blank
Musda DPD PUTRI Jateng digelar di halla Termina Tirtonadi Surakarta. Foto: Panita

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (DPD PUTRI) Jawa Tengah menggelar Musyawarah Daerah (MUSDA) Tahun 2026 di Convention Hall Terminal Tirtonadi, Kota Surakarta, Rabu (8/7/2026).

Kegiatan yang dihadiri pelaku usaha daya tarik wisata, asosiasi pariwisata, akademisi, serta pemangku kepentingan pariwisata ini mengusung tema “Muslim Friendly Tourism: Peluang Baru Pengembangan Daya Tarik Wisata yang Inklusif, Berkelanjutan, dan Berdaya Saing.”

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ir. A.R. Hanung Triyono, M.Si yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan sektor pariwisata saat ini harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang, termasuk pasar wisata ramah muslim yang memiliki potensi besar baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, konsep Muslim Friendly Tourism bukan hanya tentang penyediaan fasilitas pendukung bagi wisatawan muslim, tetapi juga bagaimana destinasi mampu menghadirkan pelayanan yang nyaman, aman, inklusif, dan berkualitas bagi seluruh wisatawan.

“Jawa Tengah dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan konsep tersebut karena didukung oleh kekayaan budaya, keragaman destinasi, serta karakter masyarakat yang ramah dan religious,” ujar dia.

Selain menjadi forum tertinggi organisasi untuk memilih kepengurusan DPD PUTRI Jawa Tengah periode 2026–2030, MUSDA juga menjadi sarana evaluasi program kerja, penyusunan rekomendasi organisasi, serta penguatan sinergi antar pengelola daya tarik wisata di Jawa Tengah.

Sementara itu, Ketua DPD PUTRI Jawa Tengah periode 2022–2026, Dra. Titah Listiorini, M.M., mengatakan bahwa MUSDA merupakan momentum penting bagi organisasi untuk melakukan regenerasi kepemimpinan sekaligus memperkuat kolaborasi antar anggota dalam menghadapi tantangan industri pariwisata yang semakin dinamis.

“Kami berharap MUSDA ini dapat menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang mampu memperkuat organisasi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan daya tarik wisata di Jawa Tengah,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Pariwisata yang menghadirkan R. Wisnu Rahtomo, S.Sos., M.M., Dosen Politeknik Pariwisata NHI Bandung, dan Achmad Ridho, General Manager The Lawu Group. Kedua narasumber membahas tren perkembangan wisata ramah muslim, peluang pasar, standar layanan, serta implementasi konsep Muslim Friendly Tourism pada berbagai jenis destinasi wisata.

Dalam paparannya, Wisnu Rahtomo menjelaskan bahwa sebagian besar daya tarik wisata di Jawa Tengah sebenarnya telah menerapkan prinsip-prinsip wisata ramah muslim. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana memastikan fasilitas dan layanan tersebut memenuhi standar yang dibutuhkan wisatawan muslim, seperti ketersediaan musala yang layak, fasilitas wudu yang memadai, toilet yang representatif, serta kemudahan memperoleh produk dan kuliner halal.

Sementara itu, Achmad Ridho menekankan bahwa wisata ramah muslim merupakan peluang pasar yang menjanjikan dan dapat menjadi nilai tambah bagi destinasi wisata tanpa harus mengubah karakter maupun identitas destinasi yang telah ada.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PUTRI dan LSP MICE sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia pariwisata melalui program sertifikasi profesi.

Ketua Pelaksana MUSDA DPD PUTRI Jawa Tengah 2026, Artin Bayu Mukti, A.Par., M.Par., menyampaikan bahwa penyelenggaraan MUSDA tahun ini tidak hanya difokuskan pada agenda organisasi, tetapi juga sebagai ruang berbagi pengetahuan dan penguatan kapasitas anggota menghadapi perkembangan industri pariwisata.

“Kami ingin MUSDA ini menjadi lebih dari sekadar forum pergantian kepengurusan. Melalui seminar dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kami berharap anggota PUTRI memperoleh wawasan baru mengenai peluang pengembangan destinasi, khususnya dalam menghadapi tren wisata ramah muslim yang terus berkembang. Ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas, daya saing, dan keberlanjutan daya tarik wisata di Jawa Tengah,” ungkap Artin.

  1. Widiyartono