Ilustrasi.

MANUSIA dalam kondisi terdesak kebutuhan, karena iman dan nuraninya rendah dan kalah dapat melakukan apa saja, termasuk melakukan kejahatan dengan cara metafisis.

Tahun 1998 saya kedatangan tamu (pembaca buku) yang karyawan koperasi. Dia menggunakan uang tempat dia bekerja dan jumlahnya cukup besar. Karena dia tidak mampu mengembalikan, kemudian  menempuh jalan pintas.

Pertama, dia mendatangi tempat pesugihan dekat lokalisasi WTS di selatan terminal di kota TA. Oleh juru kunci, ujian pertama dia disuruh melihat air dalam sumur. Saat dia melihat, dia menangis karena melihat anaknya tampak bersusah payah ingin bebas dari air sumur itu

Spontan, dia menjerit karena tidak tahan. Itu artinya iman dan otak warasnya masih tersisa di kepala,  sehingga dia gagal karena hatinya belum satu frekuensi dengan setan dan para iblis.

Gagal dengan cara itu dia pilih ambil tuyul karena prosesnya dianggap lebih mudah. Sayangnya, tuyul hanya bisa mengambil uang recehan dan tidak bisa mengambil uang di mesin ATM seperti yang dia bayangkan.

Itu karena tuyul dan semua makhluk gaib itu tidak bisa masuk ke dalam medan magnet, atau benda yang terhubung dengan arus listrik.

Selain itu, tuyul hanya bisa mengambil uang cash yang berserakan. Uang yang ditata rapi atau dibundel dengan karet atau kertas, tuyul tidak bisa mengambilnya.

Fisik Tuyul

Menurut seseorang yang pernah mengambil tuyul, secara fisik tuyul itu tidak tampak, namun saat digendhong terasa berat.

Dia mengisahkan, pernah naik bus  sambil membawa tuyul. Cara  menggendongnya dengan cara dimasukkan dalam payung yang ditutup dalam posisi terbalik, yaitu gagang payung di atas.

Untuk pulang ke rumah, dia naik bus dari arah Purwodadi. Karena penumpang penuh dia tidak kebagian duduk ke jurusan rumahnya. Dia lalu sewa ojek dan sampai rumah malam hari.

Pagi hari tuyul itu dibuatkan kamar khusus sesuai saran pawangnya, yaitu ada ranjang kecil  lengkap dengan mainan anak-anak. Termasuk yang berat itu  dia harus mengondisikan rumahnya dalam kondisi sepi. Tidak boleh ada anak-anak berisik di areal rumah itu.

Rumah pun dibuat remang dan sering ditutup, dan jauhkan anak-anak tetangga bermain dalam dan sekitar rumah. Syarat lain, untuk menjaga ketenangan tuyul, saat menutup pintu atau jendela harus pelan, begitu pun saat bicara atau tertawa.

Cara mempekerjakan tuyul itu dipekerjakan dengan cara digendhong pada punggung menuju pasar. Termasuk dari salah satu tanda dari orang yang memelihara tuyul itu jika berjalan pagi hari, posisi kedua tangan di belakang.

Sebelum dikaryakan, tuyul  ditraining dulu, diperkenalkan dengan uang satu jenis saja, karena itu dia tidak bisa mengambil semua uang. Dia hanya tahu uang yang dikenalkan pawang dan majikannya. Jadi ketika nanti ada pergantian mata uang, tuyul sudah tidak bisa,  sehingga dia menggelandang.

Karena tuyul hanya mengenali satu jenis mata uang, dia tak mau ambil dollar. Arinya, “Tuyul itu cinta rupiah.” Hal lain yang perlu diketahui, tuyul hanya bisa mengambil uang yang berserakan. Untuk uang yang diikat karet atau kertas, tidak bisa diambil.

Syarat lain bagi yang punya tuyul itu dia wajib pelit. Jika duit disedekahkan, tuyul jadi malas-malasan, bahkan bisa minggat. Sedangkan yang disukai tuyul jika dia punya majikan perempuan yang gemuk dan berpayudara besar dan majikan pria yang kurus berjakun besar.

Tuyul tidak minta tumbal, namun dia suka ngambek atau minggat ketika suasana rumah sudah tidak nyaman atau terlalu gaduh. Sedangkan minuman yang paling dia sukai adalah alkohol Jawa, yaitu air tape.

Karena tuyul  itu makhluk gaib, cara makan minumnya juga gaib. Air tape yang diminum itu bukan airnya, melainkan sifat bendanya. Air tape yang sudah diminum tuyul, jika dijilat manusia, rasanya sudah sepa atau rasa manisnya sudah hilang.

Merawat tuyul, layaknya merawat anak kecil. Selain itu juga ada resikonya. Yaitu, jika tuyulnya ditangkap oleh orang yang menguasai ilmunya, jika tuyul itu disakiti, yang memelihara tuyul juga ikut merasakan sakitnya.

Cara melepas tuyul yang sudah tidak dikehendaki, mudah saja. Kamar tempat istirahatnya dilempar petasan, atau pasang genteng kaca agar kamar kemasukan sinar matahari, atau pada kamar diletakkan benda yang tidak disukai, diantaranya kulit durian.

Pawang Palsu

Belakangan, muncul pawang-pawang palsu yang memanfaatkan media sosial, dsb, untuk menjaring orang yang gelap mata hingga akalnya kurang sehat, sehingga dia ingin memelihara tuyul. Mereka mengiklankan jasa jual tuyul.

Namun  setelah transaksi, tidak terjadi keajaiban seperti yang dijanjikan, dan jika dikomplain, jawabnya enak, belum jodoh. Intinya, untuk urusan rezeki, lebih nyaman melalui kerja riil yang tidak melanggar hukum agama dan negara.

Karena makan barang yang halal itu lebih menentramkan hati, mengundang keberkahan bagi diri sendiri dan berimbas ke anak cucu.

Masruri, penulis buku, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan Cluwak, Pati