JEPARA (SUARABARU.ID) – Kali Bening yang semula dikenal sebagai sungai Ngerbu adalah salah satu tempat wisata alam andalan Desa Tanjung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara. Bahkan banyak yang menyebut sebagai lokomotif wisata di Lereng Gunung Muria
Berada di lembah di antara lereng-lereng bukit sisi barat gunung Muria, Kali Bening yang terletak di dukuh Ngerbu diapit dua dukuh paling timur desa ini, yakni Dukuh Gronggong dan Dukuh Jabung. Ke arah timur lagi hanya ada lereng, lalu puncak gunung Muria yang nampak indah.

Sesuai namanya, air sungai yang alirannya membelah titik utama lokasi wisata Kali Bening begitu jernih. Tanpa pengunjung, suara gemercik air yang alirannya meliak-liuk di antara bebatuan, terdengar begitu jelas dari pemukiman penduduk.
Jika pun tanpa gemercik, keheningan aliran sungai di bagian kedung, menjadikan tempat itu paling disukai pengunjung yang senang berendam. Padi yang menguning mendekati masa panen di persawahan barada di kanan dan kiri sungai, menjadi bagian lain keindahan alam yang menambah daya tarik tempat wisata ini.
Meski berada di lembah, di antara lereng-lereng barat gunung Muria, akses jalan ke Kali Bening terhitung mudah. Permukaan mulus dengan aspal hotmix mendominasi jalan yang berkelak-kelok di antara perbukitan. Nyaris tidak ada medan yang memberikan kesulitan berarti kepada pengunjung, baik yang mengendarai kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sejak dibuka untuk wisatawan lebih dari dua tahun lalu, Kali Bening ramai pengunjung. Dari arah kota Jepara, Kecamatan Mlonggo, Kecamatan Pakisaji, maupun Kecamatan Bangsri, pengunjung bisa mengarahkan kendaraan ke Desa Plajan. Melewati situs Gong Perdamaian Dunia, lalu mengikuti jalan utama hingga ke lokasi.
Obyek Wisata Kali Bening yang kini dapat disebut sebagai salah satu lokomotif pariwisata di kaki timur pegunungan Muria itu lahir dari tangan dingin Amin Ayahudi sekitar 3 tahun lalu. Disamping dikenal sebagai seorang ASN, Amin juga dikenal sebagai pegiat budaya Jepara yang melahirkan banyak even budaya.
Ia juga sangat mencintai lingkungan hingga berhasil mengembangkan Bukit Joko Tuwo menjadi Bukit Cinta di Karimunjawa. Juga kawasan wisata di Desa Dudakawu. Ia juga aktif di komunitas bonsai Jepara.
Tidak banyak yang tau, jika Kali Bening ini bermula kebiasaan Amin menyusuri hutan dan sungai, termasuk sungai di dukuh Ngerbu Desa Tanjung. Tujuannya untuk mencari pohon yang dapat di bentuk menjadi tanaman bonsai dan juga menikmati keindagan alam.
“Saat berada di sungai tersebut, tiba – tiba saja hujan turun deras hingga saya terpaksa berteduh di rumah pak Karnoto yang terletak dipinggir sawah. Ketika itu saya menyaksikan keindahan yang luar biasa dan sekaligus potensi yang tersembunyi di kaki gunung Muria,” ujar Amin Ayahudi mengenang awal ketertarikannya mengembangkan kawasan tersebut menjadi obyek wisata alam setelah ia membeli tanah dari pemiliknya.

Bak gayung bersambut. Apa yang dilakukan Amin tersenyata mendapat sambutan hangat dari Petinggi Desa Tanjung, Dwi Ganoto yang ingin mengembangkan desa di lereng Muria tersebut menjadi sebuah desa tujuan wisata. Karena itu infrastruktur jalan mendapatkan perhatian khusus, juga tanaman kopi, pengembangan obyek wisata Air Terjun Jurang Nganten, Batu Lawang.dan Bukit Tanjung. yang terletak di wilayah perbukitan Jati Pasar.
“Semua jalan ke wilayah padukuhan, utamanya yang memiliki potensi wisata kami perbaiki. Harapan kami menjadi salah satu daya tarik wisatawan,” ujar Dwi Ganoto. Dengan demikian, dapat menambah penghasilan masyarakat setempat.

“Memang keindahan alam inilah yang kami tawarkan kepada pengunjung. Kami bersyukur sejak dibuka lebih dari dua tahun lalu, Kali Bening semakin ramai. Karena itulah kami terus menambah fasilitas wisata di tempat ini. Mulai dari tempat parkir, warung, spot foto, tempat bersantai, hingga fasilitas MCK,” ujar Petinggi Tanjung Dwi Ganoto.
Harapan kami, kesadaran warga yang telah tumbuh untuk merawat lingkungan dan menjaga kebersihan desa terus dipelihara. “Jangan sampai wisatawan kecewa karena desa kita kotor. Hal lain yang perlu terus ditingkatkan adalah keramahtamahan warga hingga pengunjung merasa nyaman,”ujar Dwi Ganoto.

Sementara menurut Al Munaroh, pokdarwis pengelola Kali bening adalah seluruh warga di 2 RT di sekitar lokasi itu, yakni RT 31 dan RT 32 RW 5 Desa Tanjung. Setiap keluarga mendapat jatah 1 orang untuk piket menjaga lokasi.
“Pembagiannya berdasar hari pasaran, Wage, Kliwon, Legi, Pahing, dan Pon. Masing-masing 13 orang. Dengan demikian setiap kelompok punya kesempatan berjaga pada hari ramai pengunjung, yaitu Jumat sampai Minggu,” ujar Al Munaroh.
Warga Turut Menikmati
Pada hari-hari ramai, setiap orang bisa mengantongi pendapatan di atas Rp150 ribu, bahkan bisa Rp 200 ribu lebih. Pendapatan berasal dari tiket masuk sebesar Rp 5 ribu per motor, dan Rp15 ribu per mobil.
“Tidak per pengunjung, tapi per kendaraan. Itu sudah termasuk fasilitas parkir gratis sampai pukul 16.00 WIB. Kalau pulang lebih sore, ya, ditarik parkir Rp2 ribu per motor dan Rp 5 ribu per mobil,” terangnya. Tentu saja tidak semua pendapatan dari tiket masuk lokasi menjadi milik warga yang berjaga,ujarnya
“Bagian tugas parkir dan jaga hanya 40 persen. Kami berkontribusi 10 persen pendapatan ke pemerintah desa. Sedangkan sisanya untuk kas wisata dan pemilik lahan parkir. Kas itu bisa kami gunakan untuk terus menambah fasilitas wisata di sini. Tapi kalau bangunan MCK itu bantuan dari atas, dari pemerintah,” kata Al Munaroh.

Lazimnya tempat wisata, warga juga mendapat manfaat ekonomi dari usaha pelengkap, yaitu warung. Agar tidak ada pengunjung kena tengkik, ada kesepakatan harga semua jenis makanan dan minuman. Harga tertera pada banner yang terpasang di semua warung.
Setidaknya ada 15 warung untuk melayani kebutuhan pengunjung. “Kalau pas ramai, nilai transaksi kami bisa mencapai Rp500 ribu dalam sehari. Keuntungannya sekitar seribu rupiah per kemasan makanan atau minuman,” kata Ngadiman, warga RT 31 RW 5 yang sekaligus salah satu pemilik warung di Kali Bening.
Realitas meningkatnya perekonomian itulah yang membuat warga berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Mereka ingin Kali Bening tak lagi hening dan bisa kembali dibuka untuk wisatawan. Kali Bening juga diharapkan menjadi lokomotif periwisata di kaki pegunungan Muria yang terbentang mulai dari Bategede di Nalumsari hingga Tempur di Kecamatan Keling
Hadepe – Alvaros – Indra













