
”Mudah-mudahan ini kado terbaik yang bisa diberikan untuk umat Kristiani, wabil khusus di Gereja Dermolo. Kita tunjukkan kita bisa kok menyelesaikan persoalan dengan baik, sangat toleran, kekeluargaan, dan tulus dari dalam hati. Kita mesti jaga ini terus menerus dan tularkan di beberapa tempat, agar masyarakat Indonesia bisa beribadah di rumah ibadah dengan baik. Selamat paskah,” pungkas Ganjar.
Seusai ibadah, jemaat menggelar silaturahmi dan perayaan Paskah Kebangsaan, yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan agama.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng, KH Taslim Sahlan menyatakan, pihaknya bersama sejumlah tokoh agama sengaja hadir untuk merayakan kebahagiaan umat Kristiani, khususnya jemaat GITJ Pepanthan Dermolo, yang akhirnya bisa menempati rumah ibadah tersendiri.
BACA JUGA: Kisah Patroli Polsek Karanggayam Selamatkan Ibu Hamil di Desa Terpencil
Menurutnya, kehadiran rumah ibadah untuk jemaat GITJ Pepanthan Dermolo menjadi contoh toleransi antarumat beragama, yang sangat layak untuk direplikasi di wilayah lain di Nusantara.
”Kami sangat senang, karena di Jepara khususnya di Desa Dermolo ini, masyarakatnya sangat toleran, gotong royong, saling menghormati. Toleransi yang sangat baik ini patut dijadikan contoh atau diduplikasi di tempat lain,” imbuh Taslim.
Sebuah apresiasi juga turut disampaikan Bupati Jepara, Dian Kristiandi. Disampaikan dia, pihak Pemkab turut mengapresiasi penyelenggaraan Paskah Kebangsaan yang dihadiri umat beragam agama, dan dirayakan dengan penuh kesederhanaan serta menaati protokol kesehatan.
BACA JUGA: Polri dan TNI di Batang Amankan Minggu Paskah
”Ini menunjukkan, Jepara dengan beragamnya pemeluk agama, kerukunan itu terjadi. Tentu kami selalu berharap kedamaian, kebersamaan, kegotongroyongan. Maka kita harus bergandeng tangan bersama-sama untuk menegakkan persatuan Indonesia,” harap Dian.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jateng, Haerudin berharap, kehadiran rumah ibadah GITJ Pepanthan Dermolo menjadi langkah awal, untuk merawat kebhinekaan dan keragaman di NKRI.
”Saya berharap masyarakat bersatu padu bergotong royong dalam rangka membangun daerah ini, tanpa harus menonjolkan perbedaan keyakinan. Perbedaan keyakinan adalah sebuah keniscayaan, dan konstitusi kita menjamin itu,” tandas Haerudin.

Riyan-Sol













