blank
Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto saat menyampaikan meteri pelestarian budaya ukir. Foto: Septiana W

JEPARA (SUARABARU.ID) – Bupati Jepara Witiarso Utomo memberikan apresiasi terhadap langkah Kantor Kemenag Kabupaten Jepara yang akan memasukkan kurikulum seni ukir di semua madrasah pada tahun ajaran 2026  2027. Bahkan ia menyebut sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan seni ukir sebagai kearifan budaya lokal  Jepara yang telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Hal tersebut diungkapkan Witiarso Utomo saat memberikan sambutan pada acara Penandatanganan Nota Kesepakatan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan di Pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama Senin (29/6-2026). Penandatangan MOU tersebut dilakukan Bupati Witarso Utomo bersama Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jepara Akhsan Muhyiddin.

blank
Kus Haryadi saat menyampaikan meteri implementasi implementasi Kokurikuler Seni Ukir. Foto: Septiana W

Lebih lanjut Witiarso Utomo menjelaskan, langkah Kantor Kemenag Kabupaten Jepara ini selaras dengan visi Jepara Mulus yang menempatkan seni ukir sebagai salah satu prioritas. “Bentuknya diantaranya melalui Kartu Mebel Jepara untuk para pengukir dengan mendapatkan bantuan bea siswa bagi putra putrinya dan juga BPJS. Ini salah satu bentuk program untuk  meningkatkan kesejahteraan pengukir Jepara,” ujarnya

Dalam acara yang berlangsung di  aula 1 Kantor Kemenag Jepara ini juga  dilakukan sosialisasi kurikulum Seni Ukir dan Pengelolaan Sampah di Madrasah se Kabupaten Jepara. Sosialisasi kurikulum seni ukir  ini menghadirkan narasumber Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto dan Kus Haryadi, praktisi pendidikan, penulis buku seni ukir dan  juga pembina Yayasan Pelestari Ukir Jepara. Sedangkan untuk materi pengelolaan sampah diberikan  langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara Rini Patmini.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jepara, Akhsan Muhyiddin saat mengantarkan sosialisasi kurikulum seni ukir menegaskan pentingnya menjaga kelestarian seni ukir. “Harapan saya mulai tahun ajaran 2026 / 2027 akan bisa diterapkan di semua tingkatan madrasah dan RA di Jepara,” tegasnya

blank
Peserta sosialisasi kurikulum Seni Ukir di Kantor Kemenag Jepara. Foto: Septiana W

Ketua Umum  Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto menilai rencana Kantor Kemenag untuk yang akan menerapkan kurikulum seni ukir sebagai langkah strategis  di tengah-tengah semakin rendahnya minat siswa terhadap seni ukir. “Kami tentu menyambut hangat dan siap bekerjasama untuk  mempersiapkan para guru agar memiliki ketrampilan mengajar seni ukir,” ujarnya. Sebab pembelajaran yang efektif diperlukan praktik secara langsung, tambah Hadi

Sementara Kus Haryadi yang menyampaikan materi implementasi Kokurikuler Seni Ukir menjelaskan, kebijakan insersi seni ukir dalam pembelajaran di kurikulum nasional yang  dirasa paling efektif adalah melalui kokurikuler. “Pembelajaran kokurikuler pelaksanaannya dirasa paling fleksibel sesuai dengan potensi dan kondisi madrasah,” ujar Kus Haryadi

Ia menjelaskan, kokurikuler ditujukan untuk penguatan pendidikan karakter murid atau yang disebut dengan dimensi profil lulusan. “Namun dengan memasukkan tema seni ukir dapat diambil manfaatnya murid menjadi paham dan terampil dalam bidang sen ukir,” terangnya

Ada beberapa kendala yang saat ini dihadapi madrasah terutama terkait dengan materi yang akan diajarkan. “Untuk itu dalam surat edaran Bupati Jepara disebutkan referensi materi untuk setiap jenjang dan setiap kelas. Kemudian dari surat edaran itu madrasah dapat mencari materinya dari buku pelajaran kokurikuler dan berbagai referensi yang relevan,” pungkas Kus Haryadi

Septiana Wibowo