WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Badan SAR Nasional atau Basarnas Koordinator Surakarta, resmi menghentikan pencarian korban yang diduga tertimbun hidup-hidup bencana tanah longsor. Ini dilakukan setelah hari ketujuh pencarian, Senin (11/12), tim gabungan masih gagal menemukan korban.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau dikenal dengan Basarnas, adalah Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan atau Search And Rescue (SAR).
Perubahan nama Basarnas menjadi BNPP berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 83 Tahun 2016 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Wiodo para Tanggal 6 September 2016.
Kapolres Wonogiri AKBP Andi M Indra Waspada Amirullah dan Kapolsek Kismantoro Iptu Budiyanto melalui Kasi Humas Polres AKP Anom Prabowo, semalam, menyatakan, korban tanah longsor yang dimaksud adalah Ny Mijem (63) warga Dusun Jaten, Desa Ngroto, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri.
Korban, dinyatakan hilang diduga bersamaan terjadinya bencana tanah longsor Selasa pagi (5/12) lalu. Saat itu, Ny Mijem, tengah bertugas memupuk tanaman padinya di lokasi. Mendadak terjadi bencana longsor, dan diduga terkubur hidup-hidup oleh material longsoran.
Sementara itu, langkah penghentian pencarian, diberlakukan sejak Senin sore (11/12). Sebelum dihentikan, Tim Gabungan dipimpin dari pihak Basarnas, selama ini telah melakukan pencarian korban selama tujuh hari secara nonstop.
Medan Sulit
Secara Standar Operasional Prosedure (SOP) langkah penghentian pencarian disampaikan oleh Koordinator Basarnas Surakarta. Dengan demikian, seluruh personel Basarnas dan para pihak yang tergabung dalam Tim Gabungan, Senin sore (11/12), mulai meninggalkan lokasi kejadian.
Meski pencarian sudah dihentikan, Kapolsek Kismantoro Iptu Budiyanto bersama aparat dan petugas setempat, masih akan melakukan pemantauan di lokasi kejadian. Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama jajaran TNI-Polri, Pemerintah Kecamatan Kismantoro, Perangkat Desa dan masyarakat setempat, masih tetap melaksanakan pemantauan di lokasi longsor.
Sebagaimana diberitakan, selama ini Tim Gabungan yang melakukan pencarian juga mengalami kendala dengan material longsoran yang cukup luas. Juga tidak ditemukannya barang-barang milik korban dan tanda- anda keberadaan korban. Pencarian dilakukan secara manual, karena kesulitan mendatangkan bantuan alat berat, terkait dengan kondisi medan yang tidak ada prasarana jalannya.
Sementara volume longsoran yang menjadi medan pencarian, cukup luas dan memiliki kedalaman timbunan mencapai sekitar 5 Meter (M). Tebalnya timbunan material longsoran, menyulitkan anjing pelacak dari Regu K-9 (K-Nine) kesulitan mengendus keberadaan korban.
Tim Gabungan pencarian korban, yang melibatkan pula para relawan dari berbagai komunitas, menghadapi kesulitan karena kondisi medannya berupa lereng wilayah perbukitan terjal, dan menghadapi gangguan cuaca berupa hujan.
Bambang Pur











