<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eric Cantona Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/eric-cantona/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Mar 2025 01:19:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Eric Cantona Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>“Nyala” Fernandes, Mampukah Mengobarkan “Setan Merah”?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/03/22/nyala-fernandes-mampukah-mengobarkan-setan-merah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2025 10:00:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[bruno fernandes]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[FC Porto]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Scholes]]></category>
		<category><![CDATA[Ruben Amorim]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan Giggs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=466452</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // letupan seperti apa/ yang mampu menyalakan kebangkitan?/ api seperti apa/ yang bisa mengobarkan/ semangat Setan Merah?// (Sajak “Nyala Bruno Fernandes” 2025) BRUNO Miguel Borges Fernandes menyala; bakal berkobar pulakah Manchester United? Dia hanya menjawab kritik para legenda dengan performa, atau benar-benarkah nyala itu memberi pengaruh positif bagi spirit kebangkitan Setan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/22/nyala-fernandes-mampukah-mengobarkan-setan-merah">“Nyala” Fernandes, Mampukah Mengobarkan “Setan Merah”?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-466453 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// letupan seperti apa/ yang mampu menyalakan kebangkitan?/ api seperti apa/ yang bisa mengobarkan/ semangat Setan Merah?//</em><br />
<strong>(Sajak “Nyala Bruno Fernandes” 2025)</strong></p>
<p><strong>BRUNO</strong> Miguel Borges Fernandes menyala; bakal berkobar pulakah Manchester United?</p>
<p>Dia hanya menjawab kritik para legenda dengan performa, atau benar-benarkah nyala itu memberi pengaruh positif bagi spirit kebangkitan Setan Merah?</p>
<p>Fernandes memang “tersengat&#8221; oleh kritik-kritik pedas Roy Keane, yang dilontarkan di tengah kemerosotan performa MU. Tak sedikit legenda MU &#8212; seperti Gary Neville, Paul Scholes, Rio Ferdinand, dan Wayne Rooney &#8212; yang prihatin, lalu menyampaikan kritik keras.</p>
<p>Posisi MU dalam klasemen dekat dengan tubir degradasi, dan itu tergambar dari permainan inkonsisten sejak dilatih Erik Ten Hag, dan kini Ruben Amorim. The Red Devils betul-betul anjlok ke bentuk yang bukan hanya medioker, bahkan kehilangan aura sebagai salah satu kekuatan elite Liga Primer. Kandang yang dikenal angker, Old Trafford pun menjadi saksi bagi kekalahan demi kekalahan yang diderita.</p>
<p>Di bawah Amorim, MU belum menemukan bentuk yang pas. Salah satu yang banyak disorot adalah performa sang kapten, Bruno Fernandes, yang dinilai “tidak memperlihatkan kapasitas sebagai <em>leader</em>’’, di samping kiper “jago blunder” Andre Onana.</p>
<p>Akan tetapi, Fernandes memberikan “sesuatu” dalam tiga laga terakhir di semua ajang. Dia mempengaruhi permainan dalam pertandingan di liga, dan memberi perbedaan signifikan dengan <em>hattrick</em>-nya ke gawang Real Sociedad di Liga Europa.</p>
<p>Berikutnya dia terpilih sebagai <em>man of the match</em> ketika melawan tuan rumah Leicester City, Senin (17/3/2025) lalu. Fernandes membuat satu gol dan menyumbang <em>assist</em> untuk gol-gol Rasmus Hojlund dan Alejandro Garnacho.</p>
<p>Fernandes melanjutkan ketajamannya dengan tiga gol dan tiga <em>assist</em> dari empat pertandingan terakhir di Liga Inggris. Bahkan jika mengikutsertakan Liga Europa, Fernandes sudah membukukan enam gol.</p>
<p>Musim ini, Fernandes sudah 44 kali tampil di seluruh ajang dengan torehan 16 gol dan 15 <em>assist</em>.</p>
<p>Sejak bergabung dengan MU pada 2021, Fernandes telah mengukir 50 <em>assist</em>. Pemegang rekor <em>assist</em> di MU sejauh ini adalah Ryan Giggs (162), Wayne Rooney (93), David Beckham (80), Paul Scholes (55), dan Eric Cantona (51).</p>
<p><strong>Dua Efek Kritik</strong><br />
Bruno Fernandes menanggapi nyinyir para legenda dengan caranya sendiri. Dia mengakui terlecut oleh kritik kapten legendaris MU, Roy Keane, yang menyatakan Fernandes tidak punya jiwa kepemimpinan dan petarung layaknya kapten.</p>
<p>“Saya melakukan apa pun dengan cara saya. Tentu saja tidak enak mendengar kritik orang lain, tetapi pada saat bersamaan itu memotivasi Anda dan orang-orang yang berpikir bahwa Anda masih belum bagus,” ujarnya kepada <em>Sky Sports</em> (<em>detik.com</em>, 17/3-2025).</p>
<p>Yang dia lakukan, katanya, belum tentu menyenangkan banyak orang. “Dan saya menghormati opini semua orang, menghormati betul Roy Keane. Saya menerima apa pun masukan untuk meningkatkan performa saya, kepemimpinan, dan segala hal yang saya lakukan dalam hidup ini”.</p>
<p>Pemain asal Portugal kelahiran 8 September 1994 ini, sejak bergabung dengan MU di era pelatih Ole Gunnar Solskjaer, menjadi sentral serangan. Dan, ketika ditunjuk sebagai kapten oleh Erik Ten Haag menggantikan Harry Maguire, bagaimanapun dia tidak tergoyahkan sebagai pusat di lini tengah. Walaupun jarang disebut sebagai salah satu pemain elite dunia, namun peran Fernandes tak tergantikan dalam skema Manchester Merah.</p>
<p>Dia diakui pintar menciptakan peluang, membuka ruang bagi pemain lain, yang terbukti dari jumlah <em>assist</em> yang terus meningkat. Hal itu, antara lain ditopang oleh kemampuan penguasaan bolanya yang mumpuni. Gol-gol yang dia ciptakan rata-rata lahir dari penguasaan bola yang baik, antara lain dengan teknik tendangan jarak jauhnya.</p>
<p><strong>Lebih Agresif</strong><br />
Di balik peran sebagai kapten, dia mengalami perubahan sikap menjadi lebih agresif, yang menyebabkan harus menerima tiga kartu kuning pada musim ini. Ketika melawan Wolverhampton (27/12-2024), dia mendapat kartu merah ketiga. Sebelumnya, dia mendapat hukuman itu saat melawan Tottenham Hotspur dan FC Porto.</p>
<p>Itulah yang antara lain mendatangkan kritik Fernandes tidak mengemas performanya dengan jiwa kepemimpinan sebagai kapten. Akan tetapi, performa yang memberi pembeda dari tiga penampilan terakhir menjawab semua analisis para pundit. Fernandes menunjukkan kemampuan mumpuni, dalam <em>skill</em> dan gol, juga bagaimana melayani teman-temannya dengan umpan memanjakan.</p>
<p>Terlepas dari performa MU secara keseluruhan, Fernandes telah memberi pengaruh positif. Dia yakin, MU akan terus membaik di tangan Ruben Amorim. Satu hal yang dia tekankan, MU makin baik dalam transisi dan tidak mudah kehilangan bola.</p>
<p>Tanggung jawab Fernandes terlihat dari motivasi berlipat di tengah kesulitan yang dihadapi MU. Kontribusinya sangat terasa. Selain menunjukkan kapasitas teknis, juga menginspirasi para pemain lain.</p>
<p>Dia melampaui rekor Wayne Rooney sebagai eksekutor penalti tersukses dalam sejarah MU. Hal ini menunjukkan kepercayaan dirinya dalam mengambil tanggung jawab pada momen-momen krusial.</p>
<p>Pemain berusia 30 tahun itu telah menandatangani kontrak baru hingga 2027. Walaupun ada tawaran untuk meninggalkan Old Trafford, Fernandes memilih berkomitman untuk bertahan.<br />
Dengan peningkatan performanya, dia diharapkan bisa mengatrol motivasi kebangkitan MU.</p>
<p>“Nyala” Bruno Fernandes tentu menjadi modal tersendiri bagi Amorim dalam memoles filosofi permainan yang dia inginkan. Sang kapten bakal semakin percaya diri untuk memimpin rekan-rekannya, menjawab sinisme para analis.</p>
<p>Peningkatan performa sang kapten menjadi berkah bagi Amorim yang semakin yakin berada di jalur benar untuk memoles kebangkitan MU.</p>
<p>Teruslah menyala, abangku&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/22/nyala-fernandes-mampukah-mengobarkan-setan-merah">“Nyala” Fernandes, Mampukah Mengobarkan “Setan Merah”?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Zinedine Zidane, Legenda di Tengah Politik Kedengkian</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/01/10/zinedine-zidane-legenda-di-tengah-politik-kedengkian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2023 07:34:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Didier Deschamps]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Platini]]></category>
		<category><![CDATA[Noel Le Graet]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF)]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Thierry Henry]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=306865</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS TAK cukupkah dedikasi seorang Zinedine Yazid Zidane mendapat tempat layak dalam peta olahraga dan peta peradaban di negerinya sendiri? Kylian Mbappe, “anak emas” saat ini, tanpa ragu menyebut “Zidane adalah Prancis”. Penyerang Paris St Germain itu melawan dengan sengit Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) Noel Le Graet yang beropini sinis [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/01/10/zinedine-zidane-legenda-di-tengah-politik-kedengkian">Zinedine Zidane, Legenda di Tengah Politik Kedengkian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-306871 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />TAK</strong> cukupkah dedikasi seorang Zinedine Yazid Zidane mendapat tempat layak dalam peta olahraga dan peta peradaban di negerinya sendiri?</p>
<p>Kylian Mbappe, “anak emas” saat ini, tanpa ragu menyebut “Zidane adalah Prancis”. Penyerang Paris St Germain itu melawan dengan sengit Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) Noel Le Graet yang beropini sinis tentang Zidane.</p>
<p>Legenda yang membawa Le Bleus juara Euro 2000 dan Piala Dunia 1998 itu semula disebut-sebut sebagai calon suksesor Didier Deschamps di tim nasional.</p>
<p>FFF mempertahankan Deschamps, yang mengantar Prancis meraih trofi Piala Dunia 2018 dan <em>runner up</em> 2022. Masalahnya, patutkah Le Graet meletupkan komentar nyinyir tentang Zidane, yang bahkan dikabarkan diminati oleh Brazil untuk mengarsiteki Selecao?</p>
<p>“Apakah Zidane mencoba menghubungi saya? Tentu saja tidak. Kami tidak pernah mempertimbangkannya. Zidane ada di bawah radar,” cetus Le Graet seperti dikutip <em>detik.com</em> dari <em>RMC Sport</em>.</p>
<p>Dia mengatakan tak peduli Zidane mau pergi ke mana pun, bisa ke klub atau ke tim nasional lain. “Saya tidak mau tahu, saya tidak memercayainya,” katanya.</p>
<p>Komentar itu secara verbal berkonteks merendahkan, tanpa respek, hampa “perasaan”, dan a-historis. Wajar jika menyulut amarah mereka yang menghargai sejarah dan menghormati Zidane.</p>
<p>Pun, andai memang FFF tidak berniat menggunakan jasa Zidane, haruskah Le Graet menorehkan luka kepada sang legenda?</p>
<p>Bukankah Zidane adalah salah satu putra terbaik yang telah memberi kejayaan sepak bola kepada bangsa Prancis? Dia juga mengukir catatan personal sebagai pemain terbaik dunia pada masanya.</p>
<p>Lalu untuk apa Le Graet menyingkirkan pikiran positif tentang Zizou dengan merendahkannya sedemikian rupa?</p>
<p><strong>Peta Rasisme</strong><br />
Peraih Ballon d’Or 1998 dan tiga trofi Pemain Terbaik FIFA 1998, 2000, 2003 itu memang pernah berada dalam kepungan wilayah sensitif ras, justru setelah berkontribusi besar sebagai pahlawan Piala Dunia 1998.</p>
<p>Politisi sayap kanan, Jean-Marie Le Pen menyerang Zidane dan para pemain keturunan imigran. Mereka dituding tidak menyanyikan lagu kebangsaan Prancis<em> La Marseillaise</em> menjelang laga-laga tim nasional. Intinya, nasionalisme pemain berdarah Aljazair itu dia persoalkan.</p>
<p>Ketika Zidane terprovokasi oleh Marco Materazzi dalam final Piala Dunia 2006, kontroversi urusan ras dan keyakinan juga terbawa-bawa. Zizou menanduk dada bek Italia itu, yang menyebabkannya dikartu merah.</p>
<p>“Noda” itu, nyatanya, tidak mempengaruhi penilaian komite pemilih yang tetap menobatkan Zidane sebagai Pemain Terbaik Turnamen.</p>
<p>Zidane adalah orang besar dalam bayangan kedengkian lingkungan politik. Namun, sepak bola akan tetap dan selalu menempatkannya sebagai bintang dengan kemampuan eksepsional.</p>
<p>Teknik <em>screening ball</em>, gaya<em> roulette</em> yang khas, pergerakan indah ala ballerina, presisi umpan, visi permainan, dan <em>free kick</em>-nya yang istimewa, adalah gambaran lengkap tentang pesepak bola terbaik Prancis setelah era Eric Cantona, Thierry Henry, Michael Platini, dan Just Fontaine.</p>
<p>Pengaruh internasional Zidane juga luar biasa. Keterampilannya membuat dia sejajar dengan para legenda. Dia pernah menjadi salah satu elemen Los Galacticos Real Madrid. Trofi lengkap telah dia bukukan: dari Piala Dunia, Euro, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, hingga liga-liga.</p>
<p>Tak heran, dalam peta sepak bola dunia, tak sedikit pemain berbakat yang oleh media dilabeli sebagai “titisan Zidane”. Ada Mesut Oziel, pemain Jerman berdarah Turki, atau bintang Der Panzer masa sekarang, Kai Havertz.</p>
<p>Juga, pemain Prancis Mourad Meghni yang sempat dilabeli harapan serupa, sama seperti Samir Nasri yang pernah bersinar bersama Arsenal. Lalu Bruno Cheyrou, Anthony Le Tallec, dan Yoan Gourcuff. Yang paling mendekati capaian Zidane dari sisi prestasi hanya Karim Benzema, peraih Ballon d’Or 2022.</p>
<p>Catatan impresif Zizou sebagai pelatih Real Madrid merupakan rekor. Dia pelatih pertama yang tiga kali berturut-turut membawa tim meraih Liga Champions (2016, 2017, dan 2018). Juga dua kali (2016, 2017) mempersembahkan Piala Dunia Antarklub untuk Los Blancos.</p>
<p>Lantaran kiprah dan dedikasinya untuk sepak bola, Zidane diakui sebagai “representasi kemanusiaan” dan “keberagaman”.</p>
<p>Seperti Mohamed Salah yang memberi andil dalam mendekonstruksi Islamofobia di Inggris, Zidane bahkan menebar percik keindahan itu ke seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Keberterimaan komitmen, sumbangan, dan kiprahnya banyak membantu menepis kesalahpahaman terhadap Islam.</p>
<p>Saat ini dia memang tersisih dari bursa kursi pelatih nasional Prancis, namun percayalah, konstelasi perubahan politik sepak bola tak akan menutup hari depannya.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/01/10/zinedine-zidane-legenda-di-tengah-politik-kedengkian">Zinedine Zidane, Legenda di Tengah Politik Kedengkian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/03/sepak-bola-dalam-cinta-dan-ideologi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2022 10:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Armando Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Bearzot]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Andres Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Sir Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=297564</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS ANDA temukan apakah di balik wajah para pujangga sepak bola? Terpancar aura loyalitas, jalan hidup, konfidensi, dan pilihan “cara”. Wajah-wajah yang memijarkan percik cahaya ide, ilmu pengetahuan, sikap, dan perilaku. Begitulah ketika menyimak ekspresi dan gestur seorang Eric Cantona pada era 1990-an, yang oleh Sir Alex Ferguson sering dipanggil dengan sebutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/03/sepak-bola-dalam-cinta-dan-ideologi">Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-297566 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong>ANDA</strong> temukan apakah di balik wajah para pujangga sepak bola?</p>
<p>Terpancar aura loyalitas, jalan hidup, konfidensi, dan pilihan “cara”. Wajah-wajah yang memijarkan percik cahaya ide, ilmu pengetahuan, sikap, dan perilaku.</p>
<p>Begitulah ketika menyimak ekspresi dan gestur seorang Eric Cantona pada era 1990-an, yang oleh Sir Alex Ferguson sering dipanggil dengan sebutan “geniusku”.</p>
<p>“<em>L’enfant terrrible</em>”, dengan contoh perilaku tendangan kungfu ke suporter Crystal Palace yang legendaris itu, adalah orang yang mencintai sepak bola lebih dari apa pun. Dia mengekspresikannya dengan cara berbeda.</p>
<p>Katanya, “Saya mencoba menemukan cara berbeda untuk mengekspresikan diri. Tanpa itu, saya akan mati”.</p>
<p>Cantona menegaskan berhenti bermain sepak bola karena telah menemukan sebanyak yang dia bisa. Dia membutuhkan sesuatu yang mampu menggairahkannya, seperti halnya sepak bola membuatnya bersemangat.</p>
<p>Coba simaklah catatan Tony Robbins, dalam <em>Awaken the Greatness Within</em> tentang kompilasi pernyataan eksepsional para manusia sepak bola yang menginspirasi. Kadang kita menemukan narasi seperti <em>quotation</em> para filsuf, yang mengilustrasikan pandangan hidup yang mereka anut.</p>
<p>Sikap Cantona terasa sehaluan dengan pandangan Juergen Klopp. Pelatih Liverpool asal Jerman itu menyimpulkan, sepak bola terbaik selalu tentang ekspresi emosi.</p>
<p>Dia hadir sebagai “ideolog” <em>gegenpressing</em>, langgam bermain yang sukses didoktrinkan semasa menangani Bprussia Dortmund, dan belakangan menjadi <em>brand</em> Liverpool.</p>
<p>Daya hidup sepak bola dengan ekspresi rasa juga disampaikan oleh Lionel Andres Messi, pengoleksi tujuh trofi Ballon d’Or. “Anda bisa mengatasi berbagai masalah apa pun, Anda hanya cukup dengan mencintai sesuatu,” ucap La Pulga.</p>
<p>Dan, “sesuatu” itu, bagi Messi, apa lagi kalau bukan sepak bola?</p>
<p>Legenda Argentina yang digantikannya, Diego Armando Maradona punya pandangan serupa. Kata El Pibe de Oro, “Melihat bola, mengejarnya, menjadikanku orang paling bahagia di dunia&#8230;”</p>
<p><strong>Cinta dan Ide</strong><br />
Cinta, dalam sepak bola terungkap dalam loyalitas tanpa batas. Hingga akhir hayat, Johan Cruyff tak pernah berpaling dari “ideologi” tentang sepak bola ofensif. Kecintaan itu sering dia ungkapkan lewat narasi, bahwa sepak bola adalah tentang memiliki permainan menyerang terbaik.</p>
<p>“Saya selalu suka bermain sepak bola ofensif, dan tidak ada yang akan meyakinkan saya sebaliknya,” kata maestro <em>total football</em> dan peletak filosofi Akademi La Masia Barcelona itu.</p>
<p>Nyatanya, betapa tak mudah berpaling dari cinta. Anda ingat Enzo Bearzot? Tokoh penyempurna <em>catenaccio</em> lewat kejayaan Aquadra Azzurra di Piala Dunia 1982 itu pernah sempat merasa terpukul dengan performa Italia di Meksiko 1986. Dia lalu mencoba menyepi dan menyatakan membenci sepak bola; namun jejak eksepsional yang dia torehkan tetap menjadikannya sebagai referensi konsep serangan balik yang perfeksionis.</p>
<p>Seperti Vittorio Pozzo yang membawa Azzurri meraih trofi Jules Rimet pada 1934 dan 1938, Bearzot mengejawantahkan sikap halus perlawanan ala Italia, <em>furbizia</em>, yakni menemukan cara untuk mengakali keadaan dan meraih keuntungan maksimal. Arti “kasar” <em>furbizia</em> adalah “seni untuk berbuat curang”.</p>
<p>Ideologi sejatinya tak terpisahkan dari cinta, atau sebaliknya: cinta mengkreasi ide. Dan, ini bisa kita simak pada Tele Santana da Silva, arsitek Brazil di Piala Dunia 1982 dan 1986. Media melabelinya sebagai “romantis terakhir dari sepak bola Brazil, manajer paling relevan yang pernah bekerja untuk negeri itu”.</p>
<p>Selain sentuhannya untuk tim nasional Selecao, Santana juga menanamkan sikap serupa dengan kesetiaannya kepada <em>jogo bonito</em>, ke dalam permainan indah klub Sa Paolo 1992 dan 1993.</p>
<p>Pecinta sepak bola indah bakal merindukan romantisme tim Samba di Spanyol 1982 yang menderetkan barisan gelandang imajinatif Socrates, Zico, Cerezo Toninho, dan Falcao, yang lalu berlanjut di Meksiko 1986 dengan tokoh-tokoh yang sama plus Alemao.</p>
<p>“Tak perlu kecewa kita gagal pada 1982, karena seluruh dunia terpesona dengan cara kita memainkan sepak bola,” katanya.</p>
<p>Bukankah justifikasi itu adalah cinta dan loyalitas kepada iedologinya?</p>
<p>Santana punya banyak pemuja. Sama dengan Luis Cesar Menotti, <em>mastermind</em> yang mengantarkan Argentina meraih trofi World Cup 1978. “Sepak bola sayap kanan”, demikian dia melabeli gaya permainan timnya. “Artinya, hidup adalah perjuangan, yang menuntut kita berkorban. Kita harus menjadi kuat dan menang dengan metode yang indah,” ujar El Flaco.</p>
<p><strong>Perlawanan Sosial</strong><br />
Para penikmat sepak bola menyerang Belanda boleh jadi tak pernah menduga, betapa inovasi Rinus Michels yang dipertontonkan di Piala Dunia 1974 adalah bentuk “ijtihad” perlawanan sosial. Dengan ikon Johan Cruyff yang karismatis, cerdas, tampan, dan bervisi, <em>total football</em>-nya menjadi representasi sosial dan perlawanan politik lewat permainan indah.</p>
<p>Dengan menyerap ilmu Jack Reynolds dan Vic Buckingham, Rinus Michels meyakini ide bahwa menyerang adalah teknis bertahan terbaik, dengan bermain terbuka. Siap menyerang merupakan falsafah yang dianut The Spinx.</p>
<p>Sepak bola Inggris yang berkarakter<em> kick and rush</em> pernah menyebut tesis Vic Buckingham sebagai badut. Prinsip sepak bolanya memang mendekonstruksi “tendang dan serbu”. Dia mendoktrinkan keutamaan penguasaan bola sebagai segalanya, umpan-umpan pendek, dan terus bergerak dengan penetratif ke wilayah terbuka.</p>
<p>Cruyff menyempurnakan ide-ide Michels lewat sikapnya yang kukuh. Maestro yang dibesarkan oleh Ajax Amsterdam ini menyatakan, “Seperti segalanya dalam sepak bola dan kehidupan. Anda perlu melihat, Anda perlu berpikir, Anda perlu bergerak, Anda perlu menemukan ruang, Anda perlu membantu orang lain. Ini sangat sederhana pada akhirnya”.</p>
<p>“Sepak bola sekarang semuanya tentang uang. Ada masalah dengan nilai-nilai dalam permainan. Ini menyedihkan, karena sepak bola adalah permainan yang paling indah. Kita bisa memainkannya di jalan, bisa di mana saja&#8230;”</p>
<p>Begitu besar cinta Cuyff kepada permainan ini. Dia lalu menguatkannya ke dalam narasi ideologis, “Hasil tanpa kualitas itu membosankan. Kualitas tanpa hasil adalah omong kosong”.</p>
<p>Sir Alex Ferguson, legenda Manchester United dan pelatih paling sukses di Inggris juga menguatkan keyakinan ideologisnya, “Saya tidak pernah bermain untuk hasil imbang dalam hidup saya”.</p>
<p>Adapun pelatih yang dipandang paling genius saat ini, Pep Guardiola, menambahkan referensi ideologis tentang sepak bola pilihannya. <em>Tiki-taka</em> Barcelona, pada masanya adalah keyakinan hidup. “Saya memenangi 21 gelar dalam tujuh tahun. Tiga gelar per tahun. Dengan cara ini, maaf, saya tidak akan berubah”.</p>
<p>Sedangkan Jose Mourinho adalah contoh yang “menginspirasikan” ide-ide pragmatis betul-betul diterapkannya, seperti “menang walau dengan permainan membosankan”, “parkir bus” atau bahkan “parkir pesawat” untuk menghindari gol.</p>
<p>Dengan gaya bicara yang <em>low context communication</em>, dia tidak ragu untuk berisiko dengan segala macam reaksi terhadap pernyataan dan sikapnya.</p>
<p>Ya, sepak bola tidak mengubah keyakinan cinta para pelakunya, yang mentransformasi ke dalam gagasan yang tak jarang menjadi ideologi bermain.</p>
<p>Seperti kehidupan, seperti mata air yang mengalir. Dan, akankan kita mendapat sajian tentang cinta dan ideologi di Qatar 2022?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/03/sepak-bola-dalam-cinta-dan-ideologi">Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2022 10:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Camus]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Shankly]]></category>
		<category><![CDATA[duardo Galeano]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Luiz Cesar Menotti]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zlatan Ibrahimovic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=293746</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS SEPERTI apakah kita membelai sepak bola yang telah ikhlas membelai hidup kita? Dengan berjuta rasa, keindahannya berselimut misteri. Dengan berjuta rasa, kegagahannya bermata air cinta dan kelembutan. Dengan berjuta rasa, dia adalah elok puisi-puisi yang memancar dari luap kegembiraan, renik kesedihan, rumit kekecewaan, ungkapan kebahagiaan, atau ruap kemuraman&#8230; Dengan berjuta rasa, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa">Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-294018 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong>SEPERTI</strong> apakah kita membelai sepak bola yang telah ikhlas membelai hidup kita?</p>
<p>Dengan berjuta rasa, keindahannya berselimut misteri.</p>
<p>Dengan berjuta rasa, kegagahannya bermata air cinta dan kelembutan.</p>
<p>Dengan berjuta rasa, dia adalah elok puisi-puisi yang memancar dari luap kegembiraan, renik kesedihan, rumit kekecewaan, ungkapan kebahagiaan, atau ruap kemuraman&#8230;</p>
<p>Dengan berjuta rasa, dia “makhluk” dengan sesederhana itu bentuk &#8212; bundar bulat &#8212; tetapi menyimpan energi hidup yang luar biasa.</p>
<p>Albert Camus, misalnya. Filsuf dan peraih Nobel Sastra 1975 itu membelai sepak bola dengan penuh respek. Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, katanya, dia dapatkan dari sepak bola.</p>
<p>Atau Bill Shankly, tokoh legendaris Liverpool (1956-1974). Semboyan heroiknya banyak dikutip sebagai kampanye fanatisme yang provokatif, “Sepak bola lebih serius dari persoalan hidup dan mati”.</p>
<p>Begitu kuat nilai-nilai magnetis sepak bola. Coba simaklah satire ugal-ugalan Eduardo Galeano, wartawan dan novelis Uruguay (1940-2015) ini. Seorang pria, katanya, dapat mengubah istri, partai politik atau agama, tetapi dia tidak dapat mengubah tim sepak bola favoritnya.</p>
<p><strong>Kecerdasan Ekspresi</strong><br />
Sepak bola melahirkan berupa-rupa kecerdasan ekspresi anak manusia, baik para pelaku secara teknis, maupun mereka yang menikmati singgungan filosofis, historis, dan sosiologinya.</p>
<p>Maestro sepak bola Belanda Johan Cruyff menyebut sepak bola adalah permainan yang sederhana, namun hal tersulit dalam sepak bola adalah bermain sederhana.</p>
<p>Sama dengan Eric Cantona, yang menilai kejeniusan Lionel Messi terletak pada naluri bermain seorang kanak-kanak. “Biarkan dia bermain seperti bocah, dan kalian akan mendapatkan kehebatannya”.</p>
<p>Masih tentang Cruyff, yang memercayai bahwa gravitasi pikiran manusia sepak bola tak akan jauh-jauh dari pusaran magnetik “makhluk” itu. Suatu ketika, dia tahu pelatih sepak bola Irlandia, Jack Charlton ingin pensiun dan menghabiskan waktu untuk hobi memancingnya. Dengan tenang Cruyff berkomentar, “Bagaimana bisa dia meninggalkan sepak bola? Saat dia memancing pun, yang ada dalam pikirannya ya sepak bola&#8230;”</p>
<p>Pernak-pernik curah rasa, apakah itu kesombongan, arogansi, atau kerendahhatian menyertai beragam sikap pelatih dan pemain.</p>
<p>Jose Mourinho, arsitek asal Portugal yang berurutan menangani Porto, Chelsea, Internazionale Milan, Real Madrid, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan AS Roma tanpa ragu menyebut diri sebagai The Special One.</p>
<p>Media dan pasar budaya pop dengan riuh menyambut “ketengilan” yang <em>quotable</em> itu. Nilai “market” ucapan itu tak kalah dari ketika pada 2018 Zlatan Ibrahimovic dengan pongah mengatakan, sebuah Piala Dunia takkan menjadi Piala Dunia bernilai tanpa kehadirannya.</p>
<p><strong>Filsafat Keunikan</strong><br />
Dari berjuta rasa itu, sepak bola adalah filsafat dalam ungkapan solidaritas, dan kemampuan mengendalikan ego-ego individual.</p>
<p>Kalau Anda menyimak kolektivitas permainan <em>tiki-taka</em> Barcelona misalnya, atau AC Milan di era The Dream Team, kita menemukan betapa banyak orang hebat yang mencurahkan kompetensi individualnya untuk loyal kepada sebuah sistem. Namun individu-individu hebat itu tidak kehilangan keunikannya.</p>
<p>Contoh Barca dan Milan dalam level tim nasional adalah Brazil 1970 dan 2002, Belanda 1974, Argentina 1986, atau Spanyol 2010.</p>
<p>Tim-tim itu adalah produk ijtihad yang tersimpulkan dalam cipta-karsa-karya berjuta rasa. Tak mungkin hanya produk pendekatan teknis, tetapi menyatu dengan landasan filosofis yang kuat.</p>
<p>Anda ingat “empu” sepak bola Argentina Luiz Cesar Menotti?</p>
<p>Suatu ketika, pelatih yang mempersembahkan Piala Dunia 1978 dan Piala Dunia Yunior 1979 itu menyatakan, tim sepak bola tanpa pemain bintang ibarat negeri tanpa penyair.</p>
<p>Dapat ditafsirkan, dalam pandangan Menotti, secara filosofis hingga teknis permainan sebuah tim membutuhkan imajinasi dan kekuatan ide.</p>
<p>Dengan segala keliaran ide, visi, dan imajinasi, elemen-elemen itulah yang akan membawa pengembaraan gagasan seorang pelatih hingga ke titik berjuta rasa.</p>
<p>Misteri yang terlipat dalam permainan sepak bola menjadi pancaran keindahan. Sedangkan keindahan yang terekspresi adalah kekuatan. Kekuatan yang terpancar adalah diksi-diksi yang dalam bahasa Albert Camus, Shankly, dan Galeano menarasikan penting dan sentralitas makna sepak bola&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa">Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>