PEMALANG (SUARABARU.ID) – Masa remaja merupakan masa storm and stress, karena remaja mengalami banyak tantangan baik dari diri mereka sendiri ataupun lingkungan. Kompleksnya permasalahan kesehatan pada remaja, memerlukan penanganan serius yang melibatkan semua unsur dari lintas program dan sektor terkait.
Hal tersebut disampaikan oleh Amelia Wahyu Kusuma Wardani, mahasiswa Prodi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro saat melakukan sosialisasi Posyandu Remaja yang dilaksanakan TIM II KKN Undip di Desa Jatiroyom
Selain itu menurut Amelia Wahyu Kusuma Wardani, masa remaja adalah masa dimana remaja akan mengalami banyak tantangan. Dimana jika remaja tidak mampu menghadapi tantangan tersebut, akan ada kemungkinan muncul perilaku beresiko sebagai akibat dari hal tersebut.

Disamping faktor tersebut, tidak adanya kegiatan posyandu remaja menjadikan program ini perlu diadakan guna menunjang pelayanan kesehatan yang berkesinambungan pada seluruh tahapan usia. “Oleh karena itu, mahasiswi TIM II KKN Undip mengadakan kegiatan posyandu remaja di Desa Jatiroyom,”ujarnya
Program posyandu remaja sendiri bertujuan untuk mendekatkan akses dan cakupan layanan kesehatan bagi remaja. Tidak hanya itu, posyandu remaja juga ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja akan masalah Kesehatan.
“Posyandu ini nantinya juga bertujuan untuk mempercepat upaya perbaikan gizi remaja melalui monitor antropometri. Nantinya, remaja juga akan menjadi pengurus dan kader kesehatan bagi remaja lainnya dibantu oleh bidan desa dan juga kader kesehatan desa,” papar Amelia Wahyu Kusuma Wardani
Kegiatan posyandu remaja dimulai dengan sambutan dari Sekertaris Desa Jatiroyom, dan bidan Desa Jatiroyom. Dilanjutkan dengan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah.
Selanjutnya, disampaikan materi oleh mahasiswi KKN Tim II Undip terkait pendidikan seksual guna menambah pengetahuan remaja. Pada akhir kegiatan, terdapat tambahan dari bidan Puskesmas Jatiroyom yang khusus menangani masalah pada remaja. Posyandu remaja sendiri dihadiri oleh remaja berusia 10-19 tahun, dimana mayoritas remaja yang datang berusia 11 tahun. Meskipun tidak semua remaja datang, antusias remaja sangat tinggi saat kegiatan berlangsung.
Harapannya, kegiatan posyandu dapat berjalan setiap bulannya seperti posyandu balita dan lansia. Tidak hanya itu, diharapkan posyandu remaja mampu mencegah stunting atau kurang gizi serta pergaulan bebas pada remaja di Desa Jatiroyom.
“Berhubungan dengan hal itu pula, diharapkan remaja mendapat pelayanan yang holistik dan berkesinambungan tidak hanya di puskesmas dan klinik, tetapi juga dari kegiatan posyandu remaja,” pungkasnya
Hadepe – Amelia Wahyu Kusuma Wardani
Prodi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Undip













