WONOGIRI (SUARABARU,ID) – Kanjeng Raden Arya (KRA) Suparmo, tokoh legislator yang mahir mendalang berpulang. Ibarat gajah mati meninggalkan gading dan macan mati mewariskan belang, berpulangnya Dalang Ki Suparmo meninggalkan banyak kenangan.
Seniman dalang Ki Eko Sunarsono SKar, yang mantan Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Wonogiri, menyatakan, Ki Suparmo tutup usia Sabtu Kliwon (3/5/25). ”Beliau meninggal dan jenazahnya dimakamkan Hari Sabtu (3/5/25),” tutur Ki Eko Sunarsono.
Khabar duka atas meninggalnya Ki Suparmo juga disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMK Negeri 1 Jatiroto, Hartono, dan Camat Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, Miran. ”Sejak Bulan Ramadan lalu, Pak Parmo gerah (sakit) penyumbatan darah,” jelas Camat Miran.
Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa Demokrat DPRD Kabupaten Wonogiri, Achmad Nasir, menyatakan, sebagai legislator, Suparmo pernah menjadi Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri untuk periode 2019-2024. Suparmo juga menjabat Wakil Ketua Dewan Syuro Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Wonogiri.
Di Kabupaten Wonogiri, Suparmo, menjadi satu-satunya tokoh legislator yang mahir mendalang. Pensiunan Penilik Kebudayaan Disdik Kabupaten Wonogiri ini, tidak saja mahir mendalang, tapi juga pandai nembang (menyanyikan tembang-tembang Jawa) serta piawi saat menjadi MC atau pembawa acara.
Kemahirannya dalam berorasi, menjadikan Ki Suparmo sering diminta untuk tampil menjadi paraga (peraga) pambagyoharjo (menyambut tamu) di rumah warga yang tengah menggelar hajatan mantu. Juga sering diminta berpidato di berbagai event perhelatan.
Abdi Dalem
Suparmo, dikenal memiliki garis silsilah turun empu dalang. Ayah, kakek dan kakek buyutnya adalah seniman dalang wayang kulit. Karena itu, Ki Suparmo sering diminta untuk mendalang Lakon Murwakala sebagai ritual ruwatan.
SMK Negeri 1 Jatiroto, Wonogiri, pernah meminta jasa Ki Suparmo untuk mendalang ruwatan, sebagai sarana memohon berkah keselamatan kepada Tuhan. Itu dilakukan, setelah banyak siswa yang sebelumnya sering mengalami kesurupan. Pasca ruwatan, tidak ada lagi yang kesurupan.
Lakon Murwakala saat ruwatan di SMK Negeri 1 Jatiroto, dimainkan dalam pentas wayang kulit semalam suntuk. Alur ceriteranya disajikan secara utuh, sejak kelahiran Betarakala sampai ritual ruwat dengan membacakan aneka mantera sakti, untuk menyirnakan semua aura negatif. ”Ini kami pentaskan semalam suntuk, sekaligus sebagai sarana tirakatan, agar permohonan kita dikabulkan Tuhan,” jelas Ki Suparmo waktu itu.
Menyaksikan pentas Lakon Murwakala Ki Dalang Suparmo, penonton akan menjadi paham tentang siapa Betarakala. Yakni putra Betara Guru yang lahir dari kama salah, ketika berduaan mengangkasa naik Lembu Andini dengan Dewi Uma. Saat itu, birahi Betara Guru tak tertahankan, sampai memunculkan tetesnya air mani ke samudera dan melahirkan kama salah yang disebut Glundhung Gemulung, sebelum kemudian tumbuh menjadi Betara Kala.
Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, Raden Tumenggung (RT) Purnomo Tondo Nagoro, menyatakan, gelar KRA yang dimiliki Ki Suparmo, adalah paringan dalem (pemberian) dari Sinuwun Raja Kasunanan Solo.
Sebagai budayawan Jawa yang memiliki kesetiaan tinggi ikut nguri-uri (melestarikan) seni pedalangan, Suparmo, mendapatkan serat kekancingan (surat) pengangkatan sebagai Abdi Dalem Keraton Surakarta, dengan jabatan Bupati Sepuh Anon-anon bergelar KRA.(Bambang Pur)













