blank
Peserta aktif diskusi pertisipatif mengenai persoalan kesehatan serta lingkungan yang memp[pengaruhi perubahan iklim. Foto: Dok

JEPARA ( SUARABARU. ID) –Pemerintah Desa Bungu bersama unsur masyarakat membentuk Desa Sehat Iklim atau DEKSI sebagai langkah menghadapi dampak perubahan iklim dan meningkatnya ancaman penyakit berbasis lingkungan. Pembentukan DEKSI dilaksanakan di Balai Desa Bungu, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Selasa (21/7/2026), dengan melibatkan pemerintah desa, kader PKK, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga.

Program DEKSI dinilai penting karena Desa Bungu berada di lereng selatan Gunung Muria dan memiliki fungsi strategis sebagai kawasan penyangga air. Desa ini menghadapi perubahan pola cuaca, fluktuasi curah hujan, potensi kekeringan, cuaca ekstrem, serta ancaman longsor yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan produktivitas sektor pertanian.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko, SKM, S.Kep, MMKes, MM, mengatakan pembentukan DEKSI diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Program harus melahirkan gerakan warga yang terukur, dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di lingkungan masing-masing. “Melalui DEKSI diharapkan lahir aksi-aksi nyata berskala kecil di tingkat warga, tetapi memberikan dampak besar dalam mencegah penyakit berbasis lingkungan sekaligus menjaga kelestarian alam,” kata Hadi Sarwoko melalui pesan WhatsApp kepada awak media.

blank
Fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori menyampaikan paparan pentingnya membentuk DEKSI: Foto Dok

Menurut Hadi, perubahan iklim memiliki hubungan erat dengan berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Perubahan suhu dan curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air bersih, kondisi sanitasi, keamanan pangan, serta perkembangbiakan vektor penyakit seperti nyamuk.

Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi unsur utama dalam pelaksanaan DEKSI. Warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program, tetapi dilibatkan sejak proses mengenali masalah, menentukan prioritas, menyusun rencana, hingga melaksanakan kegiatan sesuai kebutuhan desa.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Bungu, N Hidayatun, mewakili Petinggi Desa Bungu, menyambut baik pembentukan DEKSI. Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami berharap masyarakat Desa Bungu semakin mandiri, peduli terhadap kesehatan lingkungan, dan memahami ancaman perubahan iklim. Kesadaran itu harus dimulai dari keluarga, kemudian berkembang menjadi gerakan bersama di tingkat desa,” ujarnya.

blank
Fasilitator dan Peserta Pembentukan Desa Sehat Iklim Desa Bungu

Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam mencegah penyakit berbasis lingkungan. Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah, mengelola sampah, menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk, menghemat air, dan menanam pohon dapat memberikan manfaat besar apabila dilakukan secara konsisten.

Pemegang Program Puskesmas Mayong I, Marzanah, SKM, mengatakan masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Adaptasi tersebut mencakup kesiapan menghadapi kekurangan air bersih, peningkatan penyakit yang dipengaruhi cuaca, hingga ancaman bencana hidrometeorologi. “Masyarakat perlu mengenali risiko yang ada di lingkungannya sendiri. Setelah risikonya diketahui, warga dapat menyusun langkah pencegahan yang sederhana, sesuai kemampuan, dan dapat dilakukan secara gotong royong,” kata Marzanah.

Fasilitator Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, menyampaikan bergabungnya Desa Bungu menambah jumlah desa dan kelurahan yang telah mengembangkan DEKSI di Kabupaten Jepara. Desa Bungu tercatat sebagai desa ke-16 yang menjalankan program tersebut.

blank

Proses pemberdayaan masyarakat dalam DEKSI menggunakan Participatory Kit

“Bertambahnya Desa Bungu menjadi DEKSI menunjukkan bahwa perhatian pemerintah desa dan masyarakat terhadap isu kesehatan serta perubahan iklim semakin kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan rencana kerja yang disusun benar-benar dilaksanakan,” ujarnya.\

Proses pemberdayaan masyarakat dalam DEKSI menggunakan Participatory Kit, yaitu perangkat partisipatif yang membantu warga mengidentifikasi persoalan kesehatan dan lingkungan yang sensitif terhadap perubahan iklim. Kegiatan dikemas melalui permainan, pemetaan, dan diskusi kelompok agar warga lebih mudah memahami kondisi desanya.

Sejumlah persoalan yang dapat dipetakan melalui metode tersebut antara lain wilayah rawan demam berdarah dengue atau DBD, lokasi rawan banjir dan longsor, kawasan yang mengalami krisis air bersih, titik penumpukan sampah, serta lingkungan dengan kondisi sanitasi yang belum memadai.

Anggota tim fasilitator Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara lainya, Rukmawati, menjelaskan penggunaan Participatory Kit dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi masalah, yakni warga memetakan kondisi lingkungan dan kesehatan berdasarkan pengalaman serta pengetahuan mereka mengenai wilayah tempat tinggalnya.

Tahap kedua berupa diskusi interaktif untuk menentukan penyebab, dampak, dan alternatif penyelesaian atas setiap persoalan. Dalam tahap ini, warga didorong menyampaikan pandangan agar solusi yang dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Tahap ketiga adalah pembentukan Tim Kerja Masyarakat atau TKM. Tim tersebut bertugas menyusun Rencana Kerja Masyarakat berdasarkan masalah prioritas yang telah disepakati, sekaligus mengoordinasikan pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan.

“Participatory Kit membantu warga melihat masalah secara bersama-sama. Hasil pemetaan dan diskusi menjadi dasar pembentukan Tim Kerja Masyarakat agar program tidak berhenti pada identifikasi, tetapi dilanjutkan dengan aksi nyata,” kata Rukmawati.

Dalam musyawarah tersebut, peserta menyepakati susunan Tim Kerja Masyarakat DEKSI Desa Bungu. Petinggi Desa Bungu bertindak sebagai penasihat, sedangkan Rosidi dipercaya menjadi ketua dan N Hidayatun sebagai wakil ketua. Posisi sekretaris diamanahkan kepada Devy Setyoningsih, sementara Sukowati bertugas sebagai bendahara.

Untuk mendukung pelaksanaan program, TKM dilengkapi tiga unit kerja. Unit Pengadaan Sarana dan Prasarana beranggotakan Abdul Manan, Ahmad Kholid, Tri Kayati, Anik Asrikah, dan Setyowati. Unit ini bertugas membantu mengidentifikasi serta mengupayakan kebutuhan sarana pendukung kegiatan kesehatan dan lingkungan.

Unit Komunikasi, Informasi, dan Edukasi diisi oleh Nanik Rohmawati, Febry Wulandari, Tutik Mundarifah, Ida Rahmawati, dan Titik Purwanti. Unit tersebut diharapkan menjadi penggerak penyebaran informasi, edukasi kesehatan, dan kampanye adaptasi perubahan iklim kepada masyarakat.

Sementara itu, Unit Pemberdayaan Masyarakat beranggotakan Kasmini, Prio Utomo, Warsono, Indah Qoriah, dan Winarti. Unit ini bertugas mendorong partisipasi warga, mengembangkan kegiatan berbasis gotong royong, serta memastikan kelompok masyarakat terlibat dalam pelaksanaan rencana kerja DEKSI.

Pembagian tugas tersebut diharapkan membuat program berjalan lebih terarah dan tidak hanya bergantung kepada pemerintah desa atau petugas kesehatan. Setiap unit dapat menyusun kegiatan berdasarkan hasil pemetaan masalah dan kebutuhan masyarakat.

Rencana kerja yang dapat dikembangkan antara lain pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah rumah tangga, penghijauan kawasan rawan longsor, perlindungan sumber air, peningkatan sanitasi, serta penyampaian informasi dini mengenai risiko cuaca ekstrem.

Tim Kerja Masyarakat juga diharapkan membangun koordinasi dengan pemerintah desa, Puskesmas Mayong I, kader kesehatan, kelompok tani, serta unsur masyarakat lainnya. Koordinasi tersebut diperlukan agar kegiatan DEKSI dapat terintegrasi dengan program pembangunan desa dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Melalui pembentukan DEKSI dan Tim Kerja Masyarakat, Pemerintah Desa Bungu bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara berkomitmen memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Program tersebut diharapkan mampu membangun kebiasaan hidup sehat, meningkatkan kesiapsiagaan warga, serta menjaga fungsi ekologis Desa Bungu sebagai kawasan penyangga air di lereng selatan Gunung Muria.

Hadepe