blank
Foto bersama dalam penutupan program COIL secara daring. Foto: UKSW

Mahasiswa dari kedua universitas juga turut merasakan manfaat program ini. Trivena Apriska Yiswi dari UKSW mengaku, “Ini pengalaman pertama saya ikut kelas internasional. Saya jadi lebih paham bagaimana inflasi dan kebijakan memengaruhi kehidupan masyarakat.” Sementara itu, Joyce Ann Edvas dari BukSU Filipina mengatakan, “Diskusi ini membuat saya sadar bahwa ekonomi bukan sekadar angka, tapi juga tentang budaya dan kehidupan sehari-hari. Saya juga belajar banyak dari mahasiswa Indonesia,” tuturnya.

Sebagai bentuk apresiasi, sertifikat penghargaan diberikan kepada Dr. Cleopas Bette R. Jacutin dan Yulius Pratomo, Ph.D., atas kontribusi mereka sebagai dosen tamu internasional dalam empat sesi perkuliahan. Sertifikat juga diserahkan kepada Joseph T. Tinsay sebagai fasilitator, serta Jaylou Micha A. Penus dan Trivena Apriska Yiswi sebagai peserta aktif dalam program COIL ini.

Dengan berakhirnya program COIL 2025, Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy secara resmi menutup kegiatan tersebut dengan harapan besar untuk keberlanjutan kolaborasi di bidang pertukaran pelajar, dosen, dan riset internasional. “Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari semakin banyak peluang kerja sama global yang akan datang,” tutupnya penuh optimisme.

Dengan demikian, program COIL menunjukkan komitmen UKSW dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ke 4 pendidikan berkualitas, SDGs 17 kemitraan untuk mencapai tujuan, SDGs 16 perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 28 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.

Ning S