SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Dalam pemahaman Kejawen, Sura yang menjadi bulan awal Kalender Tahun Jawa, disebutkan sebagai bulan sakrai. Menjadi bulan untuk menjalani laku spiritual tirakat, dalam upaya memohon ridho perlindungan dan anugerah keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Itu dilakukan dengan menghindari untuk menggelar pesta suka ria, melakukan perjalanan jauh dan tidak menggelar hajatan. Dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna halaman 21, Bulan Sura dinyatakan tidak baik untuk mengijabkan pengantin. Karena memberikan aura tukar padu (cekcok) dan nemu kasusahan (menemukan derita susah).
Betapa Sura ditempatkan sebagai bulan sakral untuk laku tirakat, Keraton Kasultanan Yogyakarta, setiap menyambut Bulan Sura, selalu menggelar prosesi kirab pusaka Mubeng Beteng (mengelilingi pagar tembok keraton). Demikian halnya dengan Keraton Kasunanan dan Parja Mangkunegaran di Surakarta.
Dari Yogyakarta diperoleh informasi, bahwa Ngarso Dalem HB X telah menetapkan Rabu Kliwon dinihari (17/6/26) lusa, untuk melakukan tirakat jalan kaki Mubeng Beteng atau mengelilingi pagar tembok (beteng) keraton, disertai tapa bisu (pantang berbicara). Menempuh jarak sekitar 5 KM start dan finish dari Pancaniti Kamandungan Lor. Routenya melewati Jalan (Jl) Rotowijayan, Jl Pekapalan, Jl Kauman, Jl Agus Salim, Jl Mayjend Sutoyo, Jl Brigjen Katamso dan Jl Ibu Ruswa. Ini akan berlangsung sampai Pukul 02.30 dinihari.
Untuk prosesi kirab pusaka Praja Mangkunegaran Surakarta, akan digelar Selasa malam (16/6/26). Tradisi menyambut Tanggal 1 Sura ini, memberikan makna tirakat dalam tiga hal. Pertama, makna Atita atau melepas (selamat tinggal ) tahun yang telah berlalu. Kedua, Atiki, berlangsung mulai tengah malam, dalam menyambut kehadiran sepenuhnya waktu Tahun Baru 1960 Jawa (J) yang telah tiba. Ketiga, Anagata, yakni untuk menyambut waktu akan datang, dengan menghaturkan sembah catur, demi memperoleh anugerah laras ati (ketenangan).
Terlepas dari konflik kepemimpinan dua raja Paku Buwono (PB) XIV (Gusti Purboyo dan Gusti Hangabehi), Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat, Selasa Wage malam Rebo Kliwon (17/6/26) akan menggelar prosesi kirab pusaka Tanggal 1 Sura Tahun Be 1960 (2026 M). Kirab pusaka Keraton Surakarta menyertakan pusaka Kerbau (Kebo) bule (warna putih kekuningan). Ini akan mengambil start dan finish dari Kamandungan, menempuh jarak sekitar 8 KM.
Abdi Dalem
Laku tirakat mubeng beteng di Yogyakarta dan kirab pusaka Keraton Kasunanan serta Praja Mangkunegaran di Surakarta, akan dilakukan oleh ribuan peserta. Mereka terdiri para Abdi Dalem dan masyarakat. Selama perjalanan kirab, mereka akan menjalani tapa bisu. Sekaligus sebagai bentuk refleksi diri, demi menggapai keheningan dengan senantiasa memanjatkan doa kepada Gusti Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, penjelasan Sura sebagai bulan istimewa dalam Kalender Jawa, dituliskan dalam Ensiklopedi Kejawen, Buku Adat Tata Cara Jawa, karya Drs R Harmanta Bratasiswara (Yayasan Surya Sumirat, Jakarta 2000). Yakni pada halaman 755-756.
Tradisi menyambut Tahun Baru Jawa, disebut sebagai Suran, ditandai dengan tirakat wungon (pantang tidur) dan tapa bisu demi laku sipritual untuk mengasah rasa batin. Untuk ini, warga ada yang menjalani tirakat sesaji harga (di puncak gunung) semedi ke pesisir laut, atau laku kungkum (berendam) di sungai.
Adalah Raja Mataram Islam Tanha Jawa, Sultan Agung, dalam mempersatukan rakyatnya telah menciptakan Kalender Jawa versi Mataram Islam Sultan Agung (MISA). Yakni memadukan Tahun Saka (Hindu) yang berpedoman pada peredaran matahari (Syamsiah), dan Tahun Hijriyah(Islam) yang memakai pedoman peredaran bulan (Qomariyah).
Itu dimulai dari Tanggal 1 Sura Tahun 1555 Saka, yang bertepatan dengan Tanggal 1 Muharam Tahun 1043 Hijriyah. Ini terjadi pada Tanggal 8 Juli 1633 Masehi (M). Sejak itu, Praja Mataram Islam Tanah Jawa, menetapkan Tanggal 1 Sura sebagai Tahun Jawa. Yang senantiasa diperingati sebagai momentum Suran, untuk menandai datangnya Tahun Baru Jawa MISA. Yang itu disertai kegiatan spiritual dengan menjalani laku tirakat yang bersifat prihatin, untuk mawas diri dan pengendalian diri, yang sinergi dengan nilai sakral Bulan Sura.(Bambang Pur)











