blank
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno (kedua dari kiri) bersama KP Lilik Priarso Tirtodiningrat (ketiga dari kiri), menyaksikan dari dekat ritual jamasan Keris Kiai Kara Welang yang menjadi salah satu pusaka andalan dalam Perang Sambernyawan.(Dok.Prokopim Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Ini untuk pertamakali terjadi. Ritual jamasan pusaka Pangeran Sambernyawa dilakukan di Pendapa Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Berlangsung Minggu (5/7/26), bertepatan dengan Tanggal 19 Sura Tahun Be 1960 Windu Sancaya Kurup Asopon, atau Tanggal 20 Muharam 1448 H.

Ada 5 buah pusaka Pangeran Sambernyawa yang disimpan di Kabupaten Wonogiri. Kelima pusaka andalan untuk Perang Sambernyawan tersebut, tiga diantaranya disimpan di Monumen Tugu Ireng depan Kantor Kecamatan Selogiri. Terdiri dua tombak Kiai Totog dan Kiai Jaladara, serta sebuah keris panjang Kiai Karawelang.

Dua pusaka lainnya, yakni Keris Semar Tinandu dan Tombak Kiai Limpung, disimpan di Rumah Tiban Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri.

Secara khusus, Gusti Bhre atau Gusti Pangeran Harya (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) X, mengutus Wedana Satriya Praja Mangkunegaran Kanjeng Pangeran (KP) Lilik Priarso Tirtodiningrat, untuk memimpin ritual jamasan kelima pusaka tersebut di Pendapa Kabupaten Wonogiri..

Tim penjamas pusaka dari Kawedanan Mandrapura Praja Mangkunegaran, terdiri atas Kanjeng Raden Mas Tumenggung N Hari Sasongko bersama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Riyadi Dwi Putranto, Mas Ngabehi (MNg) Suparman, Sigit, Mas Demang (M Dm) Puguh B Aji dan M Dm Triwiyanto.

Ritual jamasan berlangsung dalam tata adat Jawa. Para hadirin bersama utusan dari Praja Mangkunegaran, mengenakan busana Kejawen. Ikut hadir Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Wonogiri, Sriyanto dan Kabid Kebudayaan Panggah Tri Budaya serta Pimpinan Dinas Instansi terkait serta sejumlah tokoh dari Himpunan Kerabat Mangkunegaran (HKMN).

Dalam ritual jamasan, menyertakan kenduri selamatan dan serangkaian sesaji bunga serta pembakaran kemenyan dupa, untuk mengawali pemanjatan doa. Sebelum kemudian, dilakukan penyucian pusaka diawali memakai air bunga setaman.

Bangga

Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, menyampaikan pidato sambutan menggunakan Bahasa Jawa. Sebagai Bupati dan atas nama masyarakat Kabupaten Wonogiri, menyatakan bangga (mongkok) atas kepercayaan Praja Mangkunegaran yang telah berkenan melakukan ritual jamasan pusaka Pangeran Sambernyawa di Pendapa Kabupaten.

Ritual jamasan pusaka menjadi salah satu sarana untuk ngrukti (merawat) pusaka, yang sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya leluhur. Termasuk menjadi bentuk penghormatan kepada Pangeran Sambernyawa. Yakni tokoh pendiri Dinasti Mangkunegaran Surakarta, bergelar sebagai KGPAA Mangkunegara I. Penyandang gelar Pahlawan Nasional ini, dulu telah memilih daerah Wonogiri sebagai basis perjuangan melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda.

Perjuangan Pangeran Sambernyawa, menjadi bagian dari sejarah bangsa, yang dapat dipahami oleh generasi muda. Khususnya bagi Wonogiri, itu dapat menjadi spirit daya dukung dalam upaya menggapai kuncaraning (kemasyuran) Wonogiri. Yakni dalam membangun masyarakat yang hidup ayem tenterem gemah ripah lohjinawi (damai sejahera berkemakmuran), dengan sesanti (semboyan) manunggal sedya mbangun (bersatu padu membangun) Wonogiri.

Untuk diketahui, tahun lalu, jamasan Pusaka Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas (RM) Said, dilakukan di Pendapa Kecamatan Selogiri dan Rumah Tiba Bubakan Girimarto, Kabupaten Wonogiri. Sebelum Covid-19, ritual jamasan digelar dalam event wisata budaya tahunan setiap Bulan Sura di Objek Wisata Tirta Waduk Gajahmungkur Wonogiri.

Ritual jamasan di Objek Wisata Tirta Waduk Gajahmungkur, tujuannnya untuk mempopulerkan tempat pelancongan andalan milik Kabupaten Wonogiri. Harpannya, ketika makin populer, tempat rekreasi tersebut senantiasa dibanjiri pelancong.(Bambang Pur)