Oleh : H. Hisyam Zamroni
Pendahuluan
Nahdlatul Ulama telah memasuki abad kedua perjalanan sejarahnya. Sejak didirikan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926, NU tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi pilar kebangsaan, penjaga tradisi Islam Nusantara, benteng moderasi beragama, dan penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat.
Memasuki era global yang ditandai oleh revolusi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan krisis moral kemanusiaan, NU dituntut untuk melampaui peran tradisionalnya. Muktamar mendatang harus menjadi forum perumusan arah baru yang mampu mengantarkan NU menjadi kekuatan peradaban dunia. Muktamar tidak boleh hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum membangun konsensus besar tentang masa depan umat, bangsa, dan dunia.
Oleh karena itu, diperlukan Garis Besar Haluan Organisasi Nahdlatul Ulama (GBHONU) yang memuat visi, misi, strategi, dan program prioritas organisasi untuk 25 hingga 50 tahun ke depan.
Visi Besar NU Abad Kedua
“Terwujudnya Nahdlatul Ulama sebagai pusat peradaban Islam Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyyah yang mampu memimpin terbangunnya masyarakat dunia yang adil, damai, sejahtera, berbudaya, berilmu pengetahuan, dan berkeadaban.”
Visi tersebut mengandung makna bahwa NU harus menjadi pusat pengembangan pemikiran Islam moderat dunia, penggerak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelopor perdamaian global, penguat ekonomi umat berbasis keadilan sosial, penjaga budaya dan peradaban Nusantara, mitra strategis negara dalam pembangunan nasional, dan kekuatan moral dunia dalam menghadapi krisis kemanusiaan.
Sedangkan Misi Strategis NU adalah membangun kader peradaban. NU harus melahirkan kader-kader yang mampu menjadi pemimpin di berbagai sektor strategis.
Pertama, target kaderisasi tidak lagi sebatas mencetak pengurus organisasi, tetapi mencetak: ulama bertaraf internasional, akademisi dan ilmuwan, Profesional dan teknokrat, pengusaha dan investor, politikus berintegritas, diplomat dan pemimpin global, aktivis sosial kemanusiaan.
Kaderisasi harus dimulai dari tingkat ranting hingga pusat melalui sistem pendidikan kader yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Kedua; Mewujudkan Tata Kelola Organisasi Modern
Besarnya NU memerlukan tata kelola yang profesional dan berbasis teknologi.
Penguatan organisasi dilakukan melalui: digitalisasi administrasi nasional NU, sistem database jamaah dan kader,standar operasional organisasi nasional, audit organisasi berkala, sistem pengukuran kinerja pengurus dan penguatan kapasitas kepemimpinan.
Struktur PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, PRNU, hingga PARNU harus terhubung dalam satu sistem manajemen organisasi yang modern dan efisien.
Penguatan Struktur Organisasi Berjenjang
Tingkat PBNU berfungsi sebagai: perumus kebijakan nasional, pusat kajian strategis, pusat diplomasi internasional. pengendali program nasional.
Tingkat PWNU berfungsi sebagai: koordinator pembangunan wilayah, inkubator kader dan ekonomi daerah, pengawas implementasi kebijakan PBNU.
Tingkat PCNU menjadi pusat pelayanan masyarakat, penggerak pendidikan dan ekonomi lokal, penghubung antara kebijakan dan pelaksanaan lapangan.
Tingkat MWCNU menjadi: basis penguatan jamaah, pusat kaderisasi kecamatan., penggerak ekonomi mikro.
Tingkat Ranting dan Anak Ranting menjadi: garda terdepan pelayanan umat, basis dakwah dan pendidikan keluarga, sentra pemberdayaan masyarakat desa,
Kemandirian Ekonomi Organisasi
Tantangan terbesar organisasi besar adalah kemandirian pembiayaan.
Karena itu, NU harus membangun “Ekosistem Ekonomi Nahdliyin” yang meliputi:
Sektor Keuangan, Bank syariah, BMT dan koperasi, Dana abadi NU, Wakaf produktif.
Sektor Riil :Pertanian modern, perkebunan, perikanan, industri halal, properti. energi terbarukan.
Sektor Digital: Marketplace Nahdliyin, Startup berbasis pesantren, Ekonomi kreatif dan Artificial Intelligence berbasis nilai Islam.
Target jangka panjangnya adalah setiap tingkatan organisasi memiliki sumber pendapatan mandiri sehingga tidak bergantung pada bantuan eksternal.
Revolusi Pendidikan NU
Pendidikan harus menjadi prioritas utama abad kedua NU.
Target tahun 2050: Pesantren unggul di setiap kabupaten, Universitas NU bertaraf internasional, Pusat riset teknologi dan sains, Beasiswa kader global., Digitalisasi pendidikan NU.
Integrasi antara ilmu agama dan ilmu modern menjadi ciri khas pendidikan NU masa depan.
Prinsipnya adalah: “Al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah”, memelihara tradisi yang baik dan mengambil inovasi yang lebih baik.
Penguatan Layanan Kesehatan
NU harus menjadi gerakan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia.
Program prioritas: Rumah sakit NU di setiap provinsi dan Kabupaten/Kota, Klinik NU di setiap Kecamatan, program kesehatan ibu dan anak. pencegahan stunting, gerakan hidup sehat berbasis masjid dan pesantren.
Kesehatan merupakan investasi sumber daya manusia yang menentukan kualitas bangsa.
Kesejahteraan Keluarga Nahdliyin
Keluarga merupakan fondasi peradaban.
Program strategis Ketahanan keluarga, pendidikan parenting. perlindungan perempuan dan anak, .pengentasan kemiskinan ekstrem, pemberdayaan ekonomi keluarga.
Ukuran keberhasilan NU bukan hanya banyaknya anggota, tetapi meningkatnya kualitas hidup warga Nahdliyin.
Kebudayaan sebagai Pilar Peradaban
NU lahir dari rahim budaya Nusantara.
Karena itu NU harus menjadi pelindung warisan budaya bangsa, pengembang seni Islam Nusantara,pusat literasi dan peradaban, pelopor dialog budaya dunia.
Tradisi tahlil, maulid, shalawat, pesantren, seni hadrah, sastra pesantren, dan kearifan lokal merupakan aset peradaban yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Diplomasi Peradaban Dunia
Abad kedua NU harus ditandai dengan peran internasional yang semakin kuat.
NU perlu membangun: pusat studi perdamaian dunia, forum ulama internasional, diplomasi lintas agama, gerakan kemanusiaan global dan jaringan pesantren dunia.
NU memiliki modal sosial dan moral untuk menjadi rujukan Islam moderat dunia.
Garis Besar Program Kerja Muktamar NU ke – 35
Sebelum memilih kepemimpinan baru, muktamar hendaknya menetapkan:
Program Prioritas 5 Tahun
- Digitalisasi organisasi nasional.
- Penguatan kaderisasi.
- Konsolidasi ekonomi jamaah.
- Modernisasi pendidikan.
- Penguatan layanan kesehatan masyarakat
Program Prioritas 10 Tahun
- Dana abadi NU nasional.
- Universitas NU berkelas dunia.
- Rumah sakit NU di seluruh provinsi dan Kabupaten/kota
- Jaringan ekonomi Nahdliyin nasional.
Program Prioritas 25 Tahun
- Pusat peradaban Islam dunia.
- Jaringan pesantren internasional.
- Kemandirian ekonomi organisasi.
- Kepemimpinan global kader NU.
Penutup
Muktamar NU mendatang harus menjadi titik tolak lahirnya arah baru perjuangan organisasi. Dari forum tertinggi ini harus lahir visi besar yang melampaui kepentingan jangka pendek, melampaui pergantian kepemimpinan, dan melampaui batas-batas geografis Indonesia.
NU memiliki modal sejarah, jaringan sosial, kekuatan budaya, otoritas keagamaan, dan sumber daya manusia yang luar biasa. Jika seluruh potensi tersebut dapat diorganisir dengan baik melalui tata kelola yang profesional, kaderisasi yang sistematis, kemandirian ekonomi yang kuat, pendidikan yang unggul, pelayanan kesehatan yang bermutu, serta diplomasi peradaban yang visioner, maka abad kedua Nahdlatul Ulama akan menjadi abad kebangkitan peradaban Islam Nusantara yang memberi manfaat bagi Indonesia dan dunia.
Menjaga tradisi, membangun inovasi, memimpin peradaban
Penulis adalah Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara













