Oleh : Indria Mustika, M.Pd
Ketika kita memperingati hari kelahiran R.A Kartini setiap tanggal 21 April, kita selalu terjebak pada kesalahan yang terus berulang. Melakukan penyederhanaan peran R.A. Kartini, hanya sebagai pahlawan emansipasi perempuan. Sebab kita hanya mendapatkan informasi kesejarahan R.A. Kartini yang lebih banyak menampilkan sisi historis repetitif yang selalu melakukan pengulangan, bahkan secara massal.
Ini tentu dapat dipahami sebab penulisan sejarah R.A. Kartini memang berasal dari historiografi kolonial yang berkembang pada masa Kolonial Belanda. Sedangkan fokus utama historiografi kolonial adalah kehidupan warga Belanda. Tujuan penulisannya untuk memperkuat kedudukan mereka di Indonesia hingga tidak jarang sudut pandang penulisannya adalah Neerdelandosentris, bersifat subjektif serta cenderung mengabaikan sumber lokal.
Karena itu Kartini hingga kini lebih kita kenal sebagai pahlawan atau pendekar emansipasi wanita yang gigih memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Sehingga setiap kali bangsa ini memperingati hari kelahirannya pada tanggal 21 April, selalu dihubungkan dengan perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia.
Apalagi kemudian kita hanya mengenang figurnya dan kemudian lupa memaknai nilai perjuangan, gagasan dan semangatnya. Kita hanya mengenang sosok R.A. Kartuni dengan kegiatan-kegiatan serimonial. Padahal yang dilakukan oleh R.A.Kartini dan gagasannya yang dituangkan dengan penanya telah menjadi inspirasi para pejuang kemerdekaan Indonesia. Akhirnya kita mengenal R.A. Kartini hanya sebatas kulit ari, pahlawan emansipasi perempuan Indonesia yang lahir di Jepara.
Setelah itu kita gagap menangkap nilai-nilai keutamaan R.A. Kartini yang harus kita teladani. Sebab dengan memahami nilai-nilai dan gagasannya kita akan mengerti hal-hal bernilai yang telah dari R.A. Kartini di sepanjang hayatnya dan kemudian mengimplementasikan dalam konteks kekinian.
Nilai-nilai Keutamaan R.A.Kartini ini kemudian menjadi lebih berharga dan bermakna jika dapat di integrasikan dalam pendidikan karakter bangsa ini.
Hal ini menjadi penting sebab dewasa ini pembangunan karakter bangsa menghadapi persoalan serius mulai arah pendidikan yang menempatkan kemampuan akademik sebagai fokus utama, penetrasi budaya asing yang sangat masif, hingga berkurangnya keteladanan para pemimpin dan bahkan orang tua.
Karena itu belajar dari perjalanan hidup, spirit, cita-cita dan gagasan R.A. Kartini dalam dimensi historis-sosiologis, 184 surat panjang kepada 11 sahabatnya dan dua nota kepada pemerintah Belanda, dapat menjadi pijakan utama kita dalam merumuskan nilai-nilai yang masih relevan sampai saat ini.
Sapta Nilai Keutamaan
Sebenarnya banyak nilai-nilai luhur yang dapat kita ambil dari gagasan, sikap dan perbuatan R.A. Kartini. Nilai-nilai itu merupakan saripati dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh Yayasan Kartini Indonesia sejak tahun 2013. Karena jumlah nilai keutamaan sebanyak tujuh, maka disebut sebagai Sapta Keutamaan Nilai Keteladanan R.A. Kartini yang meliputi:
Pertama, emansipatif. Nilai ini meliputi kesetaraan dan persamaan derajat bukan hanya antara laki-laki dan perempuan,tetapi mencakup kepekaan dan kepedulian sosial, semangat pembebasan melawan ketidak adilan, kezaliman, kebodohaan, kemiskinan dan keberanian menghadapi penindasan walaupun atas nama adat.
Kedua; nasionalis. Apa yang dilakukan oleh R.A. Kartini adalah wujud cintanya pada bangsa dan tanah air. Ini bentuk aktualisasi dengan sikapnya yang sangat menghargai keberagaman dan pluralitas, mengembangan budaya dan tradisi serta menerima kemajuan dari manapun selama mendukung penguatan jati diri bangsanya.
Ketiga; kritis. Walaupun harus berada dibalik dinding pingitan, semangat untuk terus belajar, telah menjadikan R.A. Kartini sebagai pribadi yang cerdas dan argumentatif, rasional dan analitis dalam melihat persoalan hingga memiiliki pemikiran yang lengkap dan kritis tentang persoalan yang dihadapi oleh bangsanya dan sekaligus merumuskan jalan keluarnya.
Keempat, kreatif. R.A. Kartini sangat terbuka dengan gagasan dan ide baru, terbuka terhadap perubahan, menciptakan peluang berkarya, inovatiif dan senantiasa berorientasi kemasa depan. Seperti yang telah dilakukan dengan merubah orientasi seni ukir Jepara dari seni menjadi kerajinan. Termasuk memasukkan motif-motif baru pada ukir dan batik Jepara.
Kelima; optimis. Pingitan tidak membuat R.A. Kartini menyerah. Juga saat permohonan bea siswa ke Batavia tidak juga mendapatkan persetujuan hingga datangnya lamaran Bupati Rembang yang telah memiliki istri. Selalu saja ada optimisme R.A. Kartini dari setiap persoalan berat yang dihadapi. Ia gigih memperjuangkan keyakinan, berprasangka dan berkehendak baik, berfikir positif dan selalu berorientasi pada masa depan.
Keenam; bersahaja. Kesederhanaan adalah salah satu ciri R.A. Kartini. Menghormati sesama, tepa slira dan tidak menyombongkan diri walaupun ia anak seorang Bupati. Ia bahkan tidak mau mengambil haknya sebagai putri bangsawan untuk mendapatkan penghormatan dari orang-orang yang oleh adat harus menghormatinya.
Ketujuh; jujur. R.A. Kartini senantiasa terbuka menyampaikan kebenaran dan keyakinannya dan bersedia belajar kepada orang lain serta menghormati pendapat orang lain walaupun berbeda dengan pandangannya. R.A. Kartini obyektif dan berani mengoreksi diri sendiri.
Sapta Keutamaan Nilai Keteladanan RA Kartini ini bukanlah sebuah teks mati. Tentu saja sangat terbuka untuk menerima pemikiran baru. Nilai patriotik, kolaboratif, komunikatif dan inovatif misalnya terasa masih sangat relevan untuk memperkuat nilai-nilai keutamaan RA Kartini.
Harapan penulis, pemikiran ini justru bisa memantik diskusi bersama untuk merumuskan nilai-nilai keutamaan R.A. Kartini yang masih relevan untuk kita teladani dan wariskan dan kemudian menjadi kesepakatan bersama, kita para pewaris.
Indria Mustika, M.Pd, adalah Sekretaris Umum Yayasan Kartini Indonesia













