blank
Ilustrasi droping air pada masa kekeringan di Blora. Dikhawatirkan terganggu akibat naiknya harga BBM nonsubsidi Pertamina Dex. Foto: Sumber Pemkab Blora

BLORA (SUARABARU.ID) – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamina Dex mulai menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora.

Kenaikan harga BBM yang digunakan seluruh armada tangki air BPBD itu dikhawatirkan akan berdampak pada pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat saat musim kemarau.

Saat ini harga Pertamina Dex mencapai Rp24.800 per liter. Angka tersebut melonjak dibandingkan Maret 2026 yang masih berada di kisaran Rp14.500 per liter. Kondisi itu berpotensi meningkatkan biaya operasional armada pengangkut air bersih sehingga dapat mengurangi jumlah dropping air apabila anggaran yang tersedia tidak mencukupi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora, Widodo, mengatakan seluruh armada tangki air milik BPBD menggunakan Pertamina Dex. Karena itu, kenaikan harga BBM tersebut sangat berpengaruh terhadap biaya operasional distribusi air bersih.

“Dampaknya sangat vital. Bisa mengurangi jumlah air yang didropping ke masyarakat apabila anggarannya terbatas,” ujar Widodo, Kamis (02/07/2026).

Widodo menjelaskan, BPBD saat ini memiliki lima armada tangki air yang setiap musim kemarau diterjunkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.

Menurut Widodo, kenaikan harga Pertamina Dex menjadi tantangan tersendiri karena pemerintah juga sedang didorong melakukan efisiensi anggaran.

Widodo mengakui kondisi tersebut menjadi dilema. Di satu sisi pemerintah harus menghemat belanja, namun di sisi lain pelayanan dasar kepada masyarakat tidak boleh terganggu.

Untuk mengantisipasi keterbatasan anggaran, BPBD akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Widodo mengatakan pihaknya siap memberikan data wilayah terdampak kepada perusahaan yang ingin menyalurkan bantuan air bersih.

“BPBD siap memberikan data daerah terdampak kepada perusahaan yang ingin membantu distribusi air bersih. Kami juga bisa mengawal bantuan dari pihak luar. Mereka bisa menggunakan armada kami atau armada swasta untuk mendistribusikan air ke masyarakat,” jelas Widodo.

Selain menggandeng perusahaan, BPBD juga menyiapkan skema prioritas apabila kebutuhan air bersih meningkat sementara anggaran operasional tidak mencukupi.

Menurut Widodo, wilayah yang mengalami krisis air paling parah akan menjadi prioritas utama, sedangkan daerah lain akan dilayani melalui kolaborasi dengan perusahaan maupun pihak ketiga yang menyalurkan bantuan CSR.

“BPBD tidak membatasi pelayanan, tetapi memang perlu menentukan prioritas bagi daerah yang sangat membutuhkan terlebih dahulu. Nanti pihak lain juga bisa diarahkan membantu wilayah-wilayah tertentu,” kata Widodo.

BPBD juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Blora terkait solusi pembiayaan operasional armada apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.

Widodo berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian khusus melalui perubahan anggaran mengingat distribusi air bersih merupakan pelayanan dasar bagi masyarakat.

“Kalau memang nanti prediksinya kemarau panjang, mudah-mudahan pada perubahan anggaran ada perhatian khusus karena ini menyangkut pelayanan dasar kepada masyarakat,” tutur Widodo.

Dari sisi operasional, kenaikan harga BBM telah meningkatkan kebutuhan biaya bahan bakar secara signifikan. Sebelum harga Pertamina Dex naik, biaya BBM untuk satu armada tangki berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari untuk melayani wilayah yang relatif dekat. Kini kebutuhan anggaran meningkat hingga sekitar Rp500 ribu per hari.

Dalam kondisi normal, satu armada mampu melakukan hingga tiga kali dropping air bersih setiap hari. Namun, jumlah tersebut dapat berkurang apabila lokasi tujuan berada jauh dari sumber air karena konsumsi BBM menjadi lebih besar.

“Kalau jalannya jauh tentu kebutuhan BBM juga lebih banyak. Itu yang menjadi tantangan ketika harga BBM naik,” pungkas Widodo.

El Nyunanto