JEPARA (SUARABARU.ID) – Bagi sebagian siswa, mata pelajaran kejuruan dan Pendidikan Agama Islam (PAI) mungkin berjalan di jalur yang berbeda. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh Rega Bayu Saputra, siswa kelas XII Animasi 2, SMK Negeri 2 Jepara.
Di tengah kesibukannya sebagai siswa jurusan Animasi, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai juara dalam ajang MADANI 2026, kompetisi nasional tingkat SMA/SMK bidang Pendidikan Agama Islam. Prestasi tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan Rega. Pasalnya, kompetisi itu merupakan lomba PAI pertama yang pernah diikutinya.
Bagi Rega, mengikuti sebuah kompetisi bukan semata-mata mengejar gelar juara. Ia justru melihat perlombaan sebagai ruang belajar untuk menemukan sudut pandang baru, memberikan dampak positif, sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan.

“Motivasi saya adalah memberikan dampak, menghasilkan sudut pandang baru, dan menemukan solusi yang lebih efektif,” katanya.
Cara berpikir tersebut membuatnya tidak ragu keluar dari zona nyaman. Meski berasal dari jurusan Animasi, ia percaya setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di bidang apa pun selama memiliki kemauan untuk belajar.
Fokus di Tengah Tantangan
Persiapan menuju kompetisi dilakukan dengan serius. Rega mengaku banyak mempelajari materi melalui analisis soal-soal dan latihan yang diberikan panitia secara daring sebelum hari perlombaan.
Saat kompetisi berlangsung, tantangan justru datang dari tingkat kesulitan soal dan kendala jaringan internet karena pelaksanaan lomba dilakukan secara online. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam kepanikan.
“Sebelum lomba saya menenangkan diri terlebih dahulu dan berdoa. Saat mengerjakan soal saya berusaha tetap fokus,” tuturnya. Baginya, ketenangan menjadi salah satu kunci agar mampu berpikir jernih ketika menghadapi tekanan.
Sebagai siswa SMK, Rega juga Tengah menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kesibukan tersebut tidak membuatnya meninggalkan persiapan lomba. Ia menerapkan prinsip time blocking atau pembagian waktu ke dalam beberapa bagian sesuai prioritas.
Tugas-tugas PKL diselesaikan lebih dahulu. Setelah itu, ia memanfaatkan waktu luang, terutama pada malam hari, untuk belajar dan mengasah kemampuan. Di sela-sela aktivitas tersebut, Rega tetap aktif mengikuti organisasi sekolah seperti Pramuka dan Palang Merah Remaja (PMR).
Menurutnya, kunci mengatur waktu adalah disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat.
Ia juga membiasakan diri mematikan notifikasi media sosial sebagai tantangan kepada dirinya sendiri agar konsentrasi tidak terganggu ketika belajar maupun mengerjakan tugas.
Dukungan yang Menjadi Energi dan Trofi
Keberhasilan yang diraih Rega tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Ia menyebut doa kedua orang tua sebagai kekuatan terbesar yang selalu menyertainya. Selain keluarga, guru-guru di SMKN 2 Jepara turut memberikan ilmu, bimbingan, dan motivasi.

Sekolah juga terus membuka kesempatan bagi siswa untuk mengikuti berbagai kompetisi sebagai wadah mengembangkan potensi. “Orang tua, kepala sekolah, guru-guru, dan teman-teman semuanya mendukung saya. Dukungan mereka membuat saya semakin semangat,” katanya.
Di balik juara dan penghargaan yang diraih, Rega menyimpan filosofi sederhana tentang makna sebuah prestasi. Menurutnya, penghargaan hanyalah pencapaian, sedangkan nilai terbesar dari sebuah perlombaan adalah keberanian mencoba hal baru dan kesediaan menerima proses belajar.
Ia meyakini bahwa kegagalan maupun kritik bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bahan evaluasi untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu, ia berpesan kepada teman-teman seusianya agar tidak takut mengikuti berbagai kompetisi.
“Jangan takut salah. Juara itu bonus. Prestasi yang sesungguhnya adalah perubahan diri menjadi lebih disiplin, lebih terampil, dan lebih siap menghadapi masa depan,” pesannya.
Setelah meraih prestasi di tingkat nasional, Rega tidak ingin berhenti sampai di sini. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sekaligus membagikan ilmu dan pengalaman kepada siswa lain yang ingin mengikuti jejaknya.
Ia juga berharap SMKN 2 Jepara terus memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang, baik melalui kompetensi kejuruan, kreativitas digital, maupun organisasi. Tak kalah penting, ia mengajak para siswa yang telah memiliki pengalaman dan prestasi agar tidak ragu berbagi pengetahuan kepada adik kelas.
“Kalau sudah punya pengalaman atau pernah juara, jangan pelit berbagi ilmu. Dengan saling mendukung, prestasi sekolah akan terus berkembang dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Menurut Rega Bayu Saputra, kemenangan bukanlah garis akhir. Prestasi hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk terus belajar, berbagi, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Septiana Wibowo













