blank
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat ketika menerima kunjungan MTCC UMM. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO(SUARABARU.ID)-Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menerima kunjungan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) dan The Union di Pringgitan Pendopo Bupati, kamis pagi 22/4/2021.

Didampingi Kabag Hukum Setda Nurwahid dan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonosobo dr Mohamad Riyatno MKes, Afif Nurhudayat menyambut baik kedatangan MTCC UMM.

Maksud kunjungan tersebut menurut Pendamping MTCC UMM dari The Union Fauzi Ahmad Nur adalah karena melihat Wonosobo yang merupakan salah satu daerah yang saat ini harus mempunyai regulasi khusus untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat, khususnya kepada anak-anak terkait dengan bahaya rokok.

“Kami datang ke sini memang untuk mengawal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dari Presiden untuk menurunkan prevalensi merokok anak-anak di Indonesia,” tandasnya.

Khususnya yang didatangi saat ini di Wonosobo, ingin memberikan bantuan teknik untuk bagaimana Wonosobo bisa mempunyai regulasi yang bisa melindungi masyarakat khususnya anak-anak dari bahaya rokok.

Pihaknya akan memberikan bantuan pendampingan secara teknis terkait regulasi tersebut hingga selesai, sesuai program kerja UMM. Dari hal itu ia berharap agar Kabupaten Wonosobo segera mempunyai regulasi tersebut, baik dalam bentuk Peraturan Bupati ataupun Peraturan Daerah.

“Kami berharap nanti Wonosobo segera mempunyai regulasi baik dalam bentuk Peraturan Bupati ataupun Peraturan Daerah dan kami akan memberikan bantuan teknis pendampingan sampai selesai, dengan program kerja UMM ini,” ujarnya.

Bupati menyambut baik, kunjungan dan rencana kerjasama tersebut. Karena menurutnya hal ini merupakan sebuah pekerjaan rumah yang sudah lama, dan programnya harus terus berjalan walau dengan cara perlahan dan harus disertai adanya edukasi kepada masyarakat.

Banyak Tantangan

blank
Delegasi MTCC UMM menyerahkan poster pesan moral larangan merokok di ruang publik. Foto : SB/Muharno Zarka

Karena, menurutnya, ada banyak tantangan yang dihadapi, salahsatunya sebagian wilayah di beberapa Kecamatan yang masyarakatnya mengandalkan hasil pertanian dari menanam tembakau.

Afif menegaskan pihaknya akan meneruskan kepada Instansi teknis terkait untuk melaksanakan konsolidasi dan koordinasi terkait hal ini.

“Kami menyambut baik, kerjasama ini baik dan saling support. Kami melihat hal ini memang merupakan sebuah pekerjaan rumah yang sudah lama yang harus terus dijalankan walau dengan perlahan. Harus ada edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Karena ada banyak tantangan di sana,” katanya.

Salah satunya, imbuh dia, di beberapa kecamatan di Wonosobo masyarakat petaninya mengandalkan pada sektor pertanian tembakau. Ini akan teruskan ini ke Instansi teknis terkait untuk lakulan konsolidasi internal dan berkoordinasi.

Sementara itu, Plt Kepala DKK Wonosobo dr Muhammad Riyatno MKes menyatakan pihaknya sebenarnya sudah sejak tahun 2018 lalu, sudah melakukan upaya sosialisasi dan edukasi termasuk audiensi dengan Pimpinan Daerah untuk setidaknya membuat regulasi di daerah.

Regulasi perihal bahaya rokok tersebut sebagai pedoman untuk penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap gedung perkantoran dan fasilitas umum, namun belum berhasil. Pihaknya program tersebut bisa berjalan di masa-masa yang akan datang demi kesehatan bersama.

“Sebenarnya sudah sejak 2018 lalu, DKK sudah berupaya untuk sosialisasi dan edukasi termasuk audiensi dengan Pimpinan Daerah untuk membuat regulasi di daerah sebagai pedoman untuk penetapan KTR di setiap gedung perkantoran dan fasilitas umum, namun belum berhasil,” terangnya.

Terkait kedatangan TCC UMM, DKK akan menindaklanjuti dengan membuat draft Peraturan Bupati tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di tahun ini, yang kemudian dangan bantuan pendampingan dari UMM bisa untuk sosialisasi dan edukasi ke Institusi dan pengelola fasilitas umum.

“Dengan kedatangan UMM dengan TCC-nya DKK akan menindaklanjuti dengan membuat draft. Setidaknya Perbup tentang KTR di tahun ini, yang kemudian bisa dengan pendampingan dari UMM untuk sosialisasi dan edukasi ke Institusi dan pengelola fasum,” katanya.

Muharno Zarka