blank
Jemaat yang hadir diperiksa suhunya oleh majelis sebelum memasuki ruang gereja. Foto: wied

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Ibadah Natal di GKJ Semarang Barat, Jalan Hasanuddin G.16 Semarang berjalan dengan protokol kesehatan (prokes) ketat, dan berjalan lancar. Ibadah dipimpin Pendeta Drs Bambang Irianto STh, MMin dengan tema “Firman yang Menjadi Manusia”.

Gereja berkapasitas 350 jemaat ini hanya diisi 93 jemaat di dalam gereja, termasuk para petugas, majelis, dan pendeta. Kemudian joglo di belakang gereja ditempati 26 jemaat, dengan menggunakan tayangan LCD projector. Jadi total yang beribadah di Gereja Induk GKJ Semarang Barat sebanyak 119 orang.

Majelis yang bertugas di luar menyarankan jemaat yang dating untuk cici tangan, kemudian diperiksa suhu badannya. Petugas mencocokkan apakah jemaat yang hadir sudah mendaftar melalui google form.

 

 

blank
Satu bangku yang biasanya untuk lima orang hanya diisi dua orang, demi protokol kesehatan dalam ibadah di GKJ Semarang Barat. Foto: wied

Baca juga Natal Pertama di Grobogan, Kapolres Tetap Bersyukur di Tengah Pandemi

“Bila belum mendaftar, kami tempatkan di joglo. Karena kami tidak bisa menolak, sejauh masih memungkinkan untuk ketentuan standar penanganan covid-19. Dalam hal ini terkait jaga jarak,” kata Sapto Tjahjono, dari Tim Gugus Penanganan Covid-19 GKJ Semarang Barat sebelum ibadah dimulai.

Memartabatkan Manusia

blank
Pdt.Bambang Irianto.

Pendeta Bambang Irianto dalam khotbahnya mengatakan, tema “Firman yang menjadi manusia” menjadi relevan pada saat ini. Firman yang menjadi manusia, kata Pendeta Bambang, sejak awal memang sudah terjadi penolakan oleh dunia.

“Kedatangan firman yang menjadi manusia, Tuhan sendiri yang hadir sebagai manusia ditolak karena manusia tidak mengenalnya,” kata Pdt Bambang.

Padahal kedatangannya dalam wujud manusia, yaitu Yesus Kristus dimaksudkan untuk mengembalikan relasi antara manusia dengan Tuhan yang rusak akibat dosa.

“Yesus datang untuk memulihkan martabat manusia, mengembalikan kemanusiaan manusia yang rusak oleh dosa,” ujarnya.

Disebutkan, Yesus datang tidak untuk menghakimi manusia, tetapi untuk menjadi teladan. Orang yang sakit kusta, pada zaman Yesus dulu, dianggap sebagai najis, orang berdosa, dan harus diasingkan.

“Tetapi ketika Yesus bertemu mereka, juga penderita kusta ini disembuhkan. Dikembalikan martabat kemanusiaannya. Begitu pula ketika ada perempuan berzina, tidak dihukum. Bahkan orang yang meminta agar perempuan itu dirajam, tidak berani melakukannya saat diminta untuk yang tidak pernah berdosa agar melempar pertama kali. Perempuan itu kemudian disuruh pergi dengan pesan ‘jangan berbuat dosa lagi’,” kata Pdt Bambang.

blank
Joglo di belakang gereja dimanfaatkan untuk jemaat yang hadir, khususnya yang tidak mendaftar melalui google form. Foto: wied

Baca juga Natal 2020, 72 Narapidana Lapas Kelas 1 Semarang Dapat Remisi

Ibadah yang berlangsung selama satu jam itu, diakhiri dengan mengucapkan “Selamat Hari Natal”, tanpa bersalaman, hanya salam Namaste. Pendeta dan majelis berada di depan pintu mengucapkan selamat kepada jemaat yang diatur satu demi satu keluar dari dalam gereja.

Selanjutnya, jemaat juga disarankan untuk langsung pulang, sehingga tidak terjadi kerumunan di halaman gereja seperti pada perayaan Natal di luar pandemi.

Selain di Gereja Induk Jalan Hasanuddin G.16 Semarang, GKJ Semarang Barat juga menggelar ibadah tatap muka terbatas dalam Natal ini di tempat ibadah Mugassari dan Kalisari. Seain itu ibadah pukul 08.00 di Gereja Induk juga disiarkan sevara live streaming melalui youtube, yang bisa diikuti seluruh jemaat yang tak bisa ke gereja.

Widiyartono R