Kabut Kelam Majapahit.

(Tahun 1405, Majapahit setelah Prabu Hayam Wuruk meninggal).

KABUT terlihat begitu pekat, warnanya kelam tak terurai. Pagi lebih pucat dari hari-hari sebelumnya, rerimbunan hutan tak lagi berayun oleh angin. Alam takzim, hutan-hutan tertunduk, seperti kehilangan gairah untuk terus tumbuh. Sesekali terdengar langkah kuda menembus pagi. Langkahnya tak beraturan, menerabas lahan atau apa saja yang ia lalui. Kuda itu telah terpisah bersama rombongannya. Larinya serupa hewan yang ketakutan.

Sudah berhari-hari sang kuda terlihat kelelahan. Sepasukan punggawa kerajaan menungganginya ke arah timur. Mereka berperang tak putus-putus, sampai kemudian pasukan yang menungganginya terlempar ke tanah dengan pedang tertancap persis di lambung. Naluri kebinatangannya berjalan sebagaimana biasa. Ia tidak menunggu atau mengolah pikiran harus bagaimana, kecuali akhirnya berlari kencang meninggalkan arena. Sampai kemudian menemukan jalan setapak ke arah hutan ini.

Mungkin peperangan masih berlangsung lama sesudahnya, karena suara teriakan  dan gerudugan langkah beratus kuda masih terdengar dari tempatnya kini. Sampai akhirnya tak terdengar lagi apa yang terjadi. Langkah kuda belum berhenti, meski kecepatannya tidak seperti tadi. Nafas terengah, mulutnya menyembur lendir dan hawa panas.

Tiba-tiba seseorang muncul dari tanaman perdu yang rendah. Tubuhnya melenting tinggi dan langsung menaiki punggung kuda itu. Si kuda memberontak, ia tidak mengenali siapa orang asing itu. Namun orang tak dikenal tersebut dengan sigap berhasil menguasai pelana kuda. Ttangannya menepuk-nepuk tubuh kuda sambil berucap isyarat yang hanya bisa dipahami oleh para hewan sepertinya.

“Sebelum matahari terbit, bawa aku ke tengah hutan. Di sana ada danau yang jernih tempat kita berhenti,” berkata begitu sambil tangannya kembali menepuk beberapa kali. Seperti telah bisa membaca bahasa sasmita itu, langkah kuda pun berlari kencang sesuai aba-aba si penunggang. “Hewaaaa …!!!” teriaknya sambil menepuk punggung kuda semakin kuat.

Seperti mendapatkan majikan baru, kuda pun berlari secepat angin. Langit terang tanah, bebunyian binatang melata masih tersisa di kiri-kanannya. Hingga tak terdengar lagi kini suara langkah itu. Bahkan tak terlihat kemana kini arahnya. Sepasang perbukitan kecil mulai terlihat, di tengah-tengahnya terdapat hutan kecil dengan pepohonannya yang besar dan perawan.

Kabut mulai surut perlahan. Kehidupan pun bermula, cahaya matahari menyemburat di  sela  pepohonan hutan itu. Namun telapak kaki kuda yang dini hari tadi lewat di sana sudah tak berbekas sama sekali. Seperti juga peperangan, yang bekasnya selalu lenyap seketika kecuali bau anyir dari para mayat sebagai kurban.

***

            Matahari kini naik perlahan, ketika anak muda itu menuntun kuda tunggangunya ke ceruk danau. Kini keduanya seperti sudah saling paham, pemuda bertubuh tinggi kuat itu sesekali mengelus rambut sang kuda. Percakapan kecil pun terdengar,  seolah si kuda pasti mengerti apa yang dimaksudkan,

“Minum yang cukup, Jayeng. Sekarang kupanggil kau Jayeng, ya. Agar kau menjadi kuda yang berlari kencang dan tak terkalahkan, “ bisik si pemuda yang kemudian melanjutkan kata-katanya, “Berdiamlah di tempat ini sebentar, akan kucari rumput segar untukmu!”

Namun si Jayeng malah berusaha lari-lari kecil ke rerimbunan pohon perdu agak jauh dari danau.

“Hey, Jayeng ! Jangan jauh-jauh, istirahat saja di sini, biar aku yang mencari makan untukmu.”

Anak muda itu buru-buru menyingsingkan kain lengan dan celananya. Ia secepatnya menangkap tali pelana untuk diiikatkan ke juluran akar pohon terdekat. “Nah, aman. Kau tak lagi bisa kemana-mana sekarang. Oh iya, panggil namaku Jaka Pandan, aku salah seorang punggawa Kerajaan Timur di Majapahit.”

Berkata begitu, serta-merta tubuhnya meloncat ke tanah yang dirumbuhi rumput lebat. Tubuhnya seperti tak memiliki bobot, karena loncatannya serupa kijang. Tubuh itu melingkar sesekali ke udara sebelum akhirnya menapak tanah. Entah sejak kapan tangannya menghunus parit, serupa gasing, putaran tubuh Jaka Pandan telah menebas setumpukan rumput yang tumbuh lebat.

“Ini namanya rumput gajah, di sekitar kerajaan jenis rumput ini sudah tak boleh ditebas.” teriaknya keras. Ia pun memutarkan tubuh, menebas setumpukan lagi rumput di kiri kanannya. “Jayeng !! Tak seorang pun tahu siapa sebenarnya Arya Pandan. Yang orang-orang kerajaan kenal akulah Bhre Maharsa. Aku adalah adipati muda kepercayaan Bhre Wirabumi, penguasa kerajaan.”

Seolah-olah mengerti kata-kata tuannya, Jayeng pun meringkik panjang. Kakinya melonjak tinggi ke atas dan meringkik, “Hieeeeh….hieeeh!”

“Ha ha ha … kau memang tunggangan perkasa, Jayeng, karena kakimu berkekuatan besar, kecepatan larimu sungguh tak terkejar.”

Dalam waktu sekejap, segulungan besar rumpur gajah itu tergendong di punggungnya. Arya Pandan menyeka keringat, kembali ia meloncat dalam sekali pijakan tanah. Tidak lama setelah itu, gulungan rumput diletakkan di tepi danau, Jayeng menghirup air danau sepuasnya, lantas melahap helai-helai rumput itu dengan sangat berselera.

“Segera bawa saya ke padepokan terdekat dari hutan ini. Kau pasti lebih tahu hendak ke mana kita, karena kau kuda terbaik pasukan kerajaan barat. Saya akan meninggalkan kerajaan barang tiga – empat hari, karena seseorang telah menunggu.” Yang dimaksud Arya Pandan tak lain adalah Ki Damar Jati. Sesepuh padepokan tua yang selama ini tak pernah diurus oleh Kerajaan Barat maupun Timur sejak Majaphit terpecah dua.

Ketika keduanya sedang berasyik-masyuk dengan bahasanya sendiri, tiba-tiba dari kejuahan terdengar suara gemuruh. Arya Pandan memasang telinga lebih seksama, ia memperkirakan suara ini serupa yang pernah didengar sebelumnya.

“Jayeng,” katanya, sambil langkahnya mendekat ke tubuh Jayeng. “Ini seperti suara langkah ribuan kuda yang menuju kemari. Bersembunyilah, aku akan menaiki pohon besar itu dan bersembunyi. Cepat !!”

Gemuruh ribuah langkah kuda semakin lama kian kentara. Secepat itu pula Jayeng meringkik lari sesudah dilepas talinya. Tubuh Arya Pandan melenting satu kali ke udara dan mencapai dahan terendah pohon yang dituju. Hingga akhirnya mencapai vabang tertinggi di rimbunan pohon itu.

“Lari, Jayeng ! Larilah jauh dari jalan besar hutan yang bisa dilewati!!”

Terlihat kemudian, Jayang menghentikan langkahnya dengan kepala melongok ke Arya Pandan.

“Lariiii, ayo larii !! Menunggu apa lagi??”

Seperti mengerti perintah Arya Pandan, Jayeng pun mengambil langkah lebar-lebar, menuju ke dalam rerimbunan hutan. Semakin lama semakin tak terlihat di mana Jayeng kini. Sementara langkah kuda semakin terdengar jelas dari atas pohon tempat Arya Pandan melingkarkan tubuhnya pada cabang besar.

Dan ketika serombongan besar pasukan berkuda itu sudah terlihat melintas di bawahnya, Arya Pandan semakin ciut nyali. Ia melihat panji-panji yang sekelebatan dibawa oleh para tamtama. Tidak saja berpacu kencang, namun para pasukan berkuda itu saling berteriak menjeritkan kemenangan.

“Mereka itu pasukan Kerajaan Barat pimpinan Sinuhun Wikramawardhana. Mereka seperti tentara yang baru menang perang. Berarti pasukan Kerajaan tTmur pimpinan Sinuhun Bhre Wirabhumi dikalahkan,” desisnya dalam hati.

Gemuruh itu terus berderak ke selatan. Tidak satupun manusia yang tersisa selain  mereka. Mungkin perang kali ini tidak hanya butuh kemenangan, melainkan juga martabat mulia. Peperangan saudara antara Kerajaan Barat melawan Kerajaan Timur yang sama-sama keturunan Sinuhun Raja Majapahit ini mungkin akan berlangsung lama. Akhirnya kebesaran kekuasaan tak mampu mengalahkan pesona perempuan di antara para keturunannya. Darah membanjiri bumi yang semula terdiam sunyi. Kini mereka terancam saling membinasakan, yang mengakibatkan satu generasi bakal menghilang.

Suara rombongan sepasukan Kerajaan Barat pun akhirnya lenyap. Tak terdengar apa-apa lagi kecuali tatap mata penuh waspada Arya Pandan ke segenap penjuru. Sampai tengah hari, ketika matahari meninggi, Arya Pandan masih belum turun dari persembunyiannya di ujung pohon besar. Namun ia buru-buru menjatuhkan tubuhnya ketika mengetahui Jayeng dari kejauhan telah berlari menuju ke tempatnya.

“Hieeeeh, hieeeh !!!” Kuda itu meringkik sekeras-kerasnya. Seperti kembali menemukan seseorang yang telah menenteramkan hatinya.

“Jayeng, kita harus segera menuju ke padepokan!”

Jayeng serta-merta bersiap hendak membawa Arya Pandan ke suatu tempat

“Heeeeeaaaaaa !!!” Dalam kedipan mata, tubuh Arya telah berada di punggung Jayeng. Tanpa berkata-kata, kuda itu membawanya berlari ke arah utara, menerabas rerimbun pohon besar yang bisa diterabasnya. Matahari cahayanya sesekali mengikuti arah larinya, cahayanya menerobos dengan gagah di sela-sela pohon yang dilewati kuda tangguh tadi.

“Paham kan, kita hendak ke mana? Jangan kembalikan aku ke istana,” teriaknya di dekat telinga si kuda.

“Hieeeeh…! Hieeeh…!” Jayeng kembali meringkik kencang.

“Paham arah mana yang hendak kutuju? Padepokan besar Ki Damarjati Wasesa ke arah utara sana.”

“Hieeeeh …hieeeh !!”

Semakin masuk ke dalam, hutan terlihat semakin suram. Hanya mengikuti pertanda di mana Jayeng sangat menguasai cara mendapatkan arah yang mudah. Tangan Arya Pandan hanya mengepal pelana kuda kuat-kuat. Bahkan ranting dan dahan yang tumbuh rendah sudah sejak tadi menggampar kakinya. Rasa sakit sudah tak lagi dihiraukannya.

Yang ada dalam pikirannya, segera meninggalkan Kerajaan Timur Majapahit, untuk hidup berbaur dengan rakyat biasa di desa. Arya Pandan yang bernama sebenarnya Bhre Maharsha, telah lama mendapatkan cerita tentang Ki Damarjati Wasesa. Ki Wesi Ireng, orang sakti kepercayaan Kerajaan Timur sebagai ahli jamas pedang, keris dan tombak, adalah orang pertama yang menceritakannya.. Kini Arya Pandan menuju ke arah padepokan yang tidak banyak dikenal itu. Entah masih jauh atau sudah dekatkah? Di atas kuda, mata Arya Pandan terus memejam, doanya melafalkan harapan kepada Dewata, mengenai apa yang diinginkannya.

***

            Ini adalah abad yang terus berlalu. Memasuki Abad ke 14, Kerajaan Majapahit tidak semakin terlihat gemilang, melainkan mengalami masa surut yang panjang. Masa kejayaan telah berlangsung ketika Raja Hayamwuruk bertahta didampingi Maha Patih Gajahmada. Lambat-laun langit memucat di atas bumi Majapahit, ketika Gajahmada berpulang. Itu terjadi sekitar tigapuluh lima tahun yang lalu. Mendung semakin pekat ketika Raja Hayamwuruk pun mangkat empat belas tahun sesudahnya.

Sejak saat itu, keributan terus terjadi di dalam istana. Semakin terlihat, kerajaan yang dibangun Hayamwuruk sebagai dua wilayah yang disepakati, kini semakin nyata. Majapahit bagian barat atau Kerajaan Barat dipimpin menantu Raja Hayamwuruk bernama Wikramawardhana. Wikramawardhana adalah putra menantu dari istri utama, sedangkan Kerajaan Majapahit Timur di bawah kekuasaan Bhre Wirabhumi,  putra Hayamwuruk yang lahir dari rahim seorang selir.

Di tengah keributan yang semakin menajam itu, hadirlah seorang senapati muda bernama Bhre Maharsha. Anak muda pemberani dan mahir berperang dengan pedang ini ditemukan oleh Bhre Wirabhumi dari dalam kerabat Kerajaan Timur. Begitu terpesonanya Wirabhumi terhadap Bhre Maharsha, sampai-sampai dirinya berangan kelak seperti itulah calon pemimpin sepeninggalan dirinya. Sayang darah Bhre Maharsha sama sekali tidak berbau keturunan Hayamwuruk. Ia hanyalah anak seorang pujangga kerajaan bernama Ngabehi Sancaka Mahreswara.

Bhre  Maharsha sendiri selain gemar berperang, ia dikenal bersikap sangat santun  terhadap para tetua. Kepintarannya mencipta tembang asmaradhana , yang beberapa syair diangkat dari serat kemuliaan ayahandanya. Pada malam purnama yang terang benderang, saat penanggalan tua, di tengah tanah lapang, Bhre Maharsha kerap menembangkan karyanya. Di balik perkampungan bahkan di dalam tembok kerajaan, para putri sering mencuri pandang. Di manakah arah suara itu. Jika di antara mereka ada yang berhasil mendapati Bhre menembang, ia buru-buru mengundang putri yang lain agar ikut menyaksikan.

“Aiiih, aiiih, indah sekali suaranya. Kemarilah Dinda, lihatlah dari tempat ini, siapakah dia !”

“Mana-mana, Kanda? Jangan sampai kita kehilangan jejak indahnya.”

“Itu, kau intip dari celah jendela istana. Sudahkah terlihat?”

“Ooh, ooh itu ya? Aiiih, sangat mempesona Kanda !!!”

Dan mereka saling terkikik karena merasakan kegembiraan yang amat sangat.

***

(Jadikah Bhre Maharsha bersama Jayeng, kudanya, sampai di Padepokan Glagah Abang milik Ki Damarwangsa? Hadangan apa lagi yang dia hadapi? – BERSAMBUNG )