
Oleh : Dr. KH. Muchotob Hamzah, M.M.

DALAM kitab Al-Hikam, Syaikh Ahmad ‘Athaillah al-Askandari memberikan status yang fenomenal, ideal dan kini jadi viral, yaitu:
من وجد ثمرة عمله عاجلا فهو دليل على القبول اجلا
Artinya: Barangsiapa yang menemukan buah dari amalnya di dunia ini, pertanda bahwa amalnya akan diqabul (terima) di akhirat nanti.
Jadi rapot yang akan kita terima di mahsyar sudah ada foto kopinya di dunia ini. Yakni bertambahnya amal saleh akibat dari amalan saleh yang telah kita lakukan sebelumnya. Untuk mudahnya, bisa dijadikan amalan Ramadan sebagai momentumnya.
Apakah setelah di bulan Ramadan umat Islam menjalankan shiyam, qiyaam, tadarus, sedekah, silaturahim dan lainnya, setelah bisa menjadi sababiyah bertambahnya amal dan kualitasnya saat di dunia ini? Adakah setelah Ramadan kita mampu bermetamorfosis menjadi orang yang bisa menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dan manusia serta alam?
Jika setelah amalan Ramadan kemudian kita menemukan amalan shalihan yang lain dengan kualitas terbaiknya, maka itulah indikasi shiyam kita diterima oleh Allah SWT. Itulah yang dimaksud oleh Syaikh Ahmad ‘Athaillah al-Askandari.
Sebaliknya jika setelah amalan Ramadan tersebut kita laksanakan malah panen amalan buruk, maka seharusnyalah kita introspeksi. Adakah amalan Ramadan saya kurang atau tidak ikhlas, masih suka berdusta, berbuat korup, tidak disiplin waktu dan lainnya?
Sekarang coba kita petakan lanskap hikmah dari buah amal Ramadan setelah satu bulan digembleng oleh Allah SWT., yaitu:
1. Hikmah Ruhaniyah: jiwanya menjadi penuh keikhlasan, ketawakkalan dan kesucian. Hal ini didapat dari rasa kedekatan dengan Allah SWT yang dikenal dengan istilah “Ma’iyyah ma’a Allah” (QS. 57: 4) ketika shiyam.
Bagaimana tidak? Wong tiap detik, menit dan jamnya selalu ingat pada Allah SWT. Dia tidak berani mokah (makan-minum atau jima waktu shiyam), bukan karena takut sama polisi, pemimpin, tentara dan lqinnya.
2. Hikmah jasadiyah. Orang yang shiyam (berpuasa) terbukti tambah sehat. Penelitian di banyak negara maju sudah tak terhitung banyaknya yang membuktikan hal ini.
3. Hikmah ijtima’iyah. Hal ini didapat dari rasa haus dan lapar. Orang shiyam harus merasa lapar dan haus agar merasakan derita kaum fakir miskin.
Lapar-haus tidak cukup diseminarkan, tetapi mesti dirasakan. Dengan demikian ia lebih termotivasi untuk mau berzakat, sedekah, infaq dan lainnya.
4. Hikmah iltizamiyah. Hal ini didapat dari ketatnya alokasi waktu bagi orang yang shiyam. Orang yang shiyam dibikin disiplin waktu sedemikian rupa.
Terbit fajar tidak boleh makan-minum, jimak dan lainnya sampai maghrib tiba. Belum lagi bangun tengah malam untuk i’tikaf di sepuluh akhir Ramadan.
5. Hikmah raja’iyah. Sikap optimis dan penuh harap. Orang shiyam senantiasa mengharap dua kebahagiaan. Pertama, ketika buka shiyam meski seadanya, dan kedua, ketika jumpa Tuhannya di akhirat:
للصاءم فرحتان. فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه (Muttafaq ‘Alaih).
Masih banyak sekali hikmah yang dapat dielaborasi. Namun dengan keterbatasan saya, silakan para pengkaji untuk menambah kontribusi ilmunya.
Wallaahu A’lam bis- Shawaab…
Dr KH Muchotob Hamzah, MM, Ketua Umum MUI Kabupaten Wonosobo.













