blank
Petugas menjelaskan cara kerja Camalus pada sebuah tanaman. Foto: dok

KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Bayer, perusahaan life science global yang bergerak di bidang kesehatan dan pertanian meluncurkan Camalus. Yakni, insektisida generasi terbaru untuk petani hortikultura di Indonesia.

Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo, hari ini Rabu (8/7/26) menjelaskan,
Camalus merupakan insektisida pertama yang mampu mengendalikan hama pengunyah dan pengisap sekaligus pada tanaman hortikultura. “Perdana diperkenalkan di Indonesia, menjadi negara ketiga secara global setelah India dan Filipina. Itu diperkuat dual mode untuk mengendalikan hama pemakan daun dan penusuk- penghisap sekaligus, menjawab kebutuhan petani yang selama ini harus mencampur dua insektisida berbeda,” jelasnya.

Selebihnya dipaparkan, berdasarkan hasil uji coba lapangan, penggunaannya terbukti membantu meningkatkan produktivitas lahan dengan potensi penyelamatan hasil panen dari serangan hama, serta menurunkan biaya produksi secara signifikan. Karena, kata dia, petani tidak perlu mencampur berbagai jenis insektisida.

Di sisi lain, hortikultura menjadi salah satu sub sektor pertanian prioritas nasional – dengan pertumbuhan 3,85 persen pada triwulan IV 2025. Pemerintah pun mendorong hilirisasi sektor itu melalui peningkatan ekspor hortikultura, yang tercatat naik 49 persen pada semester I tahun 2025.

Sebagai gambaran, lanjutnya, produksi cabai besar tahun 2025 mencapai 1,72 juta ton. Atau naik sebesar 16,73% (245,70 ribu ton) dibandingkan tahun 2024. Konsumsi cabai besar oleh sektor rumah tangga tahun 2025 mencapai 641,93 ribu ton, naik sebesar 6,91% (41,51 ribu ton) dibandingkan tahun 2024.

Menurut catatan dia, Provinsi dengan produksi Cabai Besar terbanyak adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Sumatera Utara berkontribusi sebesar 12,53% dengan produksi mencapai 214,87 ribu ton dan luas panen 16,37 ribu hektar.

Meski demikian, ancaman hama pemakan daun dan penusuk-pengisap (hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, thrips) tetap menjadi ancaman terbesar petani hortikultura Indonesia. Hama ulat daun kubis (Plutella xylostella), salah satunya, yang dapat menyebabkan hilangnya hasil panen 50 hingga 100 persen apabila tidak dikendalikan.
“Tantangan yang dihadapi petani hortikultura semakin kompleks karena hama pengunyah dan penghisap (hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, thrips) umumnya menyerang bersamaan. Untuk mengatasinya, petani mencampur dua jenis insektisida berbeda dalam satu siklus tanam. Camalus dari Bayer menjawab kesenjangan kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budidaya tanaman hortikultura. Bayer juga memastikan setiap solusi yang dihadirkan, termasuk Camalus, telah melalui proses riset dan adaptasi yang matang terhadap kondisi agroekologi Indonesia, termasuk tekanan hama spesifik yang dihadapi petani hortikultura di Indonesia,” ujar Kukuh Ambar Waluyo.

Dia menambahkan bahwa Camalus mempunyai banyak kelebihan dan cara kerja yang unik dibandingkan produk konvensional lainnya. Karena dengan dua bahan aktif plus sistem perekat untuk pengendalian resistensi hama. “Ulat lebih cepat berhenti makan, sehingga melindungi kerusakan lebih berat,” tandasnya.

Langkah sistematis pembuatan Camalus berlangsung selama sekitar 10 tahun. Mulai tahap discovery molekul dan optimalisasi formulasi di laboratorium, dilanjutkan dengan uji efikasi dan studi keamanan produk, hingga proses registrasi resmi. Setelah pengujian di tingkat global, Camalus turut diuji coba secara khusus di Indonesia melalui ratusan uji coba lapangan di berbagai wilayah. Serta pengujian intensif di pusat riset Bayer JUARA di Klaten. “Hasilnya, secara konsisten menunjukkan performa pengendalian hama yang lebih baik dan dapat menjawab resistensi yang dihadapi petani dalam perawatan tanaman hortikultura,” imbuhnya.

Insektisida inovatif itu mampu bergerak dua arah di dalam jaringan tanaman, sehingga memberikan perlindungan menyeluruh. Baik di dalam dan luar daun, maupun batang dan buah, termasuk tunas baru. Dilengkapi sistem perekat, Camalus mampu memberikan durasi pengendalian hama lebih lama, bahkan setelah hujan.

Commercial Unit Lead West, Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono, menambahkan, Bayer akan memperluas distribusi Camalus ke 13 provinsi sepanjang 2026. Yakni ke Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali. Langkah itu menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Bayer memperkuat produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia, khususnya di subsektor hortikultura.

Produk tersebut, menurutnya, akan tersedia secara bertahap melalui jaringan kios tani, termasuk Better Life Farming Center (BLFC). Edukasi teknis mengenai dosis anjuran dan protokol aplikasi Camalus yang aman bisa didapatkan langsung dari tim agronomis Bayer di lapangan. Atau diakses melalui sosial media: Facebook dan Instagram Bayer CS Petani.

Eko Priyono