blank
Prajna Murdaya ketika ditemui wartawan. Foto: eko p

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID)– Ketua Dewan Pengawas DPP Walubi, Murdaya Widyawimarta Po (84), dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit Singapura, pada Senin (7/4/2025).

Saat ini almarhum dibawa ke Graha Vipasana Avalokitesvara (GVA), Jalan Bojong II, Nomor 1 Mendut, Mungkid, Kabupaten Magelang. Dari Bandara Internasional Yogyakarta, beberapa mobil pembawa almarhum Murdaya menuju Magelang, melalui jalur Purworejo.

Penyambutan pemilik 23 perusahaan besar itu dilakukan secara sakral. Ratusan karangan bunga terpasang di sepanjang jalan menuju vihara. Sejumlah pejabat negara ikut mengirim karangan bunga, atas meninggalnya pengusaha dan tokoh Buddha itu.

BACA JUGA: 1.423 Warga Kudus Siap Berangkat Haji, Termuda 18 Tahun, Tertua 84 Tahun

Berdasarkan informasi, prosesi kremasi akan dilakukan pada 7 Mei 2025 mendatang, di Jalan Badrawati, Ngaran II nomor 13, Dusun XVIII, Borobudur. Dengan demikian, hampir selama satu bulan ini jenazah pria yang lahir pada 12 Januari 1941 itu, berada di Graha Vipasana Avalokitesvara (GVA).

Istri almarhum, Siti Hartati Murdaya, yang merupakan Ketua Umum DPP Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), melantunkan doa secara pribadi. Dia juga sempat menceritakan perjuangan, usaha dan cita-cita almarhum suaminya.

”Syukur dan terima kasih atas penyambutan almarhum suami saya. Kehadiran ini memberi kekuatan dan semangat,” tuturnya singkat.

BACA JUGA: Kepala PN Jakarta Selatan Tersangka Dugaan Suap Rp 60 M Ternyata Warga Kota Tegal

blank
Jenazah sampai ke Graha Vipasana Avalokitesvara (GVA), Senin (14/4/25) pukul 20.30 WIB. Foto: eko p

Sementara itu, Prajna Murdaya, ketika ditemui wartawan mengatakan, dipilihnya Borobudur sebagai tempat kremasi, karena atas pertimbangan keagamaan. ”Lebih baik di tempat yang sakti,” ungkapnya.

Saat ditanya pesan terakhir almarhum kepada keluarga, Prajna menyebutkan, untuk mengatasi sesuatu, selalu ada cara. Menurut dia, kalau kita tekun dan optimistis apa pun bisa diatasi. Prinsip seperti itu, diterapkan di bisnis maupun bidang sosial.

Sedangkan pesan khusus bagi anak-anaknya, diharapkan untuk selalu rukun. Di mana pun berada, harus rukun. ”Paling terkesan, almarhum bapak hatinya selalu baik terhadap keluarga. Walau sedang ada kegiatan dengan pihak lain,” tutur dia.

Salah seorang warga desa di Kecamatan Borobudur, mantan pekerja pabrik sepatu milik almarhum yang berada di Tangerang, Sutirah (53), menilai, keluarga almarhum tergolong pengusaha yang baik hati. Dia bisa menilai demikian, karena telah ikut bekerja selama 25 tahun. ”Pak Po dan Bu Murdaya orangnya ngrejekeni,” ujarnya.

Eko Priyono