Oleh : Budi Prihartini
Festival Ramadan yang digelar oleh guru-guru se-Kecamatan Kembang berlangsung meriah di Bumi Perkemahan Jati Cindhe. Apalagi Sabtu sore (8/3-2025) kegiatan tersebut telah dikunjungi oleh Kepala Disdikpora Kabupaten Jepara, Ali Hidayat. Tentu ini menjadi motivasi yang sangat bernilai bagi para guru di Kecamatan Kembang.
Ali Hidayat memberikan apresiasi terhadap kreatifitas para guru di Satkordik Kecamatan Kembang yang memberikan warna lain dalam menyambut Ramadan. ” Ini sangat membantu warga sekitar untuk mempersiapkan buka puasa yang murah, sehat dan bergizi. Juga pembelajaran pada UMKM untuk juga mengembangkan jajanan tradisional sebagai salah satu kearifan budaya yang harus dipertahankan,” ujar Ali Hidayat
Ali Hidayat juga mengungkapkan kreativitas para guru, bersama Koordinator Satkordikcam di Kembang sungguh menginspirasi yang lainnya untuk menggelar acara yang sama sebagai implementasi Profil Pelajar Pancasila dengan melatih kewirausahaan dan kemandirian siswa. “Dengan menyajikan jajanan tempo dulu yang unik dan harga terjangkau oleh masyarakat, juga bisa menjadi inspirasi ide kreatif generasi muda harapan bangsa menuju kemandirian generasi emas 2045,” ujarnya
Menurut Ali Hidayat, bumi perkemahan Cindhe Kembang yang mulai membangun tempat ibadah ( musholla ), sumur MCK dan listrik hingga kedepannya dapat dikembangkan sebagai tempat edukasi wisata budaya dan kuliner.

Memang dengan tema Jajanan Jadul, acara ini tidak hanya menjadi ajang kuliner tradisional, tetapi juga wadah pembelajaran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Menurut Slamet, Ketua Pembangunan Bumi Perkemahan Jati Cindhe, yang juga merangkap sebagai Ketua PKG dan Panitia Bazar Ramadan, festival ini merupakan salah satu cara untuk mendukung program 7 Kebiasaan Baik yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Salah satu kebiasaan baik tersebut adalah mengonsumsi makanan sehat. Maka dari itu, berbagai jajanan jadul yang disajikan dipastikan aman tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan.

Festival ini juga menjadi ajang berbagi bagi masyarakat sekitar. Sesuai dengan makna bulan Ramadan yang disebut sebagai waktu di mana “pintu surga dibuka seluas-luasnya”, para guru dan panitia membagikan takjil gratis kepada masyarakat yang melintas di sekitar Jati Cindhe. Kegiatan amal ini mendapat sambutan hangat dari warga. Banyak yang mengaku terharu melihat kekompakan para guru dalam menghidupkan suasana Ramadan dengan berbagi.
“Ini adalah awal yang baik. Harapannya, semangat berbagi ini bisa terus berlanjut, tidak hanya di bulan Ramadan,” ujar Hadi Supriyanto Ketua Panitia Bazar.
Salah satu hal menarik dari festival ini adalah penggunaan koin sebagai alat tukar. Pengunjung yang ingin menikmati jajanan jadul harus menukarkan uang tunai dengan koin. Sebagian dari hasil penukaran koin ini akan disisihkan untuk pembangunan fasilitas di Bumi Perkemahan Jati Cindhe, seperti musala, sumur air bersih, dan arena olahraga.

“Penggunaan koin ini bukan hanya untuk nuansa tradisional, tapi juga sebagai cara agar pengunjung secara tidak langsung ikut berkontribusi membangun fasilitas umum,” kata Slamet, Ketua Pembangunan Bumi Perkemahan.
Dengan konsep ini, festival tidak hanya sekadar pasar kuliner biasa, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari pepatah: Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Selain mendukung pelestarian budaya melalui jajanan tradisional, festival ini turut membantu pengembangan fasilitas bumi perkemahan yang representatif.

Saat ini, Bumi Perkemahan Jati Cindhe memang masih membutuhkan berbagai fasilitas tambahan. Namun, secara bertahap, harapan untuk menjadikannya sebagai lokasi wisata alternatif dan pusat kegiatan masyarakat semakin terlihat. Ketua DPRD Kabupaten Jepara DR. Agus Sutisna S.H, M.H bahkan telah berkomitmen untuk mendukung pembangunan sumur air bersih. Saat ini masih berproses pembangunan musala dan fasilitas kamar mandi di mana berbagai pihak turut berkontribusi.
Selain itu, rencana pengembangan lain seperti arena olahraga dan tempat untuk kegiatan outbound juga sudah masuk dalam agenda kerja sama dengan Kwaran Kembang, dan guru-guru di wilayah Kecamatan Kembang.
“Kami ingin Bumi Perkemahan Jati Cindhe ini bisa menjadi lokasi yang nyaman untuk kegiatan pramuka, olahraga, dan wisata keluarga,” tambah Slamet

Melihat antusiasme pengunjung, panitia berencana menjadikan pasar tradisional ini sebagai agenda bulanan atau hari libur, masyarakat bisa menikmati jajanan jadul seperti klepon, getuk, cenil, dan makanan jadul di Kecamatan Kembang yang disajikan tanpa bahan pengawet. Harapannya, ini bisa menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kuliner tradisional kepada generasi muda sekaligus menghidupkan roda ekonomi lokal.
Festival Ramadan di Jati Cindhe ini memang baru langkah awal, namun sudah menunjukkan bahwa kolaborasi antara guru, UMKM, dan masyarakat bisa memberikan dampak positif. Dengan semangat kebersamaan dan tekad yang kuat, bukan tidak mungkin Bumi Perkemahan Jati Cindhe akan menjadi destinasi wisata unggulan di Kecamatan Kembang.
Seperti kata pepatah, “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah kecil.” Festival ini mungkin baru awal, tapi langkah kecil ini telah memberikan harapan besar bagi kebangkitan ekonomi dan pelestarian budaya di Kembang.
Penulis adalah Kepala SDN 5 Cepogo













