blank
Fasilitator bersama peserta Deksi Desa Petekeyan. Foto: Tim DKK

JEPARA (SUARABARU.ID) – – Pemerintah Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, resmi membentuk Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) pada Senin (22/6/2026). Pembentukan DEKSI menjadi Solusi memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Petekeyan tersebut dihadiri jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Pemerintah Desa Petekeyan, Puskesmas Tahunan, Badan Perwakilan Desa, ketua RT, Ketua RW. kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur masyarakat desa Melalui pembentukan DEKSI, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami dampak perubahan iklim, tetapi juga mampu melakukan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi secara mandiri.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, SKM., S.Kep., MMKes., MM, mengatakan perubahan iklim bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan telah menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Menurutnya, perubahan pola cuaca yang semakin ekstrem dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit apabila tidak diantisipasi bersama.  “Pemerintah mendorong terbentuknya Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI), yaitu desa atau kelurahan yang mampu melindungi kesehatan masyarakat melalui upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Lingkungan sehat adalah investasi terbaik untuk kesehatan generasi hari ini dan masa depan,” ujarnya.

blank
Fasilitator Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, memfasilitasi Diskusi. FotoL Tim DKK

Masyarakat saat ini mulai merasakan perubahan musim yang tidak lagi dapat diprediksi seperti sebelumnya. Curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat berpotensi memicu banjir, sedangkan musim kemarau yang lebih panjang meningkatkan ancaman kekeringan dan keterbatasan air bersih. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko penyakit demam berdarah, diare, infeksi saluran pernapasan akut, penyakit akibat paparan panas, hingga gangguan gizi. Imbuhnya

Petinggi Desa Petekeyan, Rohman, S.Si., M.MPd., menyampaikan komitmen pemerintah desa untuk menjadikan Petekeyan sebagai desa yang adaptif terhadap perubahan iklim. Berbagai upaya berbasis masyarakat telah dilaksanakan dan akan terus diperkuat melalui wadah DEKSI.  “Kami siap menjadi desa yang adaptif terhadap perubahan iklim. Berbagai kegiatan seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, gotong royong, pengelolaan lingkungan, serta peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat telah berjalan dan akan terus kami tingkatkan bersama masyarakat,” katanya.

Rohman menambahkan, keberhasilan DEKSI tidak hanya ditentukan oleh pemerintah desa, tetapi sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan membangun budaya hidup sehat.

blank
Petinggi Desa Petekeyan, Rohman, S.Si., M.MPd., menyampaikan komitmen pemerintah desa untuk menjadikan Petekeyan sebagai desa yang adaptif terhadap perubahan. Foto: Tim DKK

Sementara itu, Sanitarian Puskesmas Tahunan, Hidayanti, A.Md.KL, menjelaskan bahwa pembentukan DEKSI bertujuan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif. “Tujuan DEKSI adalah menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan berkelanjutan, mengurangi risiko penyakit akibat perubahan iklim, sekaligus mendorong keterlibatan aktif seluruh masyarakat dalam menjaga lingkungan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan iklim harus disikapi melalui perubahan perilaku masyarakat sehari-hari, karena upaya pencegahan selalu lebih efektif dibandingkan penanganan ketika dampak telah terjadi.

Disis lain , Sutrisno, SKM , Sanitarian Puskesmas Tahunan menambahkan bahwa proses pembentukan DEKSI di Desa Petekeyan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga menggunakan pendekatan Participatory Toolkit (ParticipatoryKIT) . Metode tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam mengidentifikasi permasalahan kesehatan lingkungan, menganalisis potensi risiko akibat perubahan iklim, hingga menyusun rencana aksi yang sesuai dengan kondisi desa.

blank
Peserta menggali permasalahan desa dengan Partisipatory KIT

“Melalui pendekatan ParticipatoryKIT , masyarakat tidak hanya menjadi peserta sosialisasi, tetapi ikut terlibat aktif memetakan persoalan lingkungan, menentukan prioritas masalah, dan menyusun solusi yang dapat dilaksanakan bersama. Dengan cara ini, rasa kepemilikan terhadap program akan tumbuh sehingga penghentian DEKSI lebih terjamin,” jelas Sutrisno.

Menurutnya, pendekatan partisipatif menjadi salah satu kunci keberhasilan program kesehatan masyarakat karena keputusan yang dihasilkan berasal dari kebutuhan nyata warga. Melalui kelompok diskusi, pemetaan kondisi lingkungan, identifikasi potensi ancaman kesehatan, hingga penyusunan komitmen bersama, masyarakat didorong menjadi penggerak perubahan utama di tingkat desa.

blank

Dalam sesi edukasi, fasilitator Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, mengajak masyarakat memulai aksi nyata dari lingkungan rumah masing-masing. Menurutnya, langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak besar terhadap kualitas lingkungan.

Ia menguraikan sejumlah tindakan yang dapat dilakukan masyarakat, antara lain memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang sampah, membuat kompos, menggunakan jamban sehat, menjaga saluran air tetap bersih, menghemat penggunaan air dan energi, memperbanyak penghijauan melalui penanaman pohon, hingga menerapkan PSN 3M Plus dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Perubahan iklim tidak dapat diatasi pemerintah sendirian. Keberhasilan DEKSI sangat bergantung pada semangat gotong royong seluruh masyarakat. Mulailah dari langkah kecil seperti memilah sampah, mengurangi plastik, tidak membakar sampah sembarangan, menanam pohon, dan menjaga kebersihan lingkungan setiap hari,” tegasnya.

Fasilitator Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara lainnya, Rukmawati, menambahkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara bersama-sama. “Jika setiap keluarga melakukan perubahan kecil, maka seluruh desa akan menjadi lebih sehat, lebih bersih, dan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim,” ujarnya.

Dalam pertemuan ini juga membentuk Tim Kerja Masyarakat (TKM) sebagai motor penggerak pelaksanaan program di tingkat desa. Tim tersebut akan bertugas mengoordinasikan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, mulai dari penyusunan rencana kerja, edukasi kesehatan lingkungan, hingga pelaksanaan aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Berdasarkan hasil musyawarah, Abdul Afif dipercaya sebagai Ketua TKM DEKSI Desa Petekeyan dengan didampingi Jamilah sebagai Wakil Ketua. Posisi Sekretaris diamanahkan kepada Iin Safitri bersama Wakil Sekretaris Nur Hamidah, sedangkan Bendahara dijabat Sokib dengan Wakil Bendahara Muhayaroh.

Selain kepengurusan inti, dibentuk pula tiga unit kerja sebagai pelaksana teknis program. Unit Pengadaan Sarana dan Prasarana diperkuat oleh Amin Syuhada, Muhtofa, dan Nur Sukayanti. Unit Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) diisi oleh Muslikhah, Khusnul Hidayah, dan Andayani, sementara Unit Pemberdayaan Masyarakat diperkuat Latim, Suprapto, dan Mustain. Pembagian tugas tersebut diharapkan mampu memastikan setiap program DEKSI berjalan secara terarah, melibatkan seluruh unsur masyarakat, serta berkelanjutan.

Ketua TKM DEKSI Desa Petekeyan terpilih, Abdul Afif, menegaskan bahwa kepengurusan yang baru terbentuk tidak akan berhenti pada pembentukan organisasi semata. Dalam waktu dekat, tim akan segera menyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM) sebagai pedoman pelaksanaan berbagai kegiatan prioritas di desa.

“Setelah kepengurusan terbentuk, kami akan langsung bergerak menyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM) bersama seluruh unsur desa. Rencana ini akan menjadi panduan pelaksanaan kegiatan seperti gotong royong, PSN 3M Plus, pengelolaan sampah, penghijauan, edukasi PHBS, hingga berbagai upaya adaptasi perubahan iklim yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Harapan kami, DEKSI benar-benar menjadi gerakan bersama, bukan hanya program sesaat,” ujar Abdul Afif.

Hadepe