
“Di daerah kota, sasaran mereka ada di daerah kumuh. Sedangkan untuk daerah terisolasi dan terbelakang untuk wilayah desa,” jelas Luthfi.
Akselerasi pembangunan TMMD meliputi kegiatan fisik dan nonfisik. Kegiatan fisik diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana kebutuhan dasar masyarakat, khususnya untuk meningkatkan aksesibilitas daerah terpencil dan mendukung peningkatan perekonomian.
Sasaran kegiatan nonfisik diprioritaskan pada peningkatan kesadaran masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, serta mewujudkan ketahanan wilayah yang Tangguh. Kegiatannya melalui tiga bidang yaitu kesehatan, pendidikan dan bela negara.
Maka dari itu, Luthfi meminta kepada Pemerintah Kabupaten/Kota untuk berkoordinasi dengan Dansatgas TMMD Kabupaten/Kota masing-masing untuk mengoptimalkan program unggulan.
Antara lain ketahanan pangan, pertanian terpadu, perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), penyediaan air bersih dan sanitasi, serta percepatan penurunan stunting. Juga terkait program pendukung lainnya antara lain Layanan Posyandu, penanaman pohon, pembersihan sungai, pembersihan pasar, dan rehab tempat ibadah.
“Saya imbau kepada seluruh kabupaten/kota untuk segera membuat program-program TMMD yang lebih menyentuh kepada masyarakat,” ucapnya.
Ia juga berharap, pelaksanaan program TMMD dan Sengkuyung ini dapat berkontribusi positif bagi pembangunan desa/kelurahan.
Selain itu juga turut berkontribusi terhadap target penurunan angka kemiskinan Jawa Tengah menjadi 9,66% – 9,00% dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 4,90% – 5,60%.
Usai pembukaan, Gubernur Ahmad Luthfi juga menyerahkan sejumlah bantuan dari Pemprov Jateng. Di antaranya bantuan 1 ton beras cadangan pangan pemerintah kepada masyarakat kurang mampu di Kelurahan Pakintelan; bantuan untuk anak rawan stunting; bantuan bibit tanaman; bantuan modal untuk 12 kelompok usaha bersama dengan total Rp240 juta; serta bantuan keuangan kepada Kota Semarang untuk TMMD senilai Rp628 juta.
R. Widiyartono













