blank
Trofi Piala Dunia FIFA 2026. Foto: dok/fifa

blankOleh: Amir Machmud NS

// hanya air matakah/ ungkapan kekecewaan/ karena kekalahan?/ atau sebaliknya: kebahagiaan/ sebagai buncah kemenangan?/ mengangkat trofi adalah puncak/ buah pergulatan dan kerja keras//
(Sajak “Menuju Juara”, 2026)

INILAH puncak. Akhir pergulatan, cermin pertarungan penghabisan. Dalam tafsir dunia pewayangan, ini menjadi kesimpulan dari kisah panjang. Tancep kayon. Lika-liku yang bakal mementukan: siapa mendapat apa, dengan cara bagaimana.

Alur dongengkah yang berlangsung, ketika Spanyol atau Argentina menjadi juara Piala Dunia 2026? Itukah final ideal yang bisa dibayangkan? Skenario sportivitaskah yang terjadi, ketika satu dari dua finalis itu mengangkat trofi?

Rasanya, tak akan ada yang meragukan, sang pemenang adalah produk juara sejati: kisah indah tentang keunggulan faktor-faktor teknis, fisik, mental, dan psikologi, berpadu sebagai kekuatan yang menjelma sebagai kualitas tim juara.

Dalam racikan “faktor pembeda” berupa materi unggul pemain, taktik efektif pelatih, dan penerapan permainan yang pas, tercipta orkestrasi permainan yang meluruhkan taktik-strategi lawan-lawan, dari fase grup hingga partai puncak.

Dan, itu sudah tersajikan di babak semifinal. Kemenangan mantap Spanyol atas Prancis adalah fakta bahwa di fase ini La Furia Roja mampu memantapkan keunggulan atas Les Bleus. Strategi Luis de la Fuente bisa mendominasi skema taktik Didier Deschamp. Prancis kehilangan penguasaan bola dan intensitas serangan seperti yang dipertontonkan dalam enam laga sebelumnya.

Tak hanya prediksi Supercomputer Opta yang semula mengunggulkan Kylian Mbappe cs bisa dipatahkan, lebih dari itu Rodri dkk menunjukkan dominasi dalam laga tersebut. Spanyol banyak disemati predikat sebagai “penjinak” Prancis, dengan statistik pertemuan yang lebih mentereng.

Dalam catatan terakhir, Spanyol dua kali mengalahkan Prancis. Di semifinal Euro 2024 dengan 2-1, dan semifial UEFA Nation’s League tahun lalu dengan 5-4.

Laga semifinal lain Argentina vs Inggris tak kalah menarik. Keras, dramatis. Untuk kali kesekian, Albiceleste mempertontonkan kekuatan mental untuk comeback di menit-menit akhir, seperti ketika mengalahkan Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss.

Keunggulan Inggris 1-0 baru disamakan pada menit ke-88, dan Lionel Messi dkk memastikan kemenangan pada menit ke-92 injury time. Dramatis!

Pertemuan dua kesebelasan ini diwarnai atmosfer kental politik. Suhu panas dilatarbelakangi oleh sengketa kepulauan Falkland (Malvinas) pada 1982, yang menuansasi hubungan kedua negara. Selalu ada drama dalam laga Three Lions vs Albiceleste.

Final yang Pantas
Partai pamungkas Spanyol vs Argentina menjadi puncak yang pantas untuk Piala Dunia 2026, mempertemukan dua tim yang betul-betul punya “pembeda”. Seolah-olah ini menjadi “pengganti” Finalissima yang tertunda, yakni duel juara Copa America 2024 dan kampiun Euro 2024. Harusnya, duel itu dipanggungkan di Lusail, Qatar; tetapi dibatalkan karena ketegangan perang di Timur Tengah, lalu tidak ada titik temu dalam penentuan tuan rumah pengganti.

Spanyol mencoba mengulang jejak 2010, ketika pertama kali meraih Piala Dunia dengan menundukkan Belanda 1-0 di Afrika Selatan. Sementara Argentina back to back lolos ke final setelah empat tahun lalu juara di Qatar, dengan mengalahkan Prancis lewat drama adu penalti.

Lionel Messi dkk mengulang sejarah Brazil yang dua kali berturut-turut menjejak final, 1958 dan 1962. Dua kali itu pula, Brazil bisa juara. Sejauh ini, baru Brazil dan Argentina yang mampu berturut-turut lolos ke final dalam dua edisi Piala Dunia.

Final kali ini disebut-sebut sebagai puncak yang ideal, mempertemukan dua kutub top sepak bola: Amerika Latin dan Eropa. Semula dipermutasikan duel Prancis-Argentina untuk mengulang final 2022, atau Prancis-Inggris, juga Spanyol-Inggris. Skema permutasi ini menunjukkan bahwa dua laga semifinal merupakan pertemuan ideal yang menggambarkan realitas kekuatan sepak bola dunia saat ini.

Bagi Messi, Spanyol adalah lawan yang sebanding. Argentina berpotensi mempertahankan trofi yang diraih empat tahun lalu, sedangkan Spanyol tampil mantap sepanjang putaran final ini hingga mengalahkan Prancis di semi final.

Spanyol dianggap sebagai tim paling komplet. La Furia Roja memang baru membukukan 13 gol, tetapi gawang Unai Simon hanya kebobolan satu gol, dan lawan kerap kesulitan menciptakan peluang.

Bakal menjadi ujian berat bagi lini serang Argentina yang sudah mencetak 19 gol, paling banyak di antara tim-tim lainnya. Leo Messi antusias menghadapi final di Stadion New Jersey, Senin lusa WIB.

Messi tahu betul kualitas individu dan gaya bermain Rodri dkk. Dia tumbuh dan berkembang sampai menjadi legenda Barcelona.

”Timnas yang hebat. Para pemain top dengan kemampuan luar biasa. Saya kenal betul tim itu,” ungkap La Pulga kepada Tyc Sports (detik.com, 16 Juli 2026)

”Saya juga tahu banyak tentang pemainnya. Saya sudah sering bertemu mereka, mengikuti mereka. Beberapa pemain Barcelona juga, tim yang saya dukung dan cintai. Ini laga spesial, dan menurut saya pertarungan akan seimbang,” kata Messi, yang akan mencatat penampilan di tiga final Piala Dunia (2014, 2022, dan 2026).

Anda tentu sepakat dengan Messi: akan tersaji pertunjukan sepak bola indah di New Jersey nanti. Kenangan tak tergantikan ketika “dewa sepak bola” yang tampil di Piala Dunia terakhirnya, Lionel Messi akan berhadapan dengan junior yang digadang-gadang menjadi penggantinya, Lamine Yamal.

Duel antargenerasi ini menjadi warna di samping elemen-elemen daya tarik lain yang muncul dari kelebihan-kelebihan Spanyol dan Argentina.

Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id