
SUARABARU.ID : “Mbang, Bambang ….. Bambang, kesini Le (panggilan untuk seseorang yang lebih muda)!” Eyang Djoyo berkata. “Dhawuh Yang, sekedap nembe ndamel unjukan kagem Eyang.”
“Yo, gulane sithik bae ya Mbang.”
“Njih Mbak, pun tambah sarem mboten?”
“Iyo, sedikit juga; kalau jadah nya masih ada bawa ke sini sekalian.”
“Wah, kalau yang satu itu tidak mungkin lupa Yang”
Keakraban seperti itu tergambar kenthal antara “eyang” dan “cucu” dalam keluarga Jawa. Resiprokal rasa vibratif terpancar dari kedua belah pihak. Ada penghormatan (dalam) dari yang muda dan kasih sayang (tulus) kepada yang muda.
“Mbang “
“Dalem Yang”
“Anak bojomu sehat?”
“Alhamdulillah sehat”
“Pekerjaanmu lancar dan hubungan karo konco-kancamu baik”
“Kok kadingaren Eyang dhawuh demikian?”
“Pertanyaan kudu dijawab. Jawaben!”
“Pengestunipun Yang. Tapi kulo bingung estu Yang, kok tiba-tiba Eyang bertanya seperti ini.”
“Perkutut sing ono kurungan itu tingkahnya aneh beberapa hari ini. Dia kelihatan gelisah dan tidak mau manggung sama sekali. Biasanya demikian itu menandakan akan terjadi hal (tidak baik) di keluarga.”
Bambang hanya diam menyimak, dalam hatinya ikut bertanya, “Akan ada apa ya?”
“Barangkali kali ini perkututnya sendiri yang tidak enak badan Yang.” Bambang menghibur.
“Mungkin, ning ono pralambang liyane. Sejak kemarin dari pucuk beringin itu burung gagak itu juga terus bersuara tak henti-henti. Untung tidak hinggap di atas wuwung rumah.”
“Kalau ya bagaimana Yang?”
“Akan ada kesusahan dan kewirangan yang menimpa keluarga”.
“Apa mungkin ada hubungannya dengan pemberitaan negara kita Yang? Rupiah melemah, harga saham jatuh, PHK masal terjadi di mana-mana, sementara korupsi merajalela.”
“Bisa juga. Semoga kondisinya segera membaik. Rupiah kembali menguat dan Pak Prabowo tetap sehat, serta segera bisa mengatasi semua masalah.”
“Sawangen kae Mbang!” tangan Eyang DDjoyo menunjuk ke arah dinding yang ber cat putih gading. Iku ono kupu ireng mlebu omah. Iku perlambang kalau bakal ada peristiwa yang tidak baik.
“Bukankah kalau kupu masuk rumah menandakan akan kedatangan tamu”, tanya Bambang.
“Benar, tapi lain kalau yang masuk kupu berwarna hitam. Sebentar lagi akan ada kejadian yang membuat bangsa kita kewirangan (dipermalukan).”
“Apa ada hubungannya dengan rencana kedatangan teman-teman aktivis nggruduk UGM dan rumah Pak Jokowi keesokan harinya?”
“Kapan itu Mbang?”
“Besuk Yang, tanggal 15 besuk pagi. Yang (sekedar) mengaku benar pasti akan dipermalukan keaadaan.”
“Iyo Mbang, mungkin iku sing winangsit (dibisikkan ilahiah) melalui burung gagak, kutut sing nganeh-anehi, dan juga kupu hitam yang ada di dinding itu.”
“Harusnya bagaimana Yang?”
“Laku kudu dilakoni, lakon kudu ono babare laku. Semua sudah terlanjur bicara dan dikonsumsi public, oleh karenanya kebenaran harus didudukkan.”
“Maksudnya bagaimana Yang?”
“Kita itu hanya umat dan hanya wayang. Ada yang menciptakan, menjalankan, dan membingkainya dalam lakon.”
“Semakin bingung Yang.” Bambang garuk-garuk kepala, meski hanya ada beberapa helai rambut yang menutup kulitnya.
“UGM harus menyambut kedatangan tamunya. Demikian juga dengan Pak Jokowi. Beliau harus memberi contoh baik pada bangsa kita. UGM telah mencipta banyak pemimpin besar, dan Pak Jokowi juga mengaku lulusan dari sekolah besar itu.”
“Kalau yang dituduhkan dengan Ijasah palsu bagaimana?” tanya Bambang
“Mbang, pangroso (klaim) mono kadaden soko roso loro (benar dan salah). UGM dan Pak Jokowi biso kanggonan lali lan luput, demikian pula sebaliknya. Hal baik yang harus terjadi pada pertemuan besuk tanggal 15 April adalah semangat menyampaikan kebenaran dan upaya memperbaiki. Kedua belah pihak harus saling nglenggono (menyadari) akan kemungkinan salah lan benar. Sing salah cepet ndang nyuwun pangapuro, sing bener ojo kumalungkung ngumbar kebeneran. Ngalah ora kudu ngasorake.”
“Kalau semua merasa benar bagaimana?”
“Benar selalu ditemani dengan salah. Untuk perkara sengketa saling meniadakan, tidak mungkin kedua belah pihak sama-sama memiliki kebenaran. Bila salah satu sah sebagai pemiliknya, yang lain pasti dalam posisi salah.”
“Leres Yang, sebenarnya pula masing-masing sudah tahu, dirinya benar atau salah.”
“Orang salah, namun berusaha membenarkan dirinya berarti nutup netrane Gusti Allah swt. yang melihat kita setiap saat. Hukum, walat, lan bendu ne gedhe! Apalagi menyangkut pendidikan yang punya keramat jelas.”
“Apa mungkin salah satu pihak akan dihukum kalau diketahui berbohong?”
“Ukum lan ganjar harus berdiri tegak berlandaskan kebenaran. Kepada siapapun mereka, putusan yang adil harus dijatuhkan demi kepatuhan pada asas-asas hidup bersama. Pak Jokowi, UGM, KPU serta pihak-pihak lain yang tersangkut atau kelompok aktivis harus siap menerima hukuman kalau memang terbukti bersalah.”
“Apa ada upaya yang bisa mengurangi dampak kerusakannya dari sengketa ini?
“Mbang, kejujuran meski pahit namun bisa menjadi obat dan akhirnya menyelamatkan. Masing-masing harus memberikan keterangan apa adanya. Kita biarkan pengadilan membuat keputusan sesuai mata hatinya. Pak Presiden Prabowo wektune turun gunung nentremke kahanan. ”
“kok Pak Prabowo disebut Yang?” tanya Bambang pengin memastikan apakah yang dimaksud eyang nya Presiden Prabowo menggunakan grasi nya andai Pak Jokowi diputus bersalah.
“Kopine entek Mbang, ayo sholat Luhur; deple-deple masrahke kahanan marang Kang Gawe Urip.”













