blank
Kepala DP3AKB Grobogan Indartiningsih, Edy Wuryanyo dan Kepala BKKBN Jawa Tengah Eka Sulistia saat berfoto bersama para peserta sosialisasi. Foto: Tya Wiedya

GROBOGAN (SUARABARU.ID)  – Kepala DP3AKB Kabupaten Grobogan, Indartiningsih mengatakan, Kabupaten Grobogan memiliki 3.360 orang yang menjadi TPK (Tim Pendamping Keluarga).

Mereka bertugas untuk memberikan edukasi, salah satu tugasnya adalah memberikan edukasi kepada calon pengantin yang akan menikah. “Mereka mendapatkan pulsa untuk melaporkan hasil kerja tiap bulannya,” ujar Indartiningsih dalam acara Sosialisasi KIE Bangga Kencana yang digelar di Pendopo Kecamatan Gubug, Selasa 10 Desember 2024.

Indartiningsig mengingatkan kepada para Tim Pendamping Keluarga (TPK) agar menjalankan tugasnya dengan baik. “TPK mempunyai tugas untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait stunting, ibu hamil, ibu bersalin dan balita,” ujarnya.

Indartiningsih mengatakan pemberian edukasi kepada calon pengantin, khususnya calon ibu dimulai dengan tes kesehatan di puskesmas. Nantiya, mereka akan mendapatkan sertifikat. Jika calon pengantin perempuan sehat, kata Indartiningsih, maka kondisi anaknya nanti juga akan sehat.

Baca juga Gudang Limbah Kain dan 3 Rumah di Gubug Terbakar, Kerugian Capai Rp 850 Juta

“Hanya saja TPK kita ini masih rendah. Alasan sinyal muyir-muyir, jika terkendala sinyal di lapangan bisa melakukan dengan data cadangan atau melaporkan secara manual,” ujar Indatiningsih.

Genting

Indartiningsih juga mengatakan, untuk penanganan stunting saat ini, ada program bernama BAAS (Bapak Asuh Anak Stunting) yang berasal dari CSR dengan melibatkan semua pihak. Ke depan aka nada program Genting atau Gerakan Orang Tua Cegah Stunting. Indartiningsih menjelaskan, masyarakat bisa berdonasi melalui program Genting ini dan akhir dari program ini adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Pemberian makanan tambahan atau PMT kepada para balita agar bisa tumbuh dengan baik. Kemudian juga untuk ibu hamil bisa diketahui kondisinya sehat, maka bayinya juga sehat. Dirinya berharap angka kasus stunting di Kabupaten Grobogan segera menurun, setelah pada 2021 sempat menjadi kabupaten dengan nilai angka stunting terbagus.

“Tahun 2021 kita termasuk memiliki angka stunting yang bagus, namun naik-naik lagi hingga 2023 ini angka stunting mencapai 20,2 persen. Untuk yang 2024 ini masih poses, mudah-mudahan 2024 ini turun, Grobogan bisa zero stunting dan bersiap mendukung Indonesia Emas 2045,” harap Indartiningsih.

Sementara itu, anggota DPR RI Komisi IX, Edy Wuryanto yang hadir dalam kegiatan tersebut berkesempatan memanggil beberapa TPK untuk ditanya berbagai hal tentang tugas mereka. Salah satunya pendeteksian stunting sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Maka untuk mencegah stunting ini, calon pengantin yang akan menikah itu harus diseleksi. Mereka akan dicek kesehatannya. Jangan  sampai saat sel sperma masuk, ternyata sel telurnya tidak baik atau sebaliknya. Sel sperma dan sel telur yang baik dan sehat, maka akan menjadikan anak yang baik dan sehat. Jika spermanya tidak baik, terutama yang merokok ini, tidak akan menghasilkan kondisi anak yang baik. Karena itu, sejak dini kita harus mencegah stunting, dengan dimulainya seleksi sebelum pernikahan,” ujar Edy Wuryanto.

Edy mengimbau, ketika hasil kesehatan para calon pengantin ini ada yang tidak baik atau tidak sehat, maka jangan dinikahkan lebih dulu, melainkan untuk melakukan perbaikan gizinya agar kelak ketika mereka menikah, punya anak, dan tumbuh kembang anak menjadi sehat.

Kegiatan sosialisasi dan KEI Bangga Kencana yang digelar di Pendopo Kecamatan Gubug ini dihadiri oleh para TPK dan masyarakat dari Kecamatan Gubug, Tegowanu, Tanggungharjo, dan Kedungjati. Hadir juga Kepala BKKBN Jawa Tengah Eka Sulistia Ediningsih.

Tya Wiedya