blank
Ilustrasi. Reka: SB ID.

Oleh Vederico Magas

Kentalnya hubungan antara manusia dan budaya menjadi bagian dalam kehidupan suatu komunitas atau Masyarakat. Hal yang demikian juga menjadi salah satu ciri khas dalam sosial di Kalimantan Barat (Kalimantan Barat). Asimilasi, bila diperhatikan akan terlihat nyata dan tegas. Berbagai kegiatan dilakukan dengan asas salah satu nya adalah “keadatan” yang dipegang nilainya. Hal semacam ini sudah biasa dilakukan dan dipandang.

Budaya yang bergerak dinamis ini, terbawa hingga ke semua aspek masyarakat. Salah satu bagian dari hidup berbudaya tentu adalah dengan memberi kategori “khusus” kepada orang sepersukuan. Tentu seharusnya ini lumrah untuk semua orang, terlebih di Indonesia yang menganut berbagai macam suku. Prioritas kepada saudara satu suku menjadi salah satu kekuatan negara ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, terbawalah kita kepada sebuah aksi. Melihat sejarah Kalbar yang panjang, dengan berbagai macam keterlibatan suku dan budaya didalamnya, memunculkan pertanyaan akan supremasi. Seberapa jauh etnosentrime berkumandang di semua aspek kehidupan di Kalbar?

Pada pemilihan umum kepala daerah 2018 lalu, terjadi beberapa rangkaian dalam pelaksanaan nya. Ricuh di Kabupaten Landak, dengan menutup jalan dengan ban yang dibakar, dilanjutkan dengan perilaku anarkis dengan merusak warung milik suku Madura di Lapangan Bardan, Kabupaten Landak.

Alasan mereka melakukan itu adalah karena pilihan mereka; yang waktu itu adalah Karolin Margaret Natasha dan Suryaman Gidot (suku Dayak), dikalahkan oleh Sutarmidji dan Ria Norsan (suku Melayu). Bila diperhatikan tren seperti ini sudah menjamur dari tahun-tahun yang lalu pula.

Tren yang menunjukkan kemenangan setiap calon dari suku mayoritas terlihat 2007. Pada saat itu ada empat calon yang bertanding dalam pilkada di tahun itu. Dengan tiga suku yang berbeda, dan Cornelis yang waktu itu adalah suku Dayak. Tentu, dengan begitu terlihat jelas bahwa suara dimenangkan oleh Cornelis dan wakil nya.

Tren ini mulai nampak pada tahun selanjutnya; 2012 dan 2018. Pada tahun 2012, Cornelis menang unggul melawan 3 calon lain yang berasal dari suku Melayu. Perolehan suara didapatkan dengan 50% + 1. Tren ini berjalan dan dipatahkan pada tahun 2018.

Kekalahan Karolin pada tahun 2018 membuat masyarakat dari suku Dayak marah dan melakukan tindakan anarkis. Perilaku ini tentu didorong karena yang menjadi pemimpin bukan dari suku mereka. Kemenangan Sutarmidji menyulut amarah dari berbagai daerah untuk berkumpul, dan munculah sebuah tindakan di Lapangan Bardan tadi.

Doktrin seperti ini ternyata sudah ditanamkan pada keluarga, yaitu setiap anak biasa akan dijejali dengan materi ringan mengenai pemimpin mereka yang berasal dari suku mayoritas. Maka dengan begitu, mereka diharapkan akan sevisi dengan suku mereka. Dan ini terlihat dari apa yang dikatakan oleh Rizal, salah satu warga masyarakat dari suku Dayak.

Rizal mengatakan bahwa doktrin ini bertumbuh dan dibawa hingga dewasa. Tidak melihat visi dan misi calon pemimpin, program kerja setiap calon; hanya melihat mereka dari suku mana. “Kalau mau milih kami pasti pilih yang Dayak jak. Kalau gitu pasti maju Kalbar ni”.

Dari kasus di atas, sebenarnya sudah terlihat bagaimana sebuah politik identitas begitu digaungkan dan dianggap normal di Kalimantan Barat. Bukan berarti semua masyarakat di sana melakukan hal yang sama, tetapi pola pikir masyarakat yang cukup kolot menimbulkan persepsi seperti itu. Bahkan hingga sekarang, di pilkada 2024 juga begitu.

Untung saja yang menang adalah suku mayoritas, jika tidak apakah mungkin akan terjadi hal yang serupa. Entahlah, hanya berharap politik di Kalimantan Barat dijalankan dengan Luber Jurdil.

Vederico Magas, mahasiswa UKSW Salatiga asal Kalimantan Barat.