitas. Meskipun berakar dalam tradisi kekristenan, kampus ini terbuka bagi seluruh kelompok agama dan budaya, termasuk bagi kaum beragama lain, termasuk Muslim.
Pengalaman Spiritual dan Intelektual
Acara Halalbihalal dan kuliah umum ini juga meninggalkan kesan bagi para peserta. Justin Saudale, mahasiswa Magister Sosiologi Agama Fakultas Teologi UKSW, mengungkapkan bahwa acara ini memperkaya pemahamannya terhadap tradisi yang selama ini ia ketahui turun temurun.
“Biasanya saya hanya mengetahui tentang tradisi seperti ketupat dan sungkeman tanpa tahu maknanya. Tapi dalam acara ini saya bisa memahami secara lebih mendalam makna budaya dan teologis dari perayaan Lebaran,” ujar mahasiswa asal Kupang ini.
Sementara itu, Tabrani Tajuddin, mahasiswa dari Makassar dan alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menyoroti pentingnya dimensi global dari relasi Islam-Kristen.
“Saya mendapatkan wawasan baru tentang dinamika relasi Kristen-Muslim di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia. Ini mengingatkan kita bahwa dialog antaragama harus terus diperkuat untuk membangun harmoni yang lebih luas,” katanya.
Kegiatan yang menjadi refleksi ini menunjukkan bukti nyata UKSW dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-16 perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, dan SDGs ke-4 pendidikan berkualitas. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 28 Prodi Unggul dan A.
Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.
Ning S













