KUDUS (SUARABARU.ID) – Malam Anugerah Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 menjadi puncak perhelatan Festival Film Pendek Nasional bertema “Scene The Unseen” yang digelar Sabtu malam di Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR) Kudus (20/6/2026). Rangkaian acara dibuka oleh tari Caping Kalo sebagai representasi identitas kota Kudus.

FFFAB 2026 tidak hanya menjadi ajang pemberian penghargaan bagi film-film terbaik. Malam ini juga menjadi moment lauching logo Sineas.id.

Lebih dari itu, ini menjadi ruang bertemunya sineas muda dari berbagai daerah untuk membangun budaya berkarya dan memperkuat ekosistem perfilman Indonesia.
Puncak kegiatan yang digelar menjadi penanda puncak rangkaian festival yang tahun ini berhasil menarik perhatian peserta dari berbagai penjuru Indonesia. Tercatat lebih dari 90 film masuk dalam proses seleksi yang dilakukan GST Production selaku penyelenggara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 film terbaik lolos kurasi dan diputar selama festival sebelum akhirnya diperebutkan dalam malam penghargaan.
Asa Jatmiko Founder GST Production mengatakan antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa ruang kreatif bagi sineas muda semakin berkembang. Menurutnya, FFAB lahir dengan harapan mampu mengangkat karya-karya dari daerah agar memiliki kesempatan dinikmati masyarakat yang lebih luas.
“Harapannya, film-film daerah bisa berkembang menjadi karya yang dinikmati masyarakat secara nasional, seperti film Tilik. Ke depan, kita ingin bersama-sama membangun budaya berkarya agar semakin baik dan semakin kuat,” ujar Asa.
Ia menambahkan, meski berpusat di Kudus, Festival Film Anak Bangsa kini telah mendapat atensi dan partisipasi sineas dari berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut menjadi motivasi bagi penyelenggara untuk terus menghadirkan festival yang berkualitas sekaligus menjadi ruang belajar bagi para pembuat film muda.
Romo Simon Petrus Sumargo sebagai tuan rumah RKBBR menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta yang telah menghadirkan karya dengan beragam perspektif.
Romo Simon menilai festival semacam ini memiliki nilai penting dalam membangun ruang dialog melalui karya audio visual. Film, menurutnya, mampu menjadi media yang menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, hingga realitas sosial dengan cara yang lebih dekat kepada masyarakat.
.Sementara itu, Faradina Mufti salah seorang dewan juri, mengaku proses penilaian bukanlah pekerjaan yang mudah. Menurut aktris dan pegiat film tersebut, seluruh film yang masuk ke tahap final memiliki kualitas dan kekuatan cerita yang mengesankan.
“Tidak mudah memberikan penilaian karena karya-karya yang masuk benar-benar luar biasa. Kami sangat antusias menyaksikan 30 film hasil kurasi, yang masing-masing memiliki pendekatan, gagasan, dan penyampaian cerita yang berbeda,” ujarnya.
Melalui FFAB 2026, para sineas muda tidak hanya berkompetisi memperebutkan penghargaan, tetapi juga membangun jejaring, bertukar pengalaman, serta memperkaya cara pandang dalam berkarya. Kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa perfilman independen Indonesia terus tumbuh dan memiliki masa depan yang menjanjikan.
Penyelenggara berharap Festival Film Anak Bangsa dapat terus menjadi agenda tahunan yang melahirkan karya-karya berkualitas dari daerah, sekaligus membuka jalan agar film-film lokal mampu menembus panggung nasional bahkan internasional.
Septiana W













