Oleh: Tyas Titik W, M.Pd

Angin segar berhembus di dunia pendidikan. Setelah satu tahun lebih pembelajaran di semua tingkatan sekolah dilaksanakan secara daring, akhir-akhir ini beberapa daerah mulai melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka.

Tidak dipungkiri, banyak pihak  berharap genderang pembelajaran tatap muka segera ditabuh. Para siswa, guru, orang tua, dan warga masyarakat sudah  merindukan sekolah dapat berfungsi seperti sedia kala.

Sementara itu  ancaman virus covid 19 belum dapat dikatakan aman. Selain protokol kesehatan yang ketat, hal apakah yang dapat disiapkan oleh pihak sekolah, khususnya guru?

Ilustrasi pembelajaran sebelum pandemi

Mendukung Program Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar adalah program kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim.

Salah satu ciri pelaksanaan  merdeka belajar antara lain terciptanya nuansa pembelajaran yang lebih nyaman. Murid dapat berdiskusi lebih  leluasa dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi.

Pembelajaran tatap muka sebelumpandemi sepertri ini yang dirindukan guru dan murid.

Program ini tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.( Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Konsep merdeka belajar harus dimaknai sebagai pemberian peluang bagi guru untuk berani mencoba, berekpresi, bereksperimen, menjawab tantangan, serta berani berkolaborasi untuk berkontribusi dalam melahirkan pendidikan lebih baik dan bermakna.

Keluar dari Zona Nyaman

Permasalahan yang dihadapi saat ini, masih ada guru yang belum dapat mengikuti ritme kebijakan yang diterapkan, sehingga bisa dimungkinkan bahwa program yang seharusnya dapat terealisasi jadi terhambat. Hal tersebut dimungkinkan karena mereka terlena dengan zona nyaman. Kenyataan tersebut bisa dilatarbelakangi oleh dua kemungkinan.

Pertama, guru sudah terbiasa dengan konsepsi lama sehingga merasa untuk melakukan perubahan dengan mengikuti ritme yang berlaku. Kedua, guru belum memiliki pemahaman komprehensif tentang konsep baru yang diterapkan, sehingga melahirkan kegamangan untuk dapat menerapkannya. ( Dadang A. Sapardan )

Pembelajaran Berdiferensiasi

Dewasa ini, berbagai metode pembelajaran inovativ sudah diperkenalkan  kepada para guru.  Salah satunya adalah metode pembelajaran berdiferensiasi. Meskipun sudah beberapa sekolah yang menerapkannya, namun masih ada juga guru yang belum melaksanakan bahkan belum mengenalnya.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara agar peserta didik memahami informasi baru. Tentu saja bagi semua siswa dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam.  Metode pembelajaran ini mengajak Pendidik harus berpikir dengan cara yang berbeda mengenai belajar dan mengajar.

Dasar pemahaman pembelajaran deferensiai adalah pendidik  harus mengenal siswanya sebagai pribadi individu yang unik dan proaktif . Pengalaman belajar paling efektif adalah ketika pembelajaran tersebut berhasil mengundang murid untuk terlibat, relevan, dan menarik .

Lebih lanjut, pembelajaran berdiferensiasi mengakui bahwa pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang akan datang harus dibangun di atas pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman sebelumnya. Tidak semua murid memiliki fondasi belajar yang sama pada awal proses pembelajaran.

Pembelajaran berdiferensiasi ditandai adanya irama berulang dari melakukan persiapan kelas, mengulas kembali, dan berbagi, yang kemudian diikuti oleh kesempatan untuk eksplorasi individu atau kelompok kecil, ekstensi, dan produksi.

Penilaian

Penilaian tidak lagi didominasi sesuatu yang terjadi pada akhir unit, namun akan dimulai sejak penilaian  dilakukan saat awal unit. Di sepanjang unit pembelajaran, guru menilai tingkat kesiapan, minat, dan pendekatan belajar yang digunakan murid dan kemudian merancang pengalaman belajar berdasarkan pemahaman terbaru dan terbaik tentang kebutuhan murid.

Produk akhir, atau cara lain dari penilaian akhir atau sumatif, akan mengambil berbagai bentuk, dengan tujuan untuk menemukan cara terbaik bagi setiap murid untuk menunjukkan hasil belajarnya selama unit tersebut berlangsung.

Anda tertantang untuk melaksanakan ? Silahkan melanjutkan penjelajahan. Sumber : https://inservice.ascd.org/7-reasons-why-differentiated-instruction-works/)

Penulis adalah Pengawas SD Satkordikcam Mlonggo.