
Kamis, 2 Maret 2023. Foto: Kudnadi Saputro Blora
Dirinya yang menjabat sebagai Kepala Pengembangan Benih untuk wilayah Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta, melihat potensi dan strategisnya wilayah Kabupaten Blora, untuk pengembangan benih jagung merk Bisi, dan memasukkan dalam skala prioritas, untuk membantu petani di Kabupaten Blora, menjadi petani benih jagung yang unggul, sehingga menjadi lebih sejahtera. Tahap awal akan direncanakan 1000 hektar setiap musim tanam di Blora.
“Kami mendapatkan tugas untuk mengembangkan benih jagung ini, untuk memenuhi kebutuhan nasional dan bahkan internasional, karena permintaan komoditas jagung terus meningkat, dan di Blora ini menjadi prioritas, karena jaraknya yang lebih dekat dengan pabrik kami di Surabaya, juga semangat dari petani Blora yang antusias menanam jagung, target kita dari perusahaan, kemitraan ini akan kita laksanakan dari tahun ini yaitu 2023 hingga tahun 2030 nanti, dengan target 6000 – 7000 hektar produksi benihnya,” ungkap Budi Setyo Utomo.
Putaran Ekonomi Besar
Sementara itu, di saat yang sama Pakar Penelitian Tanaman Pangan dan Formulator Pupuk Organik Cair, Profesor Cahya Yudi Widianto, yang juga alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang ini, mengungkapkan betapa besarnya putaran ekonomi masyarakat petani jika mau menggarap potensi benih jagung ini.
Menurutnya, program kemitraan Bisma, yaitu kolaborasi pengembangan bisnis usaha tani untuk budidaya benih jagung Bisi dan pupuk Marolis, bisa membawa kesejahteraan untuk masyarakat di Blora, dengan perhitungan perputaran ekonomi yang sangat besar dari sektor ini, selain itu, dengan penggunaan pupuk organik cair secara besar – besaran akan menyehatkan kembali lahan petani.
“Pengembangan kemitraan Bisma ini, sangat luar biasa perputaran ekonomi untuk petani di Blora, selain harga pembelian yang cukup tinggi sebesar Rp. 4400 per kilogram, untuk jagung beserta tongkolnya, ada kepastian penyerapannya yaitu dibeli langsung oleh PT Bisi, untuk jagung betinanya, produksi panennya juga tinggi yaitu 5,6 – 7 ton per hektar, petani juga dimudahkan diberikan pinjaman sebesar Rp. 4 Juta, yang akan dipotong setelah panen nanti, dan diberi juga sebesar Rp. 700 Ribu untuk biaya panen petik bunganya, bisa dihitung kalau dikalikan 1.000 hektar per tahunnya bisa mencapai minimal Rp. 24,6 Milyar per musim tanam yaitu 105 hari setelah tanam,” jelas Profesor Cahya Yudi Widianto.
Sambut Program KHDPK
Di tempat yang terpisah, aktifis pertanian Jati Bumi, yang juga pendamping kelompok tani hutan di Kabupaten Blora, untuk menyambut pelaksanaan program Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK), menyambut baik upaya kemitraan antara pihak Bisi, produsen benih jagung dan pupuk organik organik cair merk Marolis, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Blora, termasuk kelompok petani hutan atau yang disebut KTH itu.













