blank

KARANGANYAR – SUARABARU.ID :  Ketua DPRD Jateng, Sumanto, mengajak para petani untuk lebih jeli dalam melihat dan memanfaatkan potensi yang ada di desa mereka. Hal tersebut ia sampaikan dalam dialog interaktif acara Temu Tani yang berlangsung di Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini.

Di hadapan para petani dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, Sumanto menekankan bahwa peningkatan penghasilan keluarga tidak harus mengandalkan komoditas utama yang bermodal besar. Sebaliknya, pemanfaatan lahan pekarangan atau optimalisasi lahan yang ada dengan komoditas yang tepat bisa menjadi solusi jitu.

blank

Salah satu potensi yang disoroti Sumanto adalah budidaya tanaman kangkung. Menurutnya, kangkung merupakan jenis sayuran yang sangat mudah tumbuh, memiliki masa panen yang relatif singkat, dan tidak membutuhkan perawatan yang rumit.

“Dengan modal yang sangat minim, petani bisa mendapatkan keuntungan yang signifikan karena pasarnya selalu ada setiap hari. Ini peluang yang harus ditangkap untuk menambah pemasukan harian,” ujar Sumanto.

Sumanto menjelaskan, menanam kangkung memiliki prospek yang cukup menjanjikan karena kebutuhan pasar relatif stabil dan masa panennya cepat. Budidaya kangkung dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi masyarakat. Sumanto memaparkan simulasi usaha budidaya kangkung pada lahan seluas 1.000 meter persegi. Pada lahan tersebut dapat dibuat bedengan berukuran 30 meter x 1 meter dengan pola tanam dan panen bergantian sehingga setiap hari tersedia hasil panen.

Menurut perhitungan yang ia sampaikan, dari total sekitar 12.000 tanaman kangkung yang petani budidayakan, setiap panen dapat menghasilkan sekitar 600 ikat. Dengan asumsi satu ikat berisi 20 batang dan harga jual Rp1.000 per ikat, maka potensi omset yang diperoleh mencapai Rp600 ribu per hari.

Sementara itu, kebutuhan biaya operasional harian yang meliputi benih, pupuk, air, dan transportasi diperkirakan sebesar Rp180 ribu per hari. Dengan demikian, estimasi laba bersih yang dapat petani peroleh mencapai sekitar Rp420 ribu per hari.

Selain budidaya kangkung, Sumanto juga membagikan strategi bisnis peternakan skala rumahan yang sangat menjanjikan bagi para petani, yaitu budidaya ayam kampung dengan sistem pembibitan mandiri.

Ia memaparkan sebuah simulasi bisnis sederhana yang bisa dipraktikkan oleh siapa saja dari rumah. Petani cukup memulai dengan satu ekor ayam jantan dan 10 betina. Sumanto menambahkan, dengan manajemen pakan dan kandang yang baik, 10 induk betina tersebut akan bertelur dan menetas secara berkala. Dalam beberapa bulan, jumlahnya akan berkembang biak secara eksponensial.

Sementara untuk pakannya, bisa memanfaatkan sisa makanan yang direbus kembali agar tak terkontaminasi bakteri. Sementara itu, pencegahan ayam dari penyakit juga relatif mudah. Yaitu dengan memberikan ramuan Kunyit, Temulawak, Jahe (Kuteja), menghindari kandang lembap, membuat ventilasi udara, karantina ayam baru minimal 7 hari, serta menjaga kebersihan kandang.

“Ini bisnis yang potensi keuntungannya berlipat-lipat. Satu ekor ayam bisa jadi 60 ekor. Bahkan Bill Gates pernah mengatakan, jika saya berada dalam kondisi miskin ekstrem, saya akan beternak ayam,” ujarnya.

Sumanto berharap, dengan mengombinasikan pertanian kreatif seperti budidaya kangkung dan peternakan ayam kampung ini, para petani di Desa Ngadirejo memiliki sumber pendapatan alternatif yang stabil.

Jika ini ditekuni, hasilnya bisa menjadi tabungan yang sangat berharga. Begitu masuk masa panen besar atau saat mendekati hari raya, tabungan dari ayam dan kangkung ini bisa langsung dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan Lebaran nanti tanpa harus bingung mencari pinjaman,” pungkasnya. (*)